Monolog Musikal di Teater Arena TBJT Urai Kehidupan...
Pentas drama musikal Cafe De La Poste di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Selasa (9/2/2021) malam. (Solopos.com-Ika Yuniati)

Solopos.com, SOLO — Pentas drama musikal Cafe De La Poste digelar di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah atau TBJT, Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (9/2/2021) malam. Dengan mengenakan gaun pendek merah terang, Ningtyas, pasang senyum lebar tampil membuka adegan dengan membuka kafe miliknya, De La Poste.

Sembari menyanyi riang, perempuan paruh baya ini menata kursi dan meja sebagai penanda siap menerima tamu. Tongkrongan di tengah kota ini tak pernah sepi pengunjung. Hilir mudik orang baru datang bergantian. Ada juga langganan lama yang sampai dihafal sang empunya.

Mereka semua datang membawa emosi dan masalah yang berbeda-beda.  Sebagai pengelola yang juga harus melayani langsung, Ningtyas yang diperankan seniman Solo, Tutut, sangat hafal jam datang masing-masing pengunjung, berikut kisahnya.

Baca Juga: 9 Bulan Diadopsi, Anak Balita Disiksa Hingga Tewas

Kafe dalam pentas itu diibaratkan ruang sosial yang menampung banyak hal. Orang yang datang berkunjung membawa mimpi, angan, dan idealisme masing masing. Selama berjam-jam, mereka bisa duduk termenung sendiri, berdiskusi, atau bertengkar untuk menyelesaikan masalahnya.

Kafe De La Poste tak hanya ruang mati untuk makan minum dan bercengkerama. Bangunan tengah kota ini diibaratkan gambaran kehidupan dengan segala dramanya. Mewakili karakter masing-masing manusia. Kadang membicarakan hal remeh temeh dengan riang gembira, membahas cerita rumit layaknya tokoh pewayangan, membahas stigma sosial, hingga soal pencarian Tuhan.

“Setiap orang beda beda ekspresikan rasa senang sedih duka dan marah. Hei, buat kamu yang sering duduk di kursi ini badai pelan pelan pasti berlalu, waktu akan menjawab,” kata Tutut di akhir dialog sebelum menutup pentas musikal tersebut dengan nyanyian ditemani lima penari latar, di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Selasa (9/2/2021) malam.

Baca Juga: Gempa Sulawesi Barat Dinilai Tak Lazim, Mengapa?

Setiap dialog kehidupan yang Tutut sampaikan merupakan representasi lagu-lagu grup musik Handarbeni dalam mini album Merajut Mimpi. Ada empat judul yang mereka pakai, yakni Aku dan Lalu, Ilusi, Kasak Kusuk, dan Terang Hati.

Mini album grup musik asal Solo yang digawangi Tutut (vokal), Yulianto “Phendek” (acc gitar), Sigit (lead gitar), Daniel (keyboard), dan Kipli (bas) ini sebelumnya dirilis September 2020. Kesuksesaan pentas dengan protokol kesehatan tersebut tak lepas dari tangan dingin sang sutradara, Djarot Budi D, dan dukungan seniman lain.

Saat diwawancara seusai pentas, Djarot, Selasa, mengatakan album Handarbeni berjudul Merajut Mimpi sangat apik untuk dipentaskan. Itulah sebabnya dia bersedia membuatkan naskah lalu menyutradarai pentas.

Baca Juga: Kristen Gray Dideportasi Via Bandara Soekarno-Hatta

Djarot memilih seting utama sebuah kafe karena sangat dekat dengan kita sekarang ini. Kafe diibaratkan ruang yang sangat personal di zaman kiwari. Baik bagi pemilik maupun pengunjungnya. Bak rumah kedua, kafe juga jadi tempat berpulang ketika ingin menumpahkan semua kegundahan.

“Ada empat lagu yang kita ambil. Mewakili nilai-nilai, perasaan-perasaan, harapan, hingga mimpi-mimpi. Tapi yang menarik adalah sosok Tutut sebagai figur perempuan yang tumbuh karena sikon [situasi kondisi] di kafe. Dia jadi paham apapun, jadi dewasa. Kadang jadi temann curhat, tahu gimana jadi pendengar, tau gimana jadi orang yang pura-pura enggak tau. Dan ini mewakili manusia secara umum,” terangnya.

Naskah drama ini selesai sembilan bulan lalu. Disusul latihan intensif selama tiga bulan. Ini merupakan kali pertama dia menggarap drama musikal bersumber dari album musik. Pentas bersumber album Handarbeni ini sekaligus jadi tawaran baru eksplorasi seni lintas disipilin, yakni musik ke panggung drama.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Berita Terkini Lainnya








Kolom