Rambak kulit sapi produksi rumahan di Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Klaten, Minggu (17/11/2019). (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Jajanan rambak kulit yang diproduksi warga Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Klaten, kerap diburu untuk oleh-oleh. Rasa gurih dan renyah rambak berbahan dasar kulit sapi itu memang bikin susah mandek saat menikmatinya.

Kini ada 25 perajin rambak yang tersebar ke berbagai dukuh di Plosowangi seperti Wahyumulyo, Tegalmulyo, serta Dukuh Tukuman.

Salah satu perajin rambak kulit di Plosowangi Klaten, Ny. Hadi Kati, 60, mengatakan produksi rambak kulit sudah dilakukan warga secara turun-temurun. Proses pembuatan rambak dilakukan dengan terlebih dahulu mencari bahan baku berupa kulit sapi.

“Kulit sapi yang digunakan untuk produksi itu kulit sapi yang benar-benar masih segar dari hewan yang baru saja disembelih. Tidak ada bahan pengawet dari rambak yang dibikin,” katanya saat ditemui solopos.com di rumahnya, Minggu (17/11/2019).

Perajin yang tinggal di Dukuh Tegalmulyo Plosowangi itu mengatakan ada berbagai jenis rambak dibikin warga. Seperti rambak yang dia produksi yakni jenis rambak sayur yang kerap digunakan untuk campuran pada sayuran serta rambak yang bisa langsung dikonsumsi.

Perbedaan dari kedua jenis rambak tersebut yakni pada jenis sapi yang kulitnya digunakan untuk memproduksi rambak.

“Kalau rambak konsumsi itu dari kulit sapi metal. Kalau sayur biasanya dari jenis sapi jawa. Harga rambak konsumsi itu sekitar Rp150.000/kg sementara rambak sayur Rp120.000/kg,” kata dia.

Hadi Kati mengatakan rambak kulit bikinan warga Plosowangi sudah merambah ke berbagai daerah. Saban Lebaran tiba, rambak kerap menjadi buruan warga yang pulang kampung digunakan sebagai oleh-oleh.

“Dari berbagai daerah yang sudah membeli. Bahkan, rambak bikinan saya pernah sampai dikirim ke Kuwait,” kata dia.

Direktur BUM Desa Wangi Perkasa Plosowangi, Margono, mengatakan rambak kulit bikinan warga Plosowangi dikenal dengan nama rambak cawas.

“Bahan baku yang digunakan itu dari kulit pilihan. Bukan kulit sapi dari sisa olahan pabrik. selain itu tidak ada bahan pengawet atau bahan kimia lainnya. Oleh karena itu rambak cawas berkualitas. Ