SOLOPOS.COM - Ilustrasi dukungan demonstran di Indonesia bagi eksistensi Palestina. (Antara-Novrian Arbi)

Solopos.com, JAKARTA — Dua kubu bertikai di Jalur Gaza Palestina akhirnya melakukan gencatan senjata. Diawali disetujuinya proposal Mesir oleh Hamas dan disususl pengumuman senada oleh Israel maka sejak Jumat (21/5/2021) 06.00 WIB atau 02.00 waktu setempat dilakukan penghentian tembak-menembak.

Padahal pemboman udara oleh Israel di Gaza yang berpenduduk padat telah menewaskan 232 warga Palestina. Sebaliknya, serangan roket oleh milisi ke wilayah yang diduduki Israel telah menewaskan 12 orang selama berlangsungnya konflik 11 hari.

Promosi Kredit BRI Tembus Rp1.308,65 Triliun, Mayoritas untuk UMKM

Dikutip Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) dari Yahoo! News, kantor perdana menteri Israel mengatakan gencatan senjata dilakukan secara timbal balik dan tanpa syarat. Kesepakatan gencatan senjata di Gaza Palestina itu memerupakan perjanjian langsung untuk diam (quite for quite).

Baca Juga: Begini PAN Memandang Pilpres 2024...

Meskipun Israel dan Hamas telah menerima proposal Mesir untuk membahas lebih banyak masalah terkait Gaza pada tahap selanjutnya. Namun, beberapa pejabat Hamas mengklaim perjanjian gencatan senjata termasuk komitmen tentang kebijakan Israel di Yerusalem, termasuk aparat di masjid Al-Aqsa dan kemungkinan penggusuran warga Palestina dari Yerusalem Timur demi pemukim Yahudi, yang secara tegas dibantah oleh seorang pejabat senior Israel dalam komentarnya.

Makna Gencatan Senjata

Dikutip dari collinsdictionary.com, gencatan senjata di Gaza Palestina adalah pengaturan negara atau kelompok orang yang bertikai setuju berhenti berperang. Berdasarkan laporan di situs peacemaker.un.org, perjanjian gencatan senjata biasanya bergantung pada geografis tertentu penanda yang menjadi kewajiban masing-masing pihak, yaitu:

1. Garis pelepasan;
2. Garis dari mana atau ke mana gaya dibutuhkan menarik atau menyebarkan;
3. Titik pertemuan atau distrik atau wilayah di mana kekuatan diharuskan untuk dibatasi;
4. Zona demiliterisasi di kedua sisi garis pelepasan atau kurungan, atau di tempat lain;
5. Posisi monitor.

Baca Juga: Kelamaan Mandi Bisa Berbahaya!

Sangat penting bahwa penanda geografis disepakati dan selanjutnya, dalam hal ini diperlukan peta dengan kualitas terbaik dan harus dilampirkan pada perjanjian.

Selain itu, harus ada yang jelas kesepakatan antara para pihak mengenai garis / titik distrik yang dimaksud dalam perjanjian serta modalitas untuk menangani sengketa, di mana kebingungan muncul mengenai posisi yang tepat, dirujuk untuk dalam perjanjian.

Dalam gencatan senjata, kedua pihak yang bertikai harus mempertimbangkan akan ada perekrutan berkelanjutan, pelatihan, pasokan ulang atau bahkan peningkatan persenjataan. Padahal kegiatan seperti itu sering kali menimbulkan tuduhan bahwa gencatan senjata digunakan untuk tujuan memperkuat persiapan kekuatan untuk keterlibatan baru di medan pertempuran.

Baca Juga: 4 Zodiak Ini Konon Pendengar Terbaik

Oleh karena itu, kegiatan semacam itu perlu diakui seperti kemajuan dan kesepakatan yang dicapai pada tingkat dan bentuk yang diizinkan, misalnya latihan, rekrutmen, dan re-supply persenjataan.

Seperti diketahui, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada di bawah tekanan internasional untuk menyetujui gencatan senjata, termasuk dari pemerintahan Joe Biden. Namun, dia bersikeras bahwa Israel membutuhkan waktu tambahan untuk menyelesaikan tujuan militernya di Gaza.

Mesir, sebagai pihak merundingkan gencatan senjata dengan Israel dan Hamas, mengumumkan bahwa delegasi keamanan akan melakukan perjalanan ke Gaza dan Israel untuk memantau dan membantu menstabilkan gencatan senjata.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya