Jos! Kegiatan Karang Taruna di Sragen Ini Hindarkan Remaja dari Kebiasaan Mabuk
Salah satu kegiatan remaja Dukuh Gonggongan, Desa Juwok, Sukodono, Sragen, yang dipandu oleh Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja Dukuh Gonggangan. (Istimewa/Hanung Candra Bintara)

Solopos.com, SRAGEN — Kalangan remaja karang taruna Dukuh Gonggangan, Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Sragen, diajak berkecimpung dalam berbagai kegiatan produktif sehingga terhindar dari kegiatan negatif seperti minum-minuman keras.

Di Dukuh Gonggangan berdiri Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja yang beranggotakan sekitar 40 remaja karang taruna dukuh setempat dan bergerak di bidang produksi kerajinan tangan dan mebel.

PIK Remaja yang bernaung di bawah Kampung Keluarga Berencana (KKB) Barayatama Gonggangan juga menyelenggarakan sejumlah kegiatan positif lainnya yang bisa diikuti oleh para anggota karang taruna dukuh setempat.

“Belum lama ini kami ajak anak-anak memanen aneka tanaman obat jenis empon-empon. Hasil panen kami tawarkan kepada warga sekitar dulu. Setelah itu kami jual ke pasar,” jelas Hanung Candra Bintara, 30, ketua PIK Remaja KKB Barayatama saat berbincang dengan Solopos.com di Sekretariat KKB Barayatama, Dukuh Gonggangan, Selasa (28/7/2020).

Sah! Golkar Dukung Duet Yuni-Suroto di Pilkada Sragen 2020

Selain berkecimpung dalam hal budi daya tanaman obat dan produksi mebel, para remaja karang taruna di dukuh ini juga dilibatkan dalam budidaya ikan lele, mengelola Agen BRI Link, serta bank sampah.

Taman Baca

Dalam waktu dekat, para remaja ini juga akan meresmikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang akan menggelar pendidikan kesetaraan Kejar Paket C. Bersamaan dengan itu, para remaja ini juga akan membuka taman baca di dukuh setempat.

“Kami memang sengaja membuat banyak kegiatan positif yang bisa diikuti anak-anak remaja sehingga mereka hampir tidak punya waktu untuk terjerumus dalam kegiatan negatif,” ucap Hanung.

Mayat Pria Bersimbah Darah di Sragen Bukan Korban Pembunuhan, Ini Keterangan Polisi

Berdirinya PIK Remaja di Dukuh Gonggangan sejak 2018 lalu bukan tanpa alasan. PIK Remaja berdiri dilatarbelakangi banyaknya keluhan dari para orang tua yang merasa kesulitan mengendalikan perilaku anak-anaknya.

“Dulu itu ada kebiasaan anak-anak remaja nongkrong. Kalau sudah nongkrong, kadang mereka menenggak minuman keras. Ada pula anak yang bandelnya kebangetan. Sama orang tua melawan dan dia tidak mau pulang ke rumah. Orang tua akhirnya datang ke ke kami. Mereka sudah pasrah, mau diapakan anak itu terserah,” ujar Fandra Nur Cahyanyo, 28, salah satu konselor sebaya di PIK Remaja Dusun Gonggangan.

Untuk menyadarkan para remaja itu, PIK Remaja sengaja menggunakan pendekatan personal. Untuk mendekati anak-anak nongkrong itu, Fandra harus ikut nongkrong terlebih dahulu.

Secara pelan-pelan, Fandra memberikan pemahaman supaya para remaja itu bisa mengisi kegiatan yang positif.

Mendekati Pelan-Pelan

Namun Fandra tidak langsung memberikan justifikasi bahwa kebiasaan menongkrong itu tidak baik, membuang-buang waktu dan rawan disalahgunakan untuk kegiatan negatif.

“Kalau kami datang langsung bilang kalau nongkrong itu tidak baik, pasti akan mental. Makanya kami harus mendekati mereka secara pelan-pelan. Setelah hubungan kami merasa lebih dekat dan mereka mulai nyaman, baru kami ajak mereka dalam kegiatan positif. Alhamdulilah, sekarang hampir tidak ada pemuda nongkrong yang biasa menenggak minuman keras di kampung kami. Sekarang mereka beralih ke kegiatan positif,” papar Fandra.

Fandra juga melakukan pendekatan personal kepada anak remaja yang kerap membantah orang tua hingga tidak mau pulang ke rumah.

Lagi, Petani Duyungan Jadi Korban Meninggal Ke-8 Jebakan Tikus Berlistrik Di Sragen

Remaja itu akhirnya mau berterus terang mengapa sikap ia akhir-akhir ini berubah kepada orang tuanya. Rata-rata, kenakalan remaja yang terjadi di Dukuh Gonggongan tersebut dilatarbelakangi masalah keluarga.

“Pada awalnya dia tertutup, setelah kami beri bimbingan, akhirnya dia mau terbuka. Semua masalah yang ia pendam selama ini akhirnya ia ceritakan. Setelah itu, baru kami berikan solusi. Kalau tidak tahu sumber masalahnya, kami tentu kesulitan untuk memberi solusi,” ucap Fandra.

PIK Remaja Dusun Gonggangan juga memiliki konselor sebaya seorang perempuan. Konselor itu turut berperan dalam mengedukasi remaja, khususnya perempuan terkait kesehatan reproduksi.

“Kan banyak anak remaja perempuan sungkan bertanya masalah menstruasi kepada keluarga atau teman. Melalui konselor sesama perempuan, mereka bisa dapatkan pemahaman penting terkait kesehatan reproduksi,” ujae Fandra.

44 Warga Sragen Dites Swab, 25 Di Antaranya Kontak Erat Tukang Kayu Sumberlawang

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom