Optimisme di Balik Nostalgia Romansa Lokananta
Penyanyi asal Solo Elizabeth Sudira merilis lagu baru Semerdu Lokananta yang sengaja dibuat untuk kado ulang tahun Studio Lokananta. (istimewa)

Solopos.com, SOLO--Tepat pukul 16.00 WIB, Kamis (29/10/2020), kisah romansa dalam lagu Semerdu Lokananta dirilis di kanal YouTube Elizabeth Sudira. Juga sejumlah radio di Indonesia dengan waktu berbeda-beda.

Konsep video, dan suara merdu sang penyanyi sekaligus salah satu pencipta lagunya, Eliz, seolah membawa pendengar melewati lorong waktu menuju masa lalu. Potongan busananya bergaya retro, begitu juga dengan aransemen musiknya digarap dengan sentuhan era 80-an.

“Semerdu Lokananta. Suara Bisikanmu. Mendamaikan Hatiku. Kasmaran detik itu juga. Semoga debar ini terbalas segera,” begitu lirik bagian reffrein yang Eliz bawakan berulang dalam lagu.

Pertemuan dua remaja yang mulai jatuh cinta saat sama-sama mengunjungi Perum Percetakan Negara R.I. Cabang Surakarta - Lokananta di Jl A Yani, Laweyan, Solo tersebut, menjadi narasi pembangun. Perjalanan mereka dimulai dari pintu masuk Lokananta, kunjungan ke beberapa ruang museum, hingga studio utama.

Kendati demikian, lirik dalam lagu Semerdu Lokananta tak hanya menyola cinta antar sepasang kekasih. Lebih dari itu, diksi romantis yang diciptakan Eliz dan suaminya, Andrenuno, juga bisa diartikan sebagai pertemuan generasi sekarang dengan Lokananta.

Perusahaan rekaman musik (label) pertama dan satu-satunya milik negara yang menyimpan banyak arsip penting. Ribuan lagu daerah dari seluruh Indonesia, rekaman Indonesia Raya 3 Stanza, pidato-pidato IR. Soekarno, hingga master Proklamasi.

Tak heran kalau akhirnya karya keenam Eliz bersama Tiga Musik ini dirilis tepat di momen ulang tahun ke-64 Lokananta, Kamis. Maskot Solo International Performing Art (SIPA) 2019 yang juga dikenal sebagai master of ceremony (MC) tersebut ingin mengajak pendengar kembali dekat dengan Lokananta. Baik generasi lama maupun anak muda sekarang.

“Pendekatannya dengan lirik-lirik romansa agar mudah sampai ke anak muda. Tiga Musik sengaja memilih talenta millenials melalui social media sebagai model video klip untuk menarik perhatian para remaja masa kini agar mengenal sang saksi sejarah dunia audio di negeri ini, yakni Lokananta,” terang Eliz, Kamis.

Solopos Hari Ini: Waspada Akhir November

Berbuah Manis

Romansa kejayaan Lokananta yang ditawarkan Eliz dalam lagu barunya memang bukan isapan jempol belaka. Perusahaan rekaman ini sempat berada di masa keemasan pada medio 70-an hingga akhir 80-an.

Keputusan untuk beralih format dari medium piringan hitam ke kaset pada 1972 berbuah manis. Setiap bulan Lokananta mampu melepas 100.000 keping kaset di pasaran dan disambut baik oleh publik.

Perusahaan dengan nama awal Pabrik Piringan Hitam Lokananta Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Surakarta melahirkan sejumlah nama besar. Sebut saja mendiang Gesang, Sam Saimun, Buby Chen, Jack Lesmana, Didi Kempot, juga maestro keroncong Waldjinah.

Master pita reel to reel (sebelum dijadikan piringan hitam) milik mereka masih disimpan rapi digudang arsip bersama 40.000 karya musikus lain. Dari jumlah itu, lebih dari 98% sudah diselamatkan dengan proses digitalisasi.

“Sudah digitalkan, tapi dalam arti begini Mbak. Kami masih berharap ada bantuan dari pemerintah untuk mendukung penyimpanan fisik aslinya. Lokananta masih lemah dalam hal itu. Tempat ruangannya belum layak, mungkin bisa ada bantuan untuk ini. Sayang juga karena itu master aslinya,” kata Asisten Manager Marketing Lokananta, N Andi Kusuma, Kamis.

Andi mengatakan saat ini pihaknya terus melakukan inovasi untuk menyelamatkan arsip penting di Lokananta sekaligus mengenalkan Lokananta ke publik.

Salah satunya mengunggah koleksi lagu Lokananta di platform streaming. Dari puluhan ribu judul, kurang dari 200an yang sudah dipublikasikan karena terkendala pada legalitas hak cipta.

Bantuan Subsidi Upah Jadi Penolong Para Pekerja Di Tengah Pandemi

Pentas Daring

Geliat Lokananta terus dihidupkan dengan menggandeng pihak luar. Misalnya tahun lalu berkolaborasi bareng seniman Solo untuk pameran dan gelar diskusi bersama, membuka ruang outdoor untuk kegiatan konser, mengajak para musisi untuk menggelar pentas atau menggandakan kaset, dan masih banyak lagi.

Hal itu direspons positif. Jumlah penggandaan kaset pita di Lokananta bahkan mencapai 5.000-an per bulan. Kondisi tersebut membuat Andi dan tim semakin optimistis. Apalagi di masa pandemi ini ajakan kolaborasi semakin meninggi. Diawali konser amal mendiang Didi Kempot awal tahun lalu.

Setelah itu semakin banyak pihak ketiga yang menggelar pentas daring di Studio Lokananta. Lokananta dan salah satu komunitas di Solo sedang mewacanakan penggarapan konten via YouTube agar semakin dekat dengan anak muda.

Andi berharap Lokananta yang pernah diproyeksikan jadi memorabilia museum musik ini menjadi wadah pengelolaan industri kreatif.

“Lokananta sekarang sebenarnya bisa jadi publisher, dengan wujud berbeda. Dulu fisik, sekarang bisa YouTube, Spotify, dan artis-artis baru bisa dikelola. Keuntungannya Lokananta milik negara. Jadi akses birokrasinya lebih luas dari swasta. Cocoknya di pengelolaan Industri kreatif,” kata Andi saat ditanya harapan di tahun ke-64.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom