Ini Sejarah Kilang Minyak Cilacap, Terbesar di Indonesia

Berikut ini Solopos.com rangkumkan sejarah kilang minyak Cilacap di Jawa Tengah.

Senin, 26 September 2022 - 19:46 WIB Penulis: Aghniya Fitrisna Damartiasari Editor: Sri Sumi Handayani | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Kilang Minyak Cilacap merupakan Kilang Minyak terbesar yang ada di Indonesia. Letaknya juga dianggap paling strategis (Youtube/Pertamina)

Solopos.com, SOLO — Kilang minyak Cilacap disebut-sebut menjadi kilang minyak terbesar di Indonesia. Berikut ini Solopos.com rangkumkan sejarah kilang minyak Cilacap di Jawa Tengah.

PT Pertamina memiliki 7 kilang minyak yang tersebar di seluruh Indonesia, di antara kilang minyak Plaju di Sumatera Selatan, kilang minyak Pangkalan Brandan di Sumatera Utara, dan kilang minyak Putri Tujuh di Riau.

Kemudian, kilang minyak Balikpapan di Kalimantan Timur, kilang minyak Balongan di Jawa Barat, dan kilang minyak Kasim di Papua. Terakhir, kilang minyak Cilacap di Jawa Tengah. Kilang minyak yang terakhir ini disebut-sebut paling besar.

Lalu, bagaimana sejarah berdirinya kilang minyak Cilacap hingga menjadi yang terbesar di Indonesia?

Lokasi kilang minyak Cilacap dianggap paling strategis di Asia Tenggara. Dikutip dari kanal youtube Daftar Top, Selasa (13/9/2022), kilang minyak Cilacap disebut-sebut sebagai kilang minyak terbesar di Indonesia. Kapasitas produksi mencapai 348.000 barrel per hari. Bahkan, sebagian besar pasokan minyak nasional dari Kilang Minyak Cilacap.

Baca Juga : Ini 5 Kilang Minyak di Indonesia, Cilacap Terbesar

Kilang minyak Cilacap menjadi satu-satunya di Indonesia yang mampu memproduksi aspal sebagai material pendukung pembangunan infrastuktur di Indonesia. Diintip dari laman resmi pertamina.com, Refinery Unit IV Cilacap memiliki beberapa kilang.

Berikut data kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah:

  1. Kilang Minyak I

Kilang Minyak I dibangun pada tahun 1974 dan mulai beroperasi setelah diresmikan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1976.

Semula, kilang minyak I memiliki kapasitas 100.000 barrel per hari. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat pada sekitar tahun 1998-1999 melalui debottlenecking project kapasitasnya ditambah menjadi 118.000 barrel per hari.

Baca Juga : Mantap! Pendapatan Daerah Cilacap 2021 Capai Rp3,3 Triliun

Kilang minyak Cilacap dirancang secara khusus untuk dapat mengolah bahan baku minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah. Di samping BBM, hal tersebut ditujukan mendapatkan hasil berupa bahan dasar minyak pelumas (lube oil base) dan aspal.

Mengapa harus menggunakan minyak dari Timur Tengah? Sebab, butuh biaya lebih untuk mengolah minyak dengan karakteristik yang dimiliki Indonesia.

  1. Kilang Minyak II

Sejarah kilang minyak Cilacap berikutnya mengulas tentang kilang minyak lain yang dimiliki Cilacap, yakni kilang minyak II. Pembangunannya dimulai pada tahun 1981 sebagai upaya memenuhi kebutuhan BBM yang semakin meningkat.

Kilang minyak II Cilacap diresmikan Presiden Republik Indonesia dan mulai beroperasi pada 4 Agustus 1983. Semula memproduksi 200.000 barrel minyak per hari.

Namun, melalui proyek peningkatan kapasitas (debottlenecking) pada tahun 1998-1999, kilang minyak II Cilacap meningkatkan kapasitas produksinya hingga 230.000 barrel per hari. Kilang minyak II Cilacap mengolah minyak campuran atau yang disebut minyak cocktail dari dalam maupun luar negeri.

Baca Juga : Sederet Fakta Unik Cilacap, Kabupaten Terluas di Jateng

  1. Kilang Paraxylene

Pertamina membangun Kilang Paraxylene pada tahun 1988. Pertimbangannya untuk memenuhi ketersediaan bahan baku naphtha dari kilang minyak II Cilacap, lalu ada sarana pendukung dermaga tangka dan utilitas, dan peluang pasar di dalam maupun luar negeri.

Kilang Paraxylene Cilacap mulai beroperasi sejak 20 Desember 1990 setelah diresmikan Presiden Republik Indonesia. Pembangunannya ditujukan untuk menghasilkan produk NBM dan juga petrokimia.

Berbagai jenis produk telah dihasilkan kilang minyak Cilacap. Salah satunya aspal. Kegunaannya sebagai material pembuatan jalan dan landasan pesawat yang berfungsi sebagai perekat, bahan pengisian, dan bahan kedap air. Aspal juga dapat digunakan sebagai material antikarat, bahan pembuatan isolasi listrik, maupun penyekat suara.

Produk lain yang dihasilkan adalah heavy aromate. Produk sampingan Pertamina ini diproduksi unit Naphtha Hydro Treater sebagai bahan solvent.

Baca Juga : Rentetan Kebakaran di Kilang Minyak Pertamina Sepanjang 2021

Ada lagi lube base oil yang digunakan sebagai bahan baku pelumas. Pelumas diproduksi MEK Dewaxing Unit (MDU) I, II, dan III kilang minyak Cilacap, Lube base oil dikemas dalam bentuk cair dan terbagi menjadi beberapa jenis produk, seperti HVI-60, HVI-95, HVI-160S, HVI-160B, HVI-650.

Hasil bahan baku pelumas tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pelumas mesin hingga bahan pembuatan kosmetik.

Kemudian terdapat juga low sulphur waxy residue (LSWR) yang digunakan sebagai bahan baku pemrosesan berbagai produk, seperti BBM dan NBM. LSWR yang diproduksi Crude Distilasi Unit kilang minyak Cilacap ini dapat digunakan sebagai bahan pemanas di negara bersuhu dingin.

Kilang minyak Cilacap juga menghasilkan minarex untuk mengakomodir kebutuhan proses pembuatan oil pada industri karet, ban, hingga tinta cetak. Minarex memiliki manfaat memperbaiki proses penulakan dan pemekaran karet, serta menurunkan kekentalan komponen karet.

Selain produk-produk di atas, kilang minyak Pertamina di Cilacap ini juga menghasilkan produk Paraffinic Oil, Paraxylene, slack wax, dan Toluene.

Baca Juga : Satu Tangki di Kilang Pertamina Indramayu Kembali Terbakar, Ini Tindakan Polisi

Terakhir tentang sejarah kilang minyak Cilacap ini pernah terbakar pada tahun 2021. Sebagaimana dikutip dari bisnis.com, kilang minyak Cilacap mengalami kebakaran hingga 2 kali.

Kebakaran pertama terjadi di bundwill tangka 39T-205, area pertangkian 39 Pertamina RU IV Cilacap pada 11 Juni 2021, tepatnya pada pukul 19.45. Musibah kedua terjadi pada 13 September 2021. Sebanyak 31.000 kiloliter komponen pertalite pada tangka 36T-102 hangus terbakar.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif
HEADLINE jateng Kulon Omah Coffee, Tempat Nongkrong dengan View Pegunungan Telomoyo dan Merbabu 39 menit yang lalu

HEADLINE jateng Peduli Lansia, Kapolres Salatiga Antarkan Pasutri Peroleh Pengobatan Gratis 6 jam yang lalu

HEADLINE jateng Lindu Aji Championship Kembali Digelar, 50 Fighter Siap Berebut Uang Rp250 Juta 15 jam yang lalu

HEADLINE jateng Jelang Tutup Tahun, DPRD Kota Semarang Desak Pemkot Kebut Proyek Infrastruktur 15 jam yang lalu

HEADLINE jateng Komisaris KAI Dukung Penataan Stasiun Cepu yang Sudah Berusia 120 Tahun 16 jam yang lalu

HEADLINE jateng Firasat Ayah Korban Kecelakaan Bus di Sarangan, Sempat Mimpi Dirikan Tenda 17 jam yang lalu

HEADLINE jateng Salatiga Digoyang Gempa, BPBD: Ada 2 Sesar Aktif 17 jam yang lalu

HEADLINE jateng Hadiri Kirab Pusaka HUT Blora, Mangkunagoro X Beri Tombak 17 jam yang lalu

HEADLINE jateng Kesaksian Warga Manyaran Semarang Selamat dalam Kecelakaan Maut Bus di Sarangan 18 jam yang lalu

HEADLINE jateng Pasutri Semarang Meninggal Kecelakaan Maut Bus di Sarangan, Anak Cucu Selamat 21 jam yang lalu

HEADLINE jateng Kota Salatiga Raih Penghargaan I-SIM for Cities 21 jam yang lalu

HEADLINE jateng Air Sumur Warga Salatiga Sempat Panas, Diduga Aliran Lahar Gunung Merbabu 22 jam yang lalu

HEADLINE jateng Bejat! Guru Ngaji di Batang Cabuli Bocah Berusia 6 Tahun 22 jam yang lalu

HEADLINE jateng Festival Kampung Singkong Salatiga, Sebuah Mimpi Bahagia 23 jam yang lalu

HEADLINE jateng Iriban, Tradisi Warga Desa Kenteng Kabupaten Semarang Bersihkan Sendang Desa 1 hari yang lalu