Ilustrasi pasangan kekasih. (Freepik)

Solopos.com, SOLO – Menjalin hubugan asmara dengan orang yang kasar seringkali berakhir menyesakkan. Seperti dialami Una yang sempat menjadi korban kekerasan kekasihnya, Ali.

Menurut Una, Ali adalah sosok pria posesif yang memberikan pelajaran berharga dalam hidupnya. Una harus selalu melaporkan segala aktivitasnya kepada Ali, termasuk soal pekerjaan, keuangan, hingga pertemanannya.

Bahkan, Una dilarang mengakses media sosial. Jika hal itu dilanggar, Ali tak segan memaki hingga main tangan kepada Una. Una mengaku gaji yang didapat dari pekerjaannya sebagai MC diatur oleh Ali.

“Aku kan boros, uang kalau enggak diwujudkan barang pasti akan habis. Aku beli emas enggak boleh. Beli baju untuk kebutuhan pekerjaan juga enggak boleh. Harus mohon-mohon, kalau dia enggak suka aku dimaki-maki. Uang juga dia yang ngatur,” terang Una kepada Solopos.com, awal Desember 2019 lalu.

Hubungan Una dan Ali semakin memanas saat ada orang ketiga. Ali ketahuan selingkuh, tapi dia justru balik emosi kepada Una. “Kami mulai berantem karena dia ketahuan selingkuh. Dia komunikasi sama selingkuhannya setiap hari setelah enggak ketemu sama aku,” sambung Una.

Una selalu mencoba membicarakan masalah tersebut kepada Ali. Tetapi, bukannya jawaban atau permintaan maaf yang didapat, melainkan kekerasan fisik. Ali selalu melampiaskan emosinya kepada Una lewat kekerasan fisik.

“Dia yang salah aku yang kena pukul. Dia nonjok, nyekik, nendang, jeblesin ke tembok. Mukaku ini udah kena semua kanan-kiri, bibir, dan pelipis,” terang Una.

Sehabis memukul, Ali selalu memeluk Una dan meminta maaf. Hal itulah yang akhirnya membuat Una bertahan.

“Setelah mukulin, meluk, bilang maaf ya. Besuk lagi jangan kayak gini. Dia nyariin obat juga meski pakai uangku sendiri,” sambung Una.

Meski sering sakit hati, Una tetap mempertahankan hubungannya dengan pria asal Padang, Sumatra Barat, itu. Apalagi Ali yang berbeda agama dengannya sudah dianggap sebagai anak oleh keluarganya.

Selama menjalin kasih, Una selalu menutupi perangai buruk Ali di depan keluarganya. Dia tidak pernah menceritakan kekerasan yang dilakukan Ali kepadanya. Di mata keluarga Una, Ali adalah sosok pria yang baik lantaran sering menemaninya bekerja.

Saking sayangnya kepada Ali, keluarga Una membantunya kredit motor. Una juga sering membantu keuangan Ali yang hidup jauh dari keluarganya di Padang, Sumatra Barat. Apalagi Una tahu ibu Ali di kampung sakit.

“Walaupun beda agama, keluargaku menerima dia banget. Kredit motor saja orang tuaku yang mengurus. Aku sayang sama dia. Aku kasihan sama dia, ibunya sakit. Aku sedikit bantu ekonomi dia,” imbuh Una.

Tetapi, lama-kelamaan Una muak dengan perlakuan kasar Ali kepadanya. Ali bersikap baik kepadanya saat butuh pinjaman dana segar. Setelahnya, Ali akan kembali berbuat kasar jika Una melakukan seuatu yang tidak disukainya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten