Lahan rencana pembangunan konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) di kawasan TPA Putri Cempo, Mojosongo, Jebres, Solo, Jumat (23/11/2018). (Solopos-NIcolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Pelaksana Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo Solo, PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP), memperkirakan peletakan batu pertama pembangunan kontruksi PLTSa dilakukan September mendatang.

Perkiraan itu berasal dari perhitungan setelah proyek strategis itu mendapat kepastian pendanaan dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Persero.

Direktur PT SCMPP, Elan Syuherlan, mengatakan bulan ini pihaknya fokus mempersiapkan tahapan akhir dari financial close, yakni penandatanganan kesepakatan investasi.

“Ini jawaban dari rapat terbatas (ratas) yang dilakukan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Setelah ratas, berbagai kementerian mendorong agar kendala yang dihadapi PLTSa itu bisa teratasi. Karena Solo persoalannya ada pada pendanaan, pendampingannya dari Kementerian Keuangan. Sampai pada keputusan PT SMI yang menjadi investor tunggal,” kata dia, kepada wartawan, belum lama ini.

Elan Syuherlan memprediksi apabila pembangunan dimulai pada September mendatang dengan masa pengerjaan 1,5 tahun maka sebelum akhir 2020, PLTSa sudah bisa beroperasi. Waktu tersebut lebih cepat dibandingkan target semula pada September 2021.

“Pembangunan kontruksi selama 1,5 tahun itu paling lama ya. Kami boleh dibilang cepat karena tenggat waktu berburu pendanaan harusnya Maret 2020 selesai, kami Agustus 2019 sudah rampung,” jelasnya.

Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo, Dono Tumpo, mengatakan setelah kontruksi PLTSa tahap pertama rampung akan mengolah 250 ton sampah menjadi energi listrik sebesar 5 megawatt (MW) per harinya. Jumlah itu setara dengan sampah yang dihasilkan warga Kota Bengawan dalam sehari.

“Kalau produksi sampahnya kurang dari itu, PLTSa bisa mengambil sampah lama. Rencana semula kalau produksinya 10 MW itu kan mengolah 70 persen sampah baru, 30 persen sampah lama. Tapi karena tahap pertama 5 MW, sampah baru nanti diolah langsung semuanya,” ucap Dono.

Kendati begitu, ia menyebut sampah-sampah lama yang saat ini menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Putri Cempo bisa diolah menjadi biochar atau arang karbon. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten