Mengulik Asal Kekayaan Pengusaha Terkaya Asia dari Semarang

Oei Tiong Ham, pengusaha terkaya Asia asal Semarang tak hanya dikenal sebagai Raja Gula dari Semarang, tapi juga perdagangan candu atau opium.

 Oei Tiong Ham. (Wikipedia)

SOLOPOS.COM - Oei Tiong Ham. (Wikipedia)

Solopos.com, SEMARANG — Kekayaan pengusaha terkaya se-Asia Tenggara, Oei Tiong Ham, rupanya tidak hanya berasal dari bisnis gula. Oei Tiong Ham juga dikenal memiliki berbagai usaha seperti bisnis properti hingga candu.

Pada zaman sekarang, bisnis candu tergolong ilegal karena masuk dalam kategori obat terlarang. Namun di era Oei Tiong Ham, atau saat Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1890-1904, bisnis candu diizinkan.

PromosiJos! Petani & Peternak Klaten Bisa Jadi Penopang Kedaulatan Pangan

Sejarah perdagangan candu di Jawa dimula saat Hindia Belanda dipimpin Jenderal Thomas Stamford Raffles pada tahun 1811-1816. Untuk berdagang candu atau opium pada zaman itu, para pakter yang mayoritas merupakan orang Tionghoa harus memiliki lisensi dari pemerintah Hindia-Belanda. Dengan lisensi itu, para pakter madat diizinkan mengelola perdagangan candu dan membayar upeti ke pemerintah setiap tahunnya.

Baca juga: Kisah Si Raja Gula Asia, Pengusaha Terkaya dari Semarang

“Di antara pachter-pachter madat yang terakhir, hanya Tuan Oei Tiong Ham yang paling beruntung bisa mendapatkan keuntungan dalam perdagangan madat,” tulis Liem Thian Joe, dalam bukunya berjudul Riwajat Semarang: Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnya Kongkoan.

Liem Thian Joe, merupakan jurnalis kawakan kelahiran Parakan, Temanggung, Jawa Tengah (Jateng). Ia menulis buku Riwajat Semarang sejak Maret 1931 hingga September 1933. Dalam buku itu, Liam Thian Joe juga menyebutkan bisnis candu Oei Thiong Ham berjalan sangat pesat. Banyak kaum pribumi yang menjadi pelanggan opium miliknya.

“Penduduk pribumi yang paling banyak menghisap madat ialah di residentie Surakarta, Yogyakarta, dan Kediri,” tulis Liem Thian Joe.

Awal Bisnis Candu

Oei Tiong Ham sebenar bukan pakter candu pertama yang ada di Jawa. Ia baru memulai bisnis candu sekitar tahun 1890-an, setelah melakukan ekspansi bisnis ayahnya, dari perusahaan perdagangan Kian Gwan menjadi Oei Tiong Ham Concern (OTHC).

Meski demikian, saat krisis perniagaan candu melanda pada akhir 1880-an, hanya empat dari 19 pakter candu yang bertahan, salah satunya adalah Oei Tiong Ham. Oei Tiong Ham bahkan menjadi pakter candu yang paling banyak meraup keuntungan. Diperkirakan antara 1890 hingga 1904, perusahaan milik Oei Tiong Ham, Kian Gwan mampu meraup untung sekitar 18 juta gulden dari perdagangan opium.

Keuntungan ini pun menjadi dasar bagi Oei Tiong Ham meletakan bisnis atau industri gula yang berkembang pesat. Bahkan, di usia yang belum menginjak 30 tahun, Oei Tiong Ham mampu melebarkan sayapnya hingga keluar negeri. Perusahaan Oei Tiong Ham, OTHC bahkan tercatat memiliki kantor cabang di luar negeri seperti London, Amsterdam, Singapura, Bangkok, dan New York.

Baca juga: Warisan Pengusaha Terkaya Asia dari Semarang Disita Rezim Sukarno?

Tak hanya itu, Oei Tiong Ham juga mendirikan bank, perusahaan pelayaran dan ritel. Oei Tiong Ham juga menjadi pemilik NV Handel Maatschappij Kian Gwan, sebuah perusahaan perdagangan gula internasional. Ia juga menjadi pemilik NV Algemeene Maatshcappij to Exploitatie der Oie Tiong Ham Suikerfabrieken yang mengelola lima perkebunan dan penggilingan tebu di Jawa.

Meski kurang fasih berbahasa Belanda dan Inggris, Oei Tiong Ham yang meninggal di usia 57 tahun pada tahun 1924, telah mencatatkan dirinya sebagai orang terkaya di Hindia Belanda kala itu. Ia bahkan tersohor di seantero Asia dan terkenal di Australia, Amerika, hingga Eropa.

Oei Tiong Ham dikenal dengan julukan Raja Gula dari Semarang, meskipun tidak bisa dipungkiri sebagian kekayaannya diperoleh dari perdagangan candu.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Espos Plus

      Umbi Kimpul, Calon Pengganti Nasi yang Diperkenalkan Kementan

      + PLUS Umbi Kimpul, Calon Pengganti Nasi yang Diperkenalkan Kementan

      Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan talas belitung atau yang dikenal dengan umbil kimpul sebagai calon pengganti nasi dari beras. Kimpul dinilai cocok untuk penderita diabetes dan menu diet sebagai salah satu upaya diversifikasi pangan.

      Berita Terkini

      4 Pemancing di Banjir Kanal Timur Semarang Temukan Mayat Bayi, Ini Ciri-Cirinya

      Penemuan mayat bayi berjenis kelamin laki-laki menggemparkan warga sekitar Banjir Kanal Timur Semarang.

      KPU Grobogan Luncurkan Program DP3, Genjot Partisipasi Pemilih di 2024

      KPU Grobogan membuat terobosan dengan meluncurkan program Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan untuk meningkatkan partisipasi pemilih.

      Ganjar Unggah Foto Masa Muda, Warganet: Kayak Pemain Lupus

      Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengunggah foto masa muda yang menyita perhatian warganet karena dianggap mirip dengan pemeran film Lupus, Ryan Hidayat.

      Data 21.000 Perusahaan Diduga Bocor, Ganjar: Belum Ada dari Jateng

      Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menyebut hingga kini belum ada laporan dari perusahaan di Jateng yang mengalami data bocor di dunia maya.

      Festival Wiwit Panen Mbako dan Kopi Digelar di Temanggung

      Pemerintah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (Jateng), menggelar festival panen tembakau dan kopi bertajuk Festival Wiwit Panen Mbako dan Kopi.

      Terganjal Jadi Guru Besar, Dosen Undip Ini Tuntut Mantan Suami

      Seorang dosen Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Diana Rachmawati, mengajukan tuntutan kepada mantan suami lantaran keinginan meraih gelar guru besar tersendat.

      Simak! Ujian Praktik SIM di Salatiga Bisa Sore Hari

      Satlantas Polres Salatiga saat ini melayani ujian praktik pembuatan SIM pada sore hari, mulai pukul 15.00-17.00 WIB.

      Jadi Pusatnya Sapi Jateng, IPB Dirikan Sekolah Peternakan di Blora

      Bupati Arief Rohman ingin agar potensi peternakan sapi di Kabupaten Blora benar-benar bisa berkembang untuk mendorong kesejahteraan para petani peternak.

      Duh! 64 Kasus Baru HIV/AIDS Muncul di Kabupaten Semarang

      Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kabupaten Semarang menyebut ada 64 kasus baru HIV/AIDS yang muncul di wilayahnya sepanjang 2022.

      Kepala Dishub Jateng Ditunjuk Jadi Pj Bupati Pati

      Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jateng, Henggar Budi Anggoro, ditunjuk sebagai Penjabat (Pj) Bupati Pati menggantikan Bupati Haryanto yang masa jabatannya berakhir pada 22 Agustus 2022.

      Ini Dia Juara Krenova Kota Salatiga Tahun 2022

      Biskuit berbahan pati garut dan tepung waluh bikinan siswa SMP Muhammadiyah Plus Salatiga menjadi inovasi terbaik dalam ajang lomba Krenova tingkat Kota Salatiga tahun 2022.

      Kapolda Beri Instruksi, Puluhan Penjudi di Jateng Ditangkap

      Jajaran Polda Jateng melakukan penangkapan terhadap sejumlah pelaku praktik perjudian di berbagai wilayah Jateng.

      Berikut Kronologi Santri Ponpes di Sarang Rembang Dibakar Temannya

      Seorang santri di sebuah pondok pesantren atau ponpes di Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jateng, dibakar teman sesama santri saat sedang tidur.

      Joss! Trans Semarang Luncurkan Kartu Khusus Difabel

      Pemkot Semarang meluncurkan kartu khusus bagi penyandang disabilitas atau difabel yang ingin mengakses Bus Trans Semarang.

      Kejam! Santri Ponpes di Sarang Rembang Bakar Teman yang Sedang Tidur

      Seorang santri sebuah ponpes di Sarang, Rembang, Jateng, dibakar oleh teman sesama santri.