Ilustrasi petani garam. (Detik.com)

Solopos.com, CIREBON – Harga garam di Cirebn anjlok lantaran tak kunjung laku. Saat ini, harga satu kilogram garam sangat rendah, hanya Rp100. Harga tersebut membuat petani garam sedih dan hanya bisa mengelus dada.

Petani garam asal Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Cirebon, Jawa Barat, Ismail, sedih bukan main. Dia hanya bisa menimbun hasil produksi garamnya di gudang lantaran tak ada tengkulak yang mampir.

Sudah dua bulan garam hasil panen Ismail tak laku. Dia pun menyimpan garam tersebut di gudang. Produksi garamnya meningkat lantaran musim panas kali ini lebih panjang. Namun, hal itu tak dibarengi dengan peningkatan penjualan. Alhasil, harga garam pun anjlok.

“Sekarang sudah Rp100 per kilogramnya. Awal-awal panen sempat Rp500 hingga Rp700 per kilogramnya,” terang Ismail seperti dikutip dari Detik.com, Sabtu (7/12/2019).

Sama halnya dengan Ismail, petani garam lainnya, Tohari, juga merasakan kesulitan yang sama. Kini, Tohari terpaksa mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebab, dia tidak bisa mengandalkan penjualan garam akibat sepi pembeli.

“Solusinya sekarang ya garamnya disimpan di gudang. Kemudian untuk makan sehari-hari ya cari pendapatan lain. Kadang mengutang,” terang Tohari.

Salah satu tengkulak garam di desa tersebut, Dul Goni, menyebut garam produksi petani tak laku karena jumlah produksi mengalami peningkatan. Faktor lainnya adalah adanya kebijakan impor garam.

Sama seperti petani garam, Dul Goni juga merasakan kesulitan yang sama akibat anjloknya harga garam. Dia pun meminta pemerintah menutup keran impor garam.

“Kemarau tahun ini panjang. Garam melimpah. Cukuplah untuk memenuhi kebutuhan. Jadi harusnya tak impor,” katanya.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten