Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Antara/Humas Pemprov Jateng)

Solopos.com, SRAGEN - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo mewanti-wanti supaya kasus intoleransi di sekolah tidak terulang di Kabupaten Sragen. Hal itu disampaikan Ganjar Pranowo saat menjadi pembicara pada acara Pengarahan dan Audiensi Gubernur Jateng dengan Kerohanian Islam (Rohis) SMA-SMK di Sragen yang digelar di Aula SMAN 3 Sragen, Rabu (22/1/2020).

Kegiatan itu juga diikuti oleh para guru pembina Rohis di SMA-SMK di Kabupaten Sragen. Kegiatan itu digelar untuk menyikapi kasus intoleransi berupa intimidasi terhadap siswi tak berjilbab di SMAN 1 Gemolong beberapa waktu lalu. Pada kesempatan itu, Gubernur mengajak diskusi siswa terkait tantangan yang akan dihadapi bangsa Indonesia di masa mendatang.

Susanto Ikut Bantu Suporter Persis Solo yang Kecelakaan

Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi tantangan bangsa yakni memerangi kasus korupsi, menanggulangi rusaknya generasi muda hingga persiapan menghadapi revolusi industri 4.0. Gubernur berharap bangsa tidak terpecah belah karena ada banyak tantangan yang perlu dihadapi Indonesia di masa mendatang. Gubernur juga mengingatkan bahwa Indonesia dibangun dengan fondasi yang kokoh yakni Pancasila dan UUD 1945.

“Satu dari enam anak di sekolah mengalami perundungan dikarenakan latar belakang agama. Kasihan kan? Mungkin karena etnis lain, mungkin status sosial. Bagaimana mencegahnya. Sumber perundungan berbasis agama ini antara lain pergaulan, lingkungan, praktik ritual agama, dan isu yang mereka dengar. Isu yang belum tentu benar dan diperlukan krarifikasi atau tabayun. Itu jadi sesuatu yang penting,” papar Ganjar.

Disinggung terkait munculnya intimidasi yang dilakukan oleh pengurus Rohis kepada siswi tak berjilbab di SMAN 1 Gemolong, Ganjar berharap hal itu tidak terulang. Menurutnya, sesuatu yang bengkok harus diluruskan. Bila caranya salah, maka harus dibenarkan. Bila ada materi yang keliru, maka harus dievaluasi supaya tidak ada ajaran yang melenceng.

“Rohis perlu diedukasi dengan cara yang benar. Metodenya dibenarkan. Kalau ada ajaran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa dan negara ya harus diluruskan. Kalau tidak diluruskan biar nanti saya yang meluruskan gurunya,” papar Ganjar saat ditemui wartawan seusai acara.

Maju Pilkada Solo Lewat PDIP, Ketua DPC PPP Siapkan Modal Uang dan Aset Tanah

Ganjar mengaku sudah berkomunikasi dengan orang tua siswa korban intimidasi karena tidak berjilbab itu. Dia menghormati pilihan orang tua yang akhirnya memindahkan anaknya ke sekolah lain supaya lebih nyaman dalam belajar. Gubernur berpesan kepada semua siswa dan guru supaya kasus intoleransi tidak lagi terulang di sekolah.

“Pesan saya kepada guru, jangan [terulang]. Siapapun dia. Kalau nanti tidak bisa [jaga toleransi], biar Pak Gubernur yang mengurusi,” paparnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten