Kondisi tempuran Kali Samin dan Sungai Bengawan Solo, Kamis (31/10). (Istimewa/Perumda Toya Wening)

Solopos.com, SOLO -- Pakar Lingkungan Hidup dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prabang Setyono, menyebut polutan yang mencemari Sungai Bengawan Solo sudah mengendap atau tersedimentasi di dasar sungai.

Hal itu ditandai banyaknya ikan sapu-sapu yang mati. Ikan sapu-sapu habitatnya di dasar sungai. Jika ikan-ikan itu mati artinya pencemaran sungai itu sudah mengendap di dasar sungai.

Agregat bahan pencemarannya sudah tidak di permukaan lagi tapi sudah tersedimentasi ke dasar sungai yang merupakan habitat ikan sapu-sapu tersebut.

Gamelan Ditabuh, Sekaten Solo Dimulai

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Sabtu (2/11/2019) siang, di sekitar saluran intake IPA Jurug, tampak puluhan bangkai ikan yang tersangkut eceng gondok. Dari jenis ikan air tawar yang tampak, ikan sapu-sapu turut menjadi korban pencemaran limbah alkohol.

Padahal, ikan jenis ini menjadi indikator kadar pencemaran sungai. Ikan yang juga disebut pembersih kaca itu bisa hidup di lingkungan yang ikan air tawar lain tak bisa hidup.

“Hal tersebut menandakan bahan pencemar sungainya tidak melalui proses IPAL [Instalasi Pengolah Air Limbah] sebab jika melalui IPAL pasti terbentuknya agregat bisa dicegah sehingga outletnya berupa bahan cair yang larut ataupun terbawa aliran permukaan,” ucapnya, Sabtu.

3 Dekade Absen, Akhirnya Solo Raih Juara Bintang Radio 2019

Hipotesis lain, sambung Prabang, bisa juga kandungan oksigen terlarutnya terjadi deplesi atau pengurangan secara drastis sehingga kondisi oksigen terlarutnya di bawah sangat miskin yang menyebabkan ikan sapu-sapu mati.

Deplesi oksigen terjadi manakala Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) sungai sangat tinggi. Kadar COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat dalam air secara kimia.

Sementara BOD adalah jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air.

Pembalap Indonesia Afridza Munandar Meninggal di Sirkuit Sepang Malaysia

Terpisah, operator IPA Jurug, Adit, mengaku rekan-rekannya sempat menangkap ikan yang mati akibat pencemaran tersebut, Jumat lalu. Namun saat dikonsumsi, mereka mengaku mengalami pusing.

“Ikannya masih segar karena kami tangkap Jumat pagi. Tapi, kondisi matanya membengkak seperti mau keluar. Saat digoreng, minyaknya pun langsung hitam. Mereka makan bareng-bareng tapi langsung pusing-pusing. Jadi tidak dikonsumsi lagi,” kisahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, air baku dari Sungai Bengawan Solo yang masuk ke tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perumda Air Minum Toya Wening (PDAM) Solo kembali tercemar. Akibatnya ketiga IPA itu berhenti beroperasi mulai Kamis (31/10/2019) dan Jumat (1/11/2019).

Ketiga IPA itu baru beroperasi kembali pada Sabtu (2/11/2019). Namun, PDAM masih memasok air ke pelanggan menggunakan truk tangki.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten