Ini Dia Fenomena Astronomi Pekan Ini…
Gambar keidahan langit malam diambil dari Instagram @theourspace, Minggu (6/9/2020). (Instagram-@theourspace)

Solopos.com, JAKARTA — Selama sepekan, longgarkan aktivitas Anda untuk mencoba melihat langit beserta objek-objeknya. Sebab untuk beberapa waktu ke depan, langit akan dihiasi berbagai fenomena astronomi yang akan memanjakan mata Anda.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Space.com mencatat sejumlah fenomena antariksa yang akan terjadi pada kurun waktu, Rabu-Minggu (9-12/9/2020). Fenomena astronomi yang akan terjadi itu, antara lain Mars Stand Still, Fase Perbani Akhir, Retrograde Mars, Bulan Sabit Bertemu Messier 35, Deklanasi Maksimum Utara Bulan, dan Oposisi Neptunus.

Fenomena astronomi itu dilansir Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) melalui laman edukasi.sains.lapan.go.id dan Space.com, Minggu (6/9/2020). Berikut ini adalah beberapa fenomena astronomi yang dapat diamati pada Rabu-Minggu (9-12/9/2020)

Mars Stand Still: 9 September 2020

Mars Stand Still 9 September 2020. (Space.com)
Mars Stand Still 9 September 2020. (Space.com)

Fenomena ini terjadi saat Mars menghentikan gerakannya ketika melewati latar belakang bintang Pisces menuju ke arah timur. Lalu, Mars akan mulai berbalik arah [garis merah dengan label tanggal] dan diprediksi akan melewati oposisi pada bulan Oktober dan berakhir pada pertengahan November. Kejadian ini terjadi Rabu (9/9/2020).

Jika Anda tertarik untuk melihat pergerakan Mars, Anda bisa mencatat perbandingan setiap posisi pergerakan Mars dengan bintang di sekitarnya, setiap malam. Fenomena astronomi ini merupakan kejadian pertama yang teramati pada pekan kedua September 2020.

Fase Perbani Akhir: 10 September 2020

Fase Perbani Akhir 10 September 2020. (Space.com)
Fase Perbani Akhir 10 September 2020. (Space.com)

Fenomena astronomi  ini akan mulai terjadi di Indonesia Kamis (10/9/2020) pukul 16.25.40 WIB, Bulan akan terbit sekitar tengah malam dan tetap terlihat di langit selatan sepanjang pagi. Nantinya, Bulan akan berjarak 396.196 km dari Bumi [geosentris]. Pada saat fenomena ini terjadi, Bulan akan berada di konstelasi Taurus dekat manzilah Aldebaran.

Bulan akan terbit sekitar tengah malam dari arah timur-timur laut, kemudian berkulminasi ke arah utara menjelang terbit Matahari dan akan diprediksi tenggelam dari arah barat-barat laut menjelang tengah hari.

Retrograde Mars: 10 September 2020

Retrograde Mars 10 September 2020. (Space.com)
Retrograde Mars 10 September 2020. (Space.com)

Puncak dari Retrograde Mars adalah Oposisi Mars, yakni ketika seluruh permukaan Mars yang menghadap Bumi terkena sinar matahari, sehingga akan tampak lebih terang. Oposisi Mars tahun ini terjadi Rabu (14/10/2020).

Fenomena Retrograde adalah gerak semu planet yang tampak berlawanan arah, dari timur ke barat dibandingkan dengan gerak normalnya, dari barat ke timur jika diamati dari Bumi.

Retrograde Mars akan dimulai Kamis (10/9/2020) sekitar pukul 05.23 WIB dan berakhir Sabtu (14/112020) sekitar pukul 07.36 WIB. Dengan demikian, Retrograde Mars berlangsung selama 65 hari. Retrograde Mars berikutnya diprediksi akan terjadi dua tahun mendatang, yakni pada Jumat (30/10/2022).

Bulan Sabit Bertemu Messier 35: 11 September 2020

Bulan Sabit Bertemu Messier 35 pada 11 September 2020. (Space.com)
Bulan Sabit Bertemu Messier 35 pada 11 September 2020. (Space.com)

Bulan sabit bertemu Messier 35 atau crescent moon meets Messier 35 adalah fenomena astronomi ketika Bulan sabit muncul dan memudar. Fenomena unik ini akan terjadi pada pukul 12.00 pagi waktu setempat pada, Jumat (11/9/2020), dan berada di sebelah barat langit dari gugus bintang besar dan terbuka, yaitu Gemini atau Messier 35 atau biasa disebut Shoe-Buckle.

Selama sisa malam, gerakan orbit Bulan (garis hijau) akan membawanya lebih dekat ke cluster, sehingga fenomena tersebut terlihat hanya selebar satu jari di sebelah kanan Messier 35, dan terlihat sebelum fajar.

Deklanasi Maksimum Utara Bulan: 12 September 2020

Deklanasi maksimum utara Bulan. (Edukasi.sains.lapan.go.id)
Deklanasi maksimum utara Bulan. (Edukasi.sains.lapan.go.id)

Deklanasi maksimum utara, yaitu ketika Bulan berada di posisi paling utara dari equator langit, sebagaimana solstis Juni pada matahari. Pada saat itu, bulan akan berada pada deklanasi maksimum utara pada pukul 12.25.04 WIB dengan jarak geosentris 386421 km, iluminasi 31.88%, dan lebar sudut 9.9 menit busur.

Puncak maksimum deklanasi Bulan bervariasi antara 18,3 hingga 28,6. Hal ini disebabkan oleh orbit bulan yang memiliki kemiringan 5.15 terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45.

550 Spesies Mamalia Bakal Ikuti Jejak Mammoth

Fenomena astronomi berupa deklanasi maksimum utara kali ini adalah 24,35 dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 54,7, Pulau Rote hingga 71,7, Pulau Weh. Kulminasi tersebut terjadi selama satu jam setelah terbit matahari sekitar pukul 07.00 WIB saat Bulan berada di arah Utara.

Saat kejadian ini berlangsung, Bulan terletak di konstelasi Gemini dekat manzilah Alhena dan berada di atas ufuk sejak pukul 01.15 WIB hingga pukul 12.45 WIB dari arah Timur-Timur Laut hingga Barat-Barat Laut.

Oposisi Neptunus: 12 September 2020

Oposisi Neptunus pada 12 September 2020. (Space.com)
Oposisi Neptunus pada 12 September 2020. (Space.com)

Oposisi Neptunus merupakan fenomena ketika konfigurasi Matahari, Bumi, dan Neptunus tampak segaris. Kala itu, Neptunus terletak pada posisi berlawanan arah dengan Matahari.

Tahun ini, oposisi Neptunus akan terjadi pada, Sabtu (12/9/2020) pukul 03.10 WIB. Ketika oposisi ini berlangsung jarak Neptunus sebesar 28,92 SA atau 4,33 miliar km. Sehingga, akan terlihat seperti sebuah cakram berwarna biru pucat dengan sudut diameter 0,04 menit busur dan magnitude tampak +7,8. Nantinya, Neptunus akan dapat diamati dengan teleskop berdiameter kecil (kurang dari 50 cm).

Neptunus akan berada di atas ufuk pukul 19.00 WIB keesokan harinya, dan berkulminasi menjelang tengah malam di dekat Zenit. Neptunus dapat ditemukan di konstelasi Aquarius dekat manzilah Sadachbia (al-Alkhibiyah). Pastikan cuaca cerah dan bebas dari polusi cahaya ataupun penghalang lainnya agar dapat menyaksikan titik biru pucat ini.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya


Kolom