Kisah Guru Honorer Ikut Tes PPPK, Ada yang Lega Ada yang Masih Berjuang

Krisnowati memilih tak banyak mengeluh dan tetap menekuni profesinya sebagai guru meski berstatus sebagai tenaga honorer selama belasan tahun terakhir.

 Ilustrasi. (Dok/JIBI/Solopos)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi. (Dok/JIBI/Solopos)

Solopos.com, KLATEN—Sebagian guru honorer di Klaten bernapas lega setelah penantian selama belasan tahun hingga akhirnya bakal menjadi pegawai pemerintah melalui seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun, sebagian lainnya tak patah arah dan masih berjuang demi menjadi abdi negara meski usia mereka tak lagi muda.

PromosiPerjanjian Ekstradisi Diteken Setelah 8 Kali Pergantian Dubes Singapura

Krisnowati, 52, menjadi salah satu guru honorer yang akhirnya lolos seleksi PPPK belum lama ini. Krisnowati merupakan guru honorer kategori 2 (K2) yang 18 tahun terakhir mengajar di SD Negeri Jeblog, Kecamatan Karanganom. “Saya guru kelas,” kata Kris saat ditemui di Pendopo Pemkab Klaten, Jumat (26/11/2021).

Kris berulang kali menyampaikan kalimat syukur setelah dia mengetahui lolos seleksi PPPK. Penantiannya selama belasan tahun terakhir serta pengalaman beberapa kali tes CPNS tak lolos akhirnya terbayar dengan menjadi PPPK.

Baca Juga: Ratusan Honorer Non K2 Masih Harus Berjuang agar Lolos PPPK

“Saya kurang tahu berapa lama menjadi PPPK. Tunggu saja prosesnya. Kami cukup bahagia setelah lolos PPPK. Alhamdulillah. Tahun depan kami akan tetap memperjuangkan teman-teman yang belum lolos,” kata dia.

Soal honor, Kris mengaku saat awal mengajar pada 2003-2004 hanya mendapatkan honor Rp50.000 per bulan. Nominal honor itu terus meningkat hingga Rp300.000 per bulan dan sejak tiga tahun terakhir mendapatkan tambahan peningkatkan kesejahteraan dari APBD Klaten sekitar Rp1 juta per bulan.

“Saya tidak punya sampingan. Saya ikut suami saja. Intinya berapa pun kami terima dengan ikhlas,” kata dia.

Baca Juga: Ribuan Guru dan Pegawai  Honorer Klaten Diguyur Rp15 Miliar

Disinggung alasannya tetap bertahan menjadi guru selama belasan tahun terakhir, Kris mengatakan menjadi tenaga pendidik sudah menjadi cita-citanya. Kris memilih tak banyak mengeluh dan tetap menekuni profesinya sebagai guru meski berstatus sebagai tenaga honorer selama belasan tahun terakhir.

“Sudah menjadi cita-cita saya, inginnya ikut mencerdaskan anak bangsa dan itu panggilan jiwa saya. Saya lakoni dan kembali lagi ke Allah. Kalau memang sudah menjadi kehendak Yang Kuasa, Alhamdulillah saya lolos PPPK,” kata dia.

Sementara itu, salah satu guru honorer asal SDN 3 Jimbung, Sarwasih, 56, mesti harus berjuang lagi untuk bisa lolos seleksi PPPK. Ibu empat anak itu memilih tak mengeluh. Dia terus berupaya dan berdoa agar bisa lolos seleksi PPPK yang digelar pada Desember 2021 mendatang.

Baca Juga: Pasoepati Ganti Pot Jalan Solo-Jogja, Kapolsek Ceper: Jangan Terulang

“Saya sebenarnya masuk passing grade pada seleksi kemarin. Tetapi, waktu itu sekolah saya tidak ada formasi PPPK, sehingga saya melamar di sekolah lain yang ada formasinya. Saya tidak lolos. Mohon doanya untuk seleksi yang kedua ini saya bisa masuk,” kata Sarwasih.

 

Bersyukur

Sarwasih sudah menjadi tenaga honorer lebih dari 25 tahun. Awalnya, Sarwasih menjadi pegawai di cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Ngawen sekitar sembilan tahun. Kemudian, dia menjadi guru di SDN 3 Jimbung selama 18 tahun terakhir. “Saya tetap bertahan karena jiwa saya menjadi pendidik. Saya senang mendidik anak-anak,” kata dia.

Soal honor, Sarwasih hanya menyampaikan honor yang diterima tak seberapa. Namun, dia bersyukur sekitar tiga tahun terakhir ada tambahan dari anggaran peningkatan kesejahteraan yang dialokasikan di APBD Klaten.

