Kisah Ki Ageng Pandan Arang dan Asal Usul Tembalang Semarang

Asal usul nama Tembalang, sebuah kecamatan di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), erat kaitannya dengan kisah Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran I.

 Kampus Undip yang terletak di wilayah Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. (kectembalang.semarangkota.go.id)

SOLOPOS.COM - Kampus Undip yang terletak di wilayah Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. (kectembalang.semarangkota.go.id)

Solopos.com, SEMARANG — Tembalang merupakan nama salah satu wilayah atau Kecamatan di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), yang cukup ramai karena banyak berdiri kampus perguruan tinggi baik swasta maupun negeri. Berikut asal usul nama Tembalang yang tak terlepas dari kisah perjalanan Raden Pandan Arang atau Pandanaran I yang dikenal sebagai pendiri sekaligus Bupati pertama Semarang.

Memiliki luas sekitar 39,47 km persegi, Tembalang menjadi salah satu daerah yang paling ramai di Kota Semarang. Hal ini tak terlepas dari keberadaan berbagai kampus perguruan tinggi swasta maupun negeri di wilayah tersebut seperti Universitas Diponegoro (Undip), Politeknik Negeri Semarang (Polines), Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang (Poltekesmar), hingga Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Kendati demikian, tak banyak yang tahu tentang asal usul Tembalang, yang menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di Kota Semarang ini. Asal usul atau awal berdirinya Tembalang ini sering dikaitk-kaitkan dengan kisah atau legenda Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran I.

Diolah dari berbagai sumber, Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran I merupakan merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di daerah Semarang. Ada berbagai versi tentang asal usul Ki Ageng Pandan Arang.

Ada yang menyebut dirinya merupakan putra dari Panembahan Sabrang Lor atau yang dikenal juga sebagai Adipati Unus, raja kedua Kerajaan Demak. Namun ada juga yang menyebut Ki Ageng Pandan Arang adalah seorang saudagar asal Timur Tengah yang diizinkan berdagang dan menyebarkan agama Islam oleh Sultan Demak di wilayah Semarang.

Baca juga: Misteri Makam di SMP 38, Petilasan Ki Ageng Pandan Arang Saat Dirikan Semarang

Kendati demikian, Ki Ageng Pandan Arang dikenal sebagai sosok yang mendirikan Semarang. Bahkan, ia dikenal sebagai sosok yang menamai Semarang dari kata pohon asem yang jarang-jarang atau asem arang.

Mata Air

Sementara terkait asal usul Tembalang juga tidak bisa lepas dari kisah atau legenda Ki Ageng Pandan Arang yang dikenal sebagai pendiri Kota Semarang. Alkisah, kala itu Ki Ageng Pandan Arang sedang melakukan kunjungan ke wilayah Semarang bagian selatan.

Di tengah kunjungan itu, Ki Ageng Pandan Arang bertemu dengan warga desa yang mengeluh tentang aliran mata air atau Tuk Sanga yang sangat deras. Aliran air Tuk Sanga atau sembilan mata air ini memang baik karena memenuhi kebutuhan air masyarakat desa itu.

Baca juga: Misteri Makam Mbah Jalak di Sigar Bencah Semarang

Kendati demikian, aliran air yang berlebih berpotensi membuat desa itu terendam air atau kebanjiran. Warga desa itu pun telah berupaya membendung derasnya aliran Tuk Songo. Meski demikian, berbagai upaya yang dilakukan gagal karena mata air itu kembali mengalir dengan deras dan membuat genangan mirip danau.

Mengetahui hal itu, Ki Ageng Pandan Arang pun berupaya membantu warga dengan menambal aliran air dari Tuk Songo. Ia menggelar salat di lokasi tersebut bersama para pengikutnya. Keesokan hari, Tuk Songo itu mampu ditambal dan hanya menyisakan satu mata air atau tuk. Satu mata air ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air bagi warganya.

Setelah itu, Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran I menamai wilayah tersebut dengan nama Tembalang, yang berasal dari kata tambal ilang atau tambal dan hilang.

Demikianlah, kisah ata legenda dari asal usul nama Tembalang di Semarang. Cerita ini memang hanya sebatas legenda yang ada secara turun temurun. Kendati demikian, cerita ini memberikan pesan moral bahwa sesuatu yang berlebih tidaklah baik. Air yang memiliki segudang manfaat, jika berlebihan juga mampu menyebabkan musibah atau malapetaka.

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Puncak HUT ke-188 Temanggung, Ribuan Pelajar Menari Jaran Kepang

      Pemkab Temanggung mengajak warga menampilkan kuda lumping pada acara peringatan hari jadi kabupaten dalam upaya menjaga kelestarian kesenian tradisional khas Temanggung.

      Bupati Magelang Mengapresiasi Penemu Lingga Yoni Terbesar di Indonesia

      Temuan situs Lingga Yoni ini sangat luar biasa dan terbesar di Indonesia dengan ukuran panjang 128 senimeter, lebar 146 sentimeter, dan tingginya 130 sentimeter serta berat lebih dari lima ton.

      Bagikan Cokelat, Cara Polres Salatiga Sosialisasikan Nomor Layanan Aduan

      Brosur yang dibagikan kepada masyarakat bukan hanya tentang Layanan 110, namun juga berisi informasi layanan publik yang ada di Polres Salatiga berupa pembuatan SIM, SKCK, tata cara pelaporan di SPKT dan layanan sidik jari Sat Reskrim.

      Desa Conto Wonogiri Jadi Desa Wisata Terbaik Jateng 2022 untuk Kategori Ini

      Desa Wisata Conto di Kabupaten Wonogiri didapuk sebagai desa wisata terbaik Jateng 2022 untuk kategori Sapta Pesona dan CHSE.

      Lima Kata Khas Semarangan, Nomor Satu Kasar bin Agresif

      Berikut lima kata-kata yang menjadi ciri khas bahasa daerah Semarang atau Semarangan.

      Selamat! Desa di Banyumas Ini Raih Predikat Desa Wisata Terbaik Jateng 2022

      Desa Wisata Pekunden di Kabupaten Banyumas dinobatkan sebagai desa wisata terbaik atau meraih juara pertama dalam Gelar Desa Wisata Jawa Tengah (Jateng) 2022.

      Solidaritas, Napi & Sipir Lapas Semarang Galang Dana bagi Korban Gempa Cianjur

      Napi dan sipir Lapas Kedungpane Semarang menggelar doa bersama dan menggalang dukungan bagi korban gempa Cianjur.

      225 Pemuda Jateng Ditempa Jadi Pebisnis di Salatiga

      Yayasan Plan Indonesia dan SPPQT memberikan pelatihan kewirausahaan kepada ratusan pebisnis muda asal Jateng di Salatiga.

      Miris, Gaji Guru Madrasah di Blora Rp50.000 per Bulan

      Gaji guru madrasah di Kabupaten Blora, Jawa Tengah (Jateng), disebut masih jauh di bawah kesejahteraan yakni Rp50.000 per bulan.

      Kongres Ulama di Jepara Berakhir, Ini 8 Rekomendasi untuk Pemerintah Jokowi

      Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) II yang digelar di Jepara, Jateng, telah resmi berakhir dengan menghasilkan 8 rekomendasi.

      Janjikan Bisa Lolos CPNS, Guru PNS di Grobogan Dilaporkan ke Polisi

      Dua PNS, di mana salah satunya guru SMP dilaporkan ke polisi atas dugaan penipuan penerimaan CPNS di Kabupaten Grobogan.

      Selamatkan Lahan Kritis, Pemprov Jateng Tanam Jutaan Pohon

      Pemprov Jateng telah melakukan penanaman jutaan pohon sebagai upaya menyelamatkan lahan kritis.

      Sopir Ambulans di Ambarawa Jadi Korban Pembunuhan, Pelaku Diduga Perempuan

      Seorang sopir ambulans di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, diduga menjadi korban pembunuhan seorang perempuan.

      Truk Salip Truk di Jalan Kudus-Pati, Pengendara Vario Jadi Korban

      Kecelakaan maut melibatkan truk tronton dengan pengendara sepeda motor Vario terjadi di Jalan Kudus-Pati, Kabupaten Kudus.

      Warga Belum Terima Ganti Rugi Tol Semarang-Demak, PPK: Tidak Ada Nama Suparwi

      Seorang warga Desa Pulosari, Kecamatan Karangtengah, Demak, mengeklaim belum mendapatkan uang ganti rugi atas tanah yang digunakan pembangunan Tol Semarang-Demak Seksi II.