Lockdown di Kampung Karangwuni Kulon Ceper Klaten: Bank Plecit Jangan Nagih Dulu Pliss...
Posko Cegah Covid-19 di Dukuh Karangwuni Kulon, Desa Dlimas, Ceper, Klaten. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Warga Dukuh Karangwuni Kulon, Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Klaten, melakukan lockdown kampung untuk mencegah persebaran virus corona. Mereka juga meminta petugas bank plecit tidak menagih cicilan untuk sementara waktu.

Petugas dari bank plecit untuk sementara waktu dilarang masuk ke wilayah Kampung Karangwuni Kulon, Klaten, yang sedang di lockdown. Sebab, dalam kondisi saat ini penghasilan warga sangat minim.

“Kami minta pengertian kepada bank plecit untuk sementara tidak melakukan penagihan dulu. Warga kami banyak yang kerja sebagai kru bus, penjual tiket, atau pedagang keliling. Kondisi seperti saat ini mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan. Kami mohon warga jangan disiksa batinnya. Ini juga hanya untuk sementara saja,” jelas Ketua RW 001, Sumpono, Sabtu (28/3/2020).

Selama lockdown,  warga hanya membuka satu gang sebagai satu-satunya akses masuk ke perkampungan. Setiap tamu maupun warga harus melapor ke posko yang dijaga warga secara bergantian.

Di posko yang diberi nama posko cegah Covid-19 itu, warga sudah menyiapkan padasan dilengkapi sabun. Warga juga menyiapkan semprotan berisi disinfektan.

Pemerintah Kelamaan, Desa-Desa di Sukoharjo Lockdown Lokal

Siapapun yang akan masuk ke kampung wajib berhenti di posko dan mencuci tangan mereka menggunakan sabun. Hal itu termasuk bagi warga desa setempat. Barang bawaan warga atau tamu disemprot disinfektan.

Ketua RW 001, Sumpono, 60, mengatakan lockdown kampung Karangwuni Kulon, Ceper, Klaten itu dilakukan sejak Jumat (27/3/2020). Penutupan empat pintu masuk dilakukan berdasarkan hasil kesepakatan warga.

Ada sekitar 200 warga yang tinggal di RW 001 Dukuh Karangwuni Kulon. Meski akses masuk ditutup, aktivitas warga di dalam kampung masih berjalan normal.

Berani! Warga Blokade Jalan Kampung Krapyak Sragen, Pendatang Dilarang Masuk

Sumpono menuturkan lockdown kampung di Karangwuni Kulon, Klaten, dilakukan hingga pemerintah mengumumkan tak ada lagi persebaran Covid-19.

“Kami sendiri juga tidak tahu sampai kapan. Semoga kondisinya segera pulih,” jelas dia kepada Solopos.comSabtu (28/3/2020).

Alasan Lockdown

Dia mengatakan lockdown kampung dilakukan lantaran banyak warga di wilayah Karangwuni Kulon, Klaten, yang merantau. Kebanyakan dari mereka bekerja di Jakarta atau Jawa Barat. Hal ini dilakukan sejak Jumat (27/3/2020).

“Warga di sini banyak yang perantauan. Mereka bekerja dan berinteraksi dengan siapa saja. Makanya, kami lakukan ini untuk mencegah agar warga atau tamu yang datang itu ketika masuk kampung tak membawa Covid-19,” kata Sumpono.

Ratusan ODP Corona di Jatiyoso Karanganyar Mayoritas Pemudik dari Jabodetabek

Sumpono menjelaskan saban ada perantau pulang kampung, sukarelawan akan menanyakan asal mereka. Jika berasal dari daerah yang masuk kategori zona merah Covid-19, perantau diminta mendatangi fasilitas kesehatan untuk memastikan kondisi sebelum pulang.

Selain itu, para perantau diminta melakukan isolasi mandiri selama 14 hari sesuai imbauan dari pemerintah ketika sampai di rumah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho