Kondisi sanggar di Brajan, Prambanan, Klaten, yang dijadikan pusat kegiatan Keraton Agung Sejagat Klaten, Jumat (17/1/2020). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Lokasi Keraton Agung Sejagat pimpinan Toto Susanto di Klaten diketahui berada di Desa Brajan, Kecamatan Prambanan, Klaten.

Pemerintah Desa (Pemdes) Brajan melarang aktivitas di keraton tersebut karena mengganggu kenyamanan warga setempat.

Sebelum kasus itu diungkap aparat Polda Jateng, Pemdes Brajan dan Pemerintahan Kecamatan Prambanan tak tahu-menahu tentang kegiatan yang dipusatkan di Sanggar Awan Mukti, Saren RT 014/RW 007, Brajan, tersebut.

Kepala Desa (Kades) Brajan, Saptono, mengatakan Keraton Agung Sejagat di Klaten ini masih ada kaitannya dengan Keraton Agung Sejagat yang berpusat di Purworejo dengan rajanya, Toto Santosa, 42, dan Fanni Aminadia selaku ratu.

Sanggar seni yang dijadikan pusat kegiatan pengikut Keraton Agung Sejagat di Klaten itu milik Sri Agung, 50, dan Sudiyo, 52. Sri Agung merupakan sebagai kader Posyandu dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK). Sedangkan Sudiyo merupakan guru seni.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Keraton Agung Sejagat di Prambanan, Klaten, mulai berdiri pada 2017. Seiring berjalannya waktu, jumlah pengikutnya semakin bertambah banyak, yakni mencapai 100-an orang.

Para pengikut tersebut berasal dari Prambanan, Jogonalan, dan lainnya. “Setahu saya, 2017 mulai berdiri. Keraton itu menumpang di sanggar milik Ibu Sri Agung. Sanggar itu sering digunakan untuk lomba melukis dan outbond. Jadi, kami tahunya itu sanggar," jelas Saptono saat ditemui wartawan di kantornya, Jumat.

Derita Maha Menteri Keraton Agung Sejagat yang Dijanjikan Gaji Ratusan Juta

Belakangan, Saptono melanjutkan sanggar itu kerap dipakai untuk kegiatan semacam ritual seperti labuhan pusaka. Warga ada yang merasa terganggu dengan kegiatan itu.

"Soalnya ada yang komplain soal bau dupa [menyengat] bikin mumet. Setelah muncul kasus itu [ditangani polisi], kami akan melarang jika ada kegiatan lagi di lokasi tersebut. Ini demi kenyamanan warga,” kata Saptono.

Saptono mengatakan Sri Agung aktif mencari calon pengikut di kawasan Brajan dan sekitarnya. Di Brajan terdapat 30-40 orang yang sempat tertarik mengikuti ajakan Sri Agung. Salah satunya Ketua RW 007 Brajan, Samijo.

“Belum lama ini, di lokasi itu diberi batu besar sebagai prasasti. Batu itu didatangkan dari Gunung Merapi. Saat malam Sura kemarin di lokasi itu ramai dikunjungi para pengikutnya," jelas Saptono.

Pemdes Brajan sudah mengingatkan Sri Agung agar minta izin ke kepolisian karena menghadirkan massa hingga 100-an orang. Hal senada dijelaskan Camat Prambanan, Suhardi.

Sebelum keberadaan Keraton Agung Sejagat Klaten diungkap polisi, pemerintah kecamatan sebatas mengenal Sri Agung sebagai kader Posyandu dan aktif berkecimpung di bidang kesenian.

“Saya itu kenal baik dengan Ibu Sri Agung. Orangnya itu terbuka dan banyak omong. Dia semanak. Dia kader Posyandu. Saya tahu kasus ini dari media. Saya juga sempat ngobrol dengan Ibu Sri Agung," kata Suhardi.

Kejam! 2 Maling di Karanganyar Ini Hanya Incar Kambing Jantan, Betinanya Digorok

Menurut informasi yang diperoleh Suhardi, Sri Agung direkrut sebagai penggawa Keraton Agung Sejagat pada 2018. Kemudian pada 2019, Sri Agung mulai membangun prasasti.

"Katanya, dia menjabat penggawa keraton. Kami ini tahunya di sana sanggar. Dengan adanya kasus ini, kami akan lebih berhati-hati menyikapi aliran baru seperti itu,” katanya.

Sementara itu, Solopos.com tak berhasil menemui Sri Agung di rumahnya yang sekaligus menjadi pusat kegiatan Keraton Agung Sejagat di wilayah timur Brajan, Prambanan.

Salah satu orang yang ditemui Solopos.com di rumah itu enggan berbicara. “Saya di sini tak ada sangkut pautnya. Saya dari Sleman. Saya hanya main. Kalau mau memperoleh informasi langsung ke Ibu Sri Agung saja. Saya ini akan pulang menjemput anak,” kata orang tersebut.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten