Jumlah Pengunjung Turun, Begini Cara Mal di Solo Bertahan di Tengah Pandemi
Suasana tenant di Solo Grand Mall (SGM), Senin (14/9/20202).(Solopos/Farida Trisnaningtyas)

Solopos.com, SOLO—Manajemen pusat perbelanjaan modern di Kota Solo berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melonggarkan batasan bagi pengunjung usia tertentu untuk bebas keluar masuk mal. Hal ini demi mendongkrak jumlah pengunjung yang notabene bakal meningkatkan penjualan tenant.

Tak dapat dimungkiri, angka pengunjung maupun omzet penjualan tenant di pusat perbelanjaan modern cenderung turun seiring masa pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Sejumlah tenant khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memilih hengkang lantaran minimnya pendapatan di kala pandemi. Di sisi lain, anchor brand besar tetap bertahan meski sempat menutup outlet-nya.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Solo, Veronica Lahji, mengatakan manajemen banyak melakukan efisiensi demi mal tetap beroperasi. Selain itu, manajemen juga sudah maksimal membantu tenant yang pastinya terdampak.

“Kami bantu tenant misalnya dengan memberi diskon atau keringanan biaya sewa outlet. Mereka [tenant] juga banyak melakukan efisiensi. Ada tenant cukup besar yang hanya mempekerjakan 1 karyawan,” ujarnya, kepada solopos.com, Senin (14/9/2020).

Marcomm Solo Paragon Mall ini mengakui ada pula tenant yang lepas atau memilih menutup gerainya karena berbagai pertimbangan. Menurutnya, persentasenya sedikit dan didominasi tenant UMKM.

Waduh! Target Tingkat Kemiskinan Sragen Terancam Tak Tercapai

Turnover

Public Relations Solo Grand Mall (SGM), Ni Wayan Ratrina, mengatakan di masa pandemi memang ada turnover beberapa tenant, tapi persentasenya kurang dari 5%. Ini didominasi tenant kuliner di Food Court. Meskipun begitu, kekosongan ini langsung terisi mengingat daftar tunggu tenant anyar di sektor food and beverages tersebut cukup panjang.

“Ada yang habis masa kontraknya, ada pula yang dia sewanya sebentar. Beberapa di antaranya karena harga menu terlalu mahal sehingga tak sesuai dengan pasar SGM,” paparnya.

Perempuan yang akrab disapa Ina ini membeberkan anjloknya jumlah pengunjung yang berdampak pada angka penjualan produk membuat sebagian besar tenant mengajukan diskon hingga pembebasan biaya sewa outlet selama pandemi. Meskipun begitu, tak semua pengajuan keringanan tersebut di-acc manajemen. Pihaknya memiliki beberapa kriteria tenant yang bisa memeroleh diskon sewa tempat. Antara lain, tenant lama, memiliki masa sewa cukup panjang, hingga kemampuan bayar.

Manager Area Ayam Keprabon, Felix Liyanto, mengatakan pihaknya menggeber baik penjualan online maupun offline selama pandemi. Menurutnya, dalam dua bulan terakhir omzet penjualan offline sempat menurun. Tenant Ayam Keprabon ini tersebar di sejumlah mal di Soloraya, antara lain di Solo Grand Mall (SGM) dan Solo Paragon Mall.

“Salah satunya kami bikin inovasi produk baru agar konsumen tidak bosan,” ujarnya.

Ini Instruksi Mahfud MD Terkait Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber

Dampak PSBB

Supervisor My Style, Rian Nur Hidayat, mengaku jumlah pengunjung yang belanja atau pun berkunjung di tenant fesyen asal Bandung ini menurun drastis dalam tiga hari terakhir. Menurutnya, ini sebagai dampak kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) baik yang resmi diterapkan DKI Jakarta hingga wacana serupa di Jawa Tengah.

“Di masa normal baru angkanya sempat naik, tapi sekarang turun lagi. Kalau biasanya ya bisa 80-90 pengunjung per hari, sekarang paling 20-30 orang. PSSB di Jateng kan katanya enggak, tapi ngefek juga,” paparnya.

Rian menjelaskan kini tenant yang biasa dijaga sebanyak 8 orang, tersisa 5 orang yang bekerja dalam 1 shift. Meski jumlah pengunjung merosot drastis jika dibandingkan sebelum adanya pandemi, My Style konsisten membuka outlet-nya.

“Kalau soal kaver biaya operasional tenant, ya manajemen yang tahu. Begitu juga dengan pengajuan sewa, ini urusan manajemen,” ungkapnya.

Kembali Buka

Sementara itu, Matahari Department Store (MDS) sempat menutup gerainya di seluruh Indonesia pada akhir Maret 2020 sebagai dampak pandemi Covid-19. Anchor besar ini kembali buka pada pertengahan Mei 2020 hingga sekarang.

Store Manager MDS SGM, Agus Budiyanto, membeberkan ritel fesyen ini kembali buka dengan semangat baru. Meski gerai tutup, semua karyawan tetap memeroleh gaji atau upah. Di samping itu, jika biasanya mengusung program September Ceria, di masa pandemi ini pihaknya mem-branding Save September.

“Setelah buka kembali, kami justru makin meningkatkan program bagaimana caranya customer loyal bisa beli produk kami. Makanya, produk dan harga yang kami tawarkan harus affordable menyesuaikan. Hasilnya, penjualan naik tiga kali lipat jika dibandingkan awal pandemi lalu. Banyak customer merindukan kami saat tutup dulu,” jelasnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom