Ini Isi Spanduk Makian untuk Pejabat dari Kades Jenar Sragen

Ini makna kalimat makian untuk pejabat yang disampaikan Kades Jenar Sragen melalui baliho di tepi jalan.

 Baliho berisi cacian dan makian kepada pemerintah dipasang Kades Jenar, Samto, pada Rabu (14/7/2021). Baliho itu dibongkar Tim Satgas Penanggulangan Covid-19 Kecamatan Jenar, Sragen, hari itu juga. (Istimewa/Kardiyono)

SOLOPOS.COM - Baliho berisi cacian dan makian kepada pemerintah dipasang Kades Jenar, Samto, pada Rabu (14/7/2021). Baliho itu dibongkar Tim Satgas Penanggulangan Covid-19 Kecamatan Jenar, Sragen, hari itu juga. (Istimewa/Kardiyono)

Solopos.com, SRAGEN – Kades Jenar, Sragen, Jawa Tengah, Samto, melakukan aksi kontroversial. Dia memasang spanduk  berisi makian untuk pejabat.

Spanduk berukuran sekitar 3×4 meter itu terpampang di tepi jalan Desa Jenar, Kecamatan Jenar, Sragen, sejak Rabu (14/7/2021) pagi. Pada baliho itu terpampang foto Kades Jenar, Samto, yang mengenakan pakaian dinas.

Spanduk itu berisi kalimat makian  yang ditulis dengan huruf kapital. Samto menyampaikan kekesalannya kepada pejabat yang dianggap tidak memikirkan nasib rakyat kecil.

IKI JAMAN REVORMASI. ISIH KEPENAK JAMAN PKI. AYO PEJABAT MIKIR NASIBE RAKYAT. PEJABAT SING SENENG NGUBER-NGUBER RAKYAT KUI BANGSAT. PEJABAT SENG GOLEKI WONG DUWE GAWE IKU KERE. PEGAWAI SING SIO KARO SENIMAN SENIWATI KUI BAJINGAN.”

Baca juga: Tak Disangka, Si Cantik Sisca Saraswati JKT48 Ternyata Cah Wonogiri

“Ini zaman reformasi. Masih enak zaman PKI. Ayo pejabat memikirkan nasib rakyat. Pejabat yang mengejar-ngejar rakyat itu bang**t. Pejabat yang mencari orang punya hajatan itu miskin. Pejabat yang menyia-nyiakan seniman seniwati itu bajing**n,” demikian arti dari kalimat makian dalam spanduk yang menggegerkan warga Sragen itu.

Warga pun melaporkan keberadaan spanduk tersebut kepada jajaran Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspimcam) Jenar yang langsung direspons dengan mengirimkan tim ke lokasi.

Tim terdiri atas tiga aparatur sipil negara (ASN) di Kecamatan Jenar, lima anggota Polsek Jenar dan tiga anggota Koramil Jenar. Saat mereka datang untuk membongkar baliho itu, Kades Jenar, Samto, juga datang ke lokasi.

Baca juga: Gisel Ngaku Jadi Orang Pertama Sebar Video Mesum Bareng Nobu

Aksi Kades Jenar Sragen

Samto berusaha menghalang-halangi petugas yang akan membongkar baliho itu. Ia bahkan mengancam akan memasang baliho yang lebih banyak jika baliho itu dibongkar.

“Dia bilang, mang copot mangke kula pasang kaleh warga kula maleh [silakan dicopot nanti saya pasang bersama warga saya lagi],” ujar Kasi Trantib Kecamatan Jenar, Kardiyono, menirukan perkataan Kades Jenar, saat diwawancarai Solopos.com, Rabu.

Hasil klarifikasi yang dilakukan Camat Jenar, Edi Widodo, Samto mengakui telah memasang baliho itu. Samto mengaku nekat memasang baliho itu karena tidak percaya Covid-19.

Baca juga: Ini Deretan Urusan Ranjang Gisel dan Nobu yang Terkuak di Persidangan

Kades Jenar itu menyatakan peraturan yang dibuat pemerintah selama ini menyengsarakan warga karena banyak warga yang dilarang. Informasi yang dihimpun Solopos.com, Kades Jenar, Samto, beberapa kali melontarkan pernyataan ia tidak percaya Covid-19.

Oleh sebab itu, ia juga enggan memakai masker sampai sekarang. Saat warga desa lain dilarang mengadakan hajatan demi mencegah penularan Covid-19, ia justru menjamin warganya bisa melaksanakan hajatan tanpa gangguan.

Baca juga: Viral Fortuner Dikejar Warga Karanganyar Gegara Tabrak Lari, Pelaku Ternyata Masih di Bawah Umur

Namun, pada akhirnya, hajatan yang digelar warga Desa Jenar itu dibubarkan oleh Satgas Penanggulangan Covid-19 Kecamatan Jenar. Hal itulah yang membuatnya marah karena warganya tidak bisa menyelenggarakan hajatan walau sudah dijamin olehnya.

Kapolsek Jenar, AKP Suparjono, membenarkan adanya kegiatan pencopotan spanduk berisi cacian kepada pemerintah itu di Desa Jenar. “Sekarang masih kami lidik,” ujarnya dalam pesan singkat yang diterima Solopos.com.

Sementara itu, Kades Jenar, Samto, belum bisa dimintai konfirmasi perihal pemasangan baliho ang membuat geger publik Sragen itu. Saat dihubungi Solopos.com, nomor teleponnya tidak aktif.


Berita Terkait

Berita Terkini

Lahan Tak Jadi Digusur BPSMP Sangiran, Dua Warga Bukuran Malah Protes

Dua warga Desa Bukuran memprotes Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran karena lahannya tak jadi dgusur. Mereka mengaku sudah lama mengikuti proses pembebasan lahan.

Owner Banana Garden Resto Sukoharjo Bantah Tudingan Soal Kera Liar

Pemilik Banana Garden Resto membantah kera liar di permukiman penduduk Desa Laban, Mojolaban, Sukoharjo, berasal dari kebun binatang mini di resto itu.

Pemkot Solo Siapkan Gedung Isolasi Terpusat Pelajar, Ini Lokasinya

Pemkot Solo mewacanakan ada tempat isolasi terpusat khusus pelajar menyikapi bertambahnya jumlah kasus Covid-19 dari lingkungan sekolah yang menggelar PTM.

Pokja Bunda PAUD Sragen Dikukuhkan Bupati, Apa Sih Tugasnya?

Pokja Bunda PAUD Sragen yang dikukuhkan berisi perwakilan dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).

Klaten Hari Ini: 26 Oktober 2010, Wedus Gembel Turun, Warga Dievakuasi

Sebelas tahun lalu, tepatnya pada 26 Oktober 2010, awan panas atau biasa disebut wedus gembel mulai meluncur ke arah selatan dari Gunung Merapi, pada sore hari.

Hindari Emak-Emak, Mobil Pikap Terguling di Telukan Sukoharjo

Mobil pikap pengangkut semen terguling di jalan Sukoharjo-Wonogiri wilayah Telukan, Grogol, Sukoharjo, gara-gara menghindari emak-emak naik motor jalannya tidak stabil.

10 Kasus Pembunuhan Paling Sadis di Klaten, Korban Ada yang Lagi Hamil!

Sejak 2010, terdapat belasan kasus pembunuhan yang terjadi di Klaten, namun Solopos.com hanya menyajikan informasi terkait 10 kasus pembunuhan paling sadis sejak 11 tahun terakhir.

Bupati Sragen Minta Semua Pelayanan Publik Wajib Pakai PeduliLindungi

Bupati Sragen mengaku sulit untuk bisa memasang aplikasi PeduliLindungi karena harus mendapatkan izin dari Kemenkominfo.

Lampaui Target, Transaksi SGS 2021 Hampir Rp1 Triliun

Nilai transaksi selama pelaksanaan Solo Great Sale atau SGS 2021 sudah melampaui target yang ditetapkan senilai Rp800 miliar.

1.556 Keluarga di 4 Kecamatan di Sragen Krisis Air Bersih

Empat dati tujuh kecamatan langganan kekeringan di Sragen mengalami krisis air bersih. Tiga kecamatan lain sudah mentas.

Buntut Mahasiswa Meninggal, UNS Solo Bekukan Sementara Kegiatan Menwa

UNS Solo membekukan sementara kegiatan Resimen Mahasiswa (Menwa) setelah ada satu mahasiswa yang meninggal seusai diklat Menwa.

Hampir 2 Tahun Tutup, Pasar Mbatok Kemuning Akhirnya Buka Lagi Lur

Pasar Mbatok di Kemuning, Ngargoyoso, sudah kembali beroperasi sejak Sabtu dan Minggu (23-24/10/2021) setelah tutup karena pandemi Covid-19.

Waduh! Buruh Sukoharjo Sebut Rumus Baru UMK Beratkan Pekerja

Serikat buruh Sukoharjo menilai penghitungan upah minimum kabupaten atau UMK 2022 mendatang justru memberatkan pekerja.

Kodim dan Polres Wonogiri Pastikan Bansos PKL dan Warung Tepat Sasaran

Kodim Wonogiri mengolah data penerima bansos BTPKLW dengan cara menyandingkannya dengan data induk di sistem.

Salurkan Bansos BTPKLW di Wonogiri, TNI-Polri Jamin Tak Ada Potongan

BTPKLW merupakan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah pusat yang disalurkan kepada sasaran melalui institusi TNI dan Polri.

Mahasiswa UNS Solo Meninggal, Polisi Periksa Panitia dan Barang Bukti

Polisi belum dapat memastikan ada tidaknya unsur pidana dalam kasus mahasiswa UNS Solo yang meninggal dunia seusai mengikuti diklat Menwa.