Baca Juga: Bertemu Pasoepati, Camat Ceper: Biasanya Suporter Sangar tapi Ini Sopan

“Suami saya hanya buruh ambil pasir. Saya sekarang tinggal mengontrak rumah di wilayah Krapyak [Kecamatan Klaten Selatan],” kata Sarwasih.

Sarwasih tetap bersyukur. Meski belasan tahun menjadi guru honorer, dia bersama suaminya masih bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga masuk jenjang perguruan tinggi. “Sekarang yang pertama sudah bekerja di BUMN. Yang kedua bekerja di perusahaan swasta. Yang dua masih kuliah,” urai dia.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Jalan TMMD Bisa Pangkas Jarak di Sendangmulyo Wonogiri 8,5 Kilometer

TMMD akan membangun jalan baru berstruktur makadam yang menghubungkan Dusun Kraguman dengan Dusun Sendang.

PTM Terbatas 100 Persen Klaten Dievaluasi

Pemkab Klaten masih mengevaluasi kembali kegiatan PTM terbatas dengan mempertimbangkan perkembangan kasus Covid-19.

Kasus Covid-19 Meningkat, Klaten Kembali Perketat Pendatang

Kasus Covid-19 Klaten meningkat berawal dari para perantau yang berdatangan ke Klaten.

Ada Penyelundupan Narkoba, Tes Urine Warga Binaan Rutan Solo Negatif

Hasil tes urine secara acak terhadap 15 penghuni sel narkoba di Rutan Solo diketahui negatif. Tes urine ini menindaklanjuti penyelundupan jeruk berisi benda diduga sabu-sabu.

Peduli, Polres Klaten Bedah Rumah Warga di Karanganom

Kegiatan bedah rumah itu dilakukan bersama Kodim Klaten, Pemerintah Desa (Pemdes) Kunden, sukarelawan, dan elemen warga lainnya di Karanganom dan sekitarnya.

Pemkot Solo Siapkan 3 Lokasi Darurat bagi Pedagang Pasar Mebel Gilingan

Selama pembangunan sentra IKM, sebanyak 85 pedaagang Pasar Mebel Gilingan, Banjarsari, Solo, akan dipindahkan sementara ke pasar darurat di tiga lokasi.

Keren, Desa Pondok Klaten Ubah TPS Liar Jadi Taman-Fasilitas Olahraga

Pembangunan kawasan taman sekaligus fasilitas olahraga di lahan tanah kas desa seluas kurang lebih 5.000 meter persegi itu menjadi bagian penataan wajah desa di Pondok.

Penyelundupan Barang ke Rutan Solo Masih Terjadi, Terus Apa Solusinya?

Penyelundupan barang-barang terlarang ke dalam Rutan Solo masih saja terjadi meski pengamanan dan pemeriksaan sudah sangat ketat.

Menyusut 34,43 Persen, Alokasi Pupuk Subsidi NPK di Wonogiri 6.391 Ton

Alokasi awal pupuk bersubsidi jenis NPK Phonska sebesar 17.752 ton atau 34,43 persen dari rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).

DPRD Karanganyar Minta Pemerintah Beri Solusi Bagi Tenaga Honorer

Wakil Ketua DPRD Karanganyar meminta pemerintah tidak serta merta menghapus tenaga honorer tanpa memberi solusi bagaimana nasib masa depan mereka.

Angka Kasus Covid-19 Karanganyar Naik Lagi, Jangan Abaikan Prokes

Dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan jumlah kasus Covid-19 di Kabupaten Karanganyar. Warga diminta waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Belum Punya Kartu Tani? Petani Boyolali Bisa Bawa KTP Saat Tebus Pupuk

Penyerapan pupuk bersubsidi tak optimal tersebut lantaran ada kendala yang dihadapi, salah satunya petani Boyolali yang belum memiliki kartu tani.

Tak Ada Proteksi, Pengusaha Bus Lokal Wonogiri Semakin Tergerus

Ada dua proteksi yang diharapkan pengusaha bus AKAP lokal Wonogiri, yakni pemberian izin trayek sesuai faktor muat penumpang atau loadfactor dan pembatasan akses bus AKAP dari luar daerah sampai terminal tipe A.

Nunggak Pajak, Aset Satu Perusahaan di Solo Disita KPP Pratama

KPP Pratama Surakarta menyita aset salah satu perusahaan di Kota Solo yang menunggak pembayaran pajak. Penyitaan diharapkan memberi efek jera.

Coba Terapi Pasien Stroke, Pejabat Sukoharjo Ini Puji Layanan RSIS Yarsis

Efek terapi TMS di RS Yarsis bisa dirasakan oleh pasien secara bertahap, tergantung perkembangan kondisinya.