Pemudik di Klaten Tembus 24.784 Orang, Ini Rinciannya
PEMUDIK SEPEDA MOTOR -- Pemudik yang menggunakan sepeda motor melintasi kawasan pusat Kota Klaten, Minggu (28/8/2011). (JIBI/SOLOPOS/Muhammad Khamdi)

Solopos.com, KLATEN – Jumlah pemudik yang pulang kampung ke Kecamatan Bayat menembus angka 3.168 orang, selama kurun waktu Jumat (27/3/2020) hingga Senin (25/5/2020). Di sisi lain, jumlah pemudik yang pulang ke Kabupaten Bersinar selama kurun waktu tersebut mencapai 24.000-an orang.

Enggan Tilang Pemudik, Satlantas Klaten: Mereka Mau Putar Balik

Berdasarkan data yang dihimpun Solopos, jumlah pemudik yang menembus angka lebih dari 3.000-an orang di Bayat itu menjadi pencapaian tertinggi jumlah pemudiknya dibandingkan kecamatan lain di Klaten.

Dari 26 Kecamatan di Klaten, setelah Bayat, Kecamatan Trucuk menempati urutan kedua, yakni 2.862 orang. Jumlah tersebut terhitung hingga, Jumat (22/5/2020). Urutan ketiga ditempati Kecamatan Cawas (2.100 orang). Urutan keempat ditempati Karangdowo mencapai 1.503 orang.

Setelah itu berturut-turut Wedi (1.149 orang), Jogonalan (1.096 orang), Jatinom (1.021 orang). Sedangkan jumlah pemudik paling sedikit di Klaten berada di Kecamatan Kemalang, yakni 299 orang.

Kecamatan, Jumlah (Orang)

  1. Klaten Selatan, 814
  2. Ngawen, 937
  3. Cawas, 2.100
  4. Wonosari, 517
  5. Kemalang, 299
  6. Karangdowo, 1.503
  7. Polanharjo, 651
  8. Kebonarum, 315
  9. Klaten Tengah, 364
  10. Prambanan, 901
  11. Jogonalan, 1.096
  12. Kalikotes, 989
  13. Manisrenggo, 423
  14. Karangnongko, 389
  15. Ceper, 728
  16. Pedan, 648
  17. Jatinom, 1.021
  18. Delanggu, 384
  19. Trucuk, 2.862
  20. Gantiwarno, 472
  21. Tulung, 871
  22. Wedi, 1.149
  23. Bayat, 3.131
  24. Juwiring, 829
  25. Klaten Utara, 538
  26. Karanganom, 817

Arus Balik Dilarang, Ini Cara Kemenhub Cegah Pemudik Kembali ke Jakarta

Pemudik Klaten Dipantau

“Jumlah pemudik di Bayat memang mencapai 3.168 orang. Kami dari Gugus Tugas Penanganan Pencegahan Covid-19 sudah berkoordinasi dengan Gusgas PP Covid-19 hingga tingkat desa dan RW. Intinya, masing-masing pemudik itu harus menaati imbauan dari pemerintah, yakni melakukan isolasi mandiri selama 14 hari sejak kedatangannya di Kecamatan Bayat [harus lapor ke Gusgas PP Covid-19 di tingkat desa dan RW]. Jika ada yang batuk, pilek, demam, sesak nafas, dan sakit tenggorokan segera periksa ke Puskesmas,” kata Pelaksana Tugas (PLt) Camat Bayat, Kelik, kepada Solopos, Senin (25/5).

Kelik mengatakan Gusgas PP Covid-19 selalu berkoordinasi degan Gusgas PP Covid-19 tingkat desa dan RW. Pemantauan juga mencakup pengawasan terhadap orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Di samping itu saling berkoordinasi memastikan pemberian bantuan paket sembako ke warga terdampak Covid-19 di Kecamatan Bayat.

Status KLB Corona Kota Solo Dievaluasi Pekan Ini, Lanjut Atau Dicabut?

“Protokol pencegahan Covid-19 terus disampaikan ke seluruh elemen masyarakat di Bayat. Seluruh desa di Kecamatan Bayat juga sudah melakukan pengadaan masker untuk warganya. Pembagian masker juga menjangkau para pedagang pasar dan pengendara kendaraan yang lewat [di jalan utama di Bayat],” katanya.

Terpisah, Kepala Terminal Tipe A Ir. Soekarno Klaten, Marjono, mengatakan jumlah pemudik yang menumpang bus malam turun di terminal setempat sempat mencapai 11 orang memasuki H-1 Lebaran. Tapi, jumlah itu mencapai 0 penumpang saat Lebaran 2020.

“Secara umum, jumlah pemudik yang turun di terminal [kurun waktu 16 Maret 2020-24 Mei 2020] mencapai 1.691 orang. Di kurun waktu yang sama, jumlah penumpang yang naik bus malam di terminal mencapai 2.428 orang. Setiap kali ada penumpang yang turun di terminal, kami langsung koordinasikan dengan anggota polisi agar disampaikan ke Gusgas PP Covid-19 di tingkat kecamatan atau pun desa/RW [agar pemudik mematuhi imbauan mengisolasi diri di rumahnya masing-masing selama 14 hari],” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho