Makna Pepali yang Jadi Pantangan Warga Banyumasan

Inilah pepali yang masih dipercaya sebagai pantangan bagi warga di wilayah eks-Keresidenan Banyumas.

 Bukit Pengaritan, salah satu pesona di Desa Banjarpanepen Kabupaten Banyumas (Instagram/@pesonabanjarpanepen)

SOLOPOS.COM - Bukit Pengaritan, salah satu pesona di Desa Banjarpanepen Kabupaten Banyumas (Instagram/@pesonabanjarpanepen)

Solopos.com, CILACAP — Sebagian masyarakat di wilayah Banyumasan atau eks-Keresidenan Banyumas masih memegang teguh pepali sebagai pantangan. Pepali ini merupakan peninggalan bersejarah dari Adipati Wirasaba.

pepali Adipati Wirasaba ini berbentuk logika perlambangan dan pesan yang tersamar yang harus diinterpretasikan dengan bahasa sehari-hari dan kondisi di masing-masing daerah. Makna dari pepali adalah bentuk penghormatan kepada leluhur dan ajaran keseimbangan dalam kehidupan.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

Dilansir dari sebuah literasi tugas akhir oleh Ganjar Triadi, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang dengan judul Simbol dan Makna Pepali Adipati Wirasaba dan Relevansinya Pada Masyarakat di Eks Karesidenan Banyumas, Jumat (7/1/2022), terdapat penjelasan terperinci bagaimana relevansi Pepali di beberapa kabupaten di wilayah Banyumasan, khususnya Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banjarnegara.

Baca juga: Pepali Banyumasan Masih Dipercaya Warga, Begini Praktiknya

Makna Pepali

Aja mangan pindang banyak

Ini adalah bunyi asli isi pepali yang pertama, yaitu larangan mengkonsumsi daging angsa. Bagi masyarakat Kabupaten Cilacap, pantangan ini masih relevan karena kondisigeografis Kabupaten Cilacap yang dekat dengan perairan Samudra Hindia membuat masyarakat di sana lebih mengkonsumsi ikan daripada daging angsa.

Pantangan ini juga masih relevan bagi masyarakat Kabupaten Banjarnegara yang juga tidak mengkonsumsi daging angsa. Selain kondisi geografis, masyarakat setempat juga percaya jika ada musibah yang akan melanda jika melanggar pepali atau pantangan tersebut.

Baca juga: Asale Pepali, Pantangan Warga Banyumasan

Aja mbojo antarane wong Kesugihan  karo wong Pesanggarahan

Isi Pepali ini mengacu pada larangan menikah bagi warga desa Kesugihan dengan warga desa Pesanggarahan, dua desa yang ada di Kabupaten Cilacap. Isi Pepali ini hanya relevan bagi masyarakat di Kabupaten Cilacap karena secara langsung menyebut nama dua desa.

Jika melihat isi salah satu pepali ini memungkinkan bahwa hal ini ada kaitannya dengan kisah dendam Ki Demang Torayeka dengan Adipati Wirasaba yang menggagalkan kesepakatan perjodohan anak-anak mereka.

Baca juga: Ini Isi Pepali Pantangan Warga Banyumasan

Saat itu, sebelum Adipati Wirasaba meninggal, dia berpesan untuk tidak menikah atau mengambil menantu dari keturunan Ki Demang Torayeka yang kemungkinan menurunkan generasi yang ada di salah satu desa di Cilacap ini.

Hingga kini, masyarakat dari kedua desa tersebut masih melaksanakan Pepali ini. Masyarakat setempat masih percaya bahwa jika terjadi pernikahan yang melibatkan warga kedua desa tersebut, ada musibah yang melanda warga dari kedua desa. Kejadian ini pernah terjadi dan masyarakat setempat mengkaitkan pada isi pepali yang melarang adanya pernikahan yang melibatkan warga dari dua desa tersebut.

Baca juga: Ada Terowongan Bawah Laut Nusakambangan, Begini Nasibnya

Aja tandur utawane panen nang dina setu pahing atau jumat pon

Isi pepali ini mengacu pada larangan melakukan segala aktivitas, salah satunya aktivitas bertani saat jatuh sabtu pahing jumat pon (penanggalan Jawa). Isi pepali ini masih relevan bagi masyarakat Kabupaten Banjarnegara yang kondisi geografisnya berada di kawasan pertanian. Setiap jatuh hari jumat pon atau sabtu pahing, masyarakat setempat, khususnya di Dukuh Legok tidak berani menanam atau memanen padi.

Larangan beraktivitas di hari jumat dan sabtu ini mengacu pada hari pendek, khususnya jumat yang di mana adalah hari bagi umat Islam melaksanakan sholat jumat sehingga masyarakat diharapkan untuk berhenti beraktivitas dari kegiatan cocok tanam dan lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Masyarakat juga percaya jika mereka melanggar, hasil panennya tidak akan maksimal.

Baca juga: Seperti Apa Sih Kegiatan di Penjara Nusakambangan? Yuk Intip!

Dengan melihat uraian di atas, membuktikan bahwa seiring adanya kemajuan zaman dan pola pikir, praktik Pepali mulai ditinggalkan. Meskipun masih ada kelompok masyarakat yang masih memegang teguh, namun pada praktiknya, isi dari pepali tidak seluruhnya dilakukan, hanya yang memiliki relevansi saja dengan kondisi geografis dan sosial yang ada.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Berita Terkini

Wow! Desa Tertinggi di Jateng Ternyata Lebih Tinggi dari Gunung Ungaran

Inilah desa yang didapuk sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa dan Jawa Tengah atau Jateng, dengan ketinggian sekitar 2.300 mdpl.

Simak! Begini Cara Akses Pengumuman Hasil PPDB Jateng 2022

Berikut tutorial atau cara mengakses pengumuman hasil PPDB Jateng 2022 untuk jenjang SMA dan SMK negeri.

Pengumuman Hasil PPDB Jateng 2022 Hari Ini, Ini Kata Kadisdikbud

Pengumuman hasil PPDB Jateng 2022 untuk jenjang SMA dan SMK negeri akan dilaksanakan hari ini, Senin (4/7/2022).

Deretan Bus Bumel Semarang-Jogja: Bodi Aduhai, Satset di Jalan Berliku

Deretan bus bumel trayek Semarang-Jogja pernah menjadi primadona di jalanan pada masanya.

Apa Kabar Sumanto Pemakan Mayat dan Kisah Kanibalisme di Indonesia

Pada awal 2000an lalu, Jawa Tengah digegerkan dengan kabar kasus kanibalisme sosok pria bernama Sumanto asal Purbalingga yang menjadi pemakan mayat Nenek Rinah.

Fenomena Embun Es di Dieng, Cantik Tapi Beracun?

Embun es yang muncul sebagai fenomena alam tahunan di Dataran Tinggi Dieng sering disebut racun oleh warga sekitar.

Begini Prakiraan Cuaca di Semarang Hari Ini, Minggu (3/7/2022)

Berikut prakiraan cuaca hari ini di Semarang dan sekitarnya pada Minggu (3/7/2022).

Kecamatan Tersepi di Banyumas Sebagian Penduduknya Gunakan Bahasa Sunda

Berikut fakta terkait kecamatan tersepi atau paling lenggang di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng).

Miris! Perempuan Perampok Pengemudi Ojol di Semarang Masih Remaja

Pelaku perampokan sepeda motor ojek online di Semarang ternyata perempuan yang masih berusia belasan tahun atau remaja.

Wow! Selamatkan Puluhan Sumber Mata Air, Pria Pemalang Raih Kalpataru

Kisah inspiratif datang dari pria Pemalang yang mendapat penghargaan Kalpataru atas dedikasinya dalam konservasi lingkungan hidup dan menyelamatkan puluhan sumber mata air.

Anggota DPRD Jateng: Jangan Sampai Anggota Karang Taruna Nganggur

Menurut anggota DPRD Jateng Baginda Muhammad Mahfuz anggota karang taruna harus bisa menunjukan kemampuan yang bermanfaat.

Polisi Ringkus Perempuan Perampas Motor Ojek Online di Semarang

Aparat Polrestabes Semarang dikabarkan telah meringkus perempuan yang melakukan penganiayaan dan perampasan sepeda motor pengemudi ojek online.

Mantap! Temanggung Surplus Cabai hingga Agustus 2022

Produksi cabai di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (Jateng), mengalami surplus hingga bulan Agustus 2022 nanti.

Apes! Motor Dirampas, Driver Ojol di Semarang Malah Dihajar Massa

Kisah tragis datang dari seorang pengemudi ojek online di Kota Semarang yang menjadi korban perampasan dan pengeroyokan oleh warga.

Perawatnya Dituduh Lecehkan Pasien, RSUD RA Kartini Jepara Lapor Polisi

RSUD RA Kartini Jepara akhirnya melaporkan pemilik akun @UpWanita atas kasus pencemaran nama baik akibat unggahan di Twitter yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual perawat rumah sakit itu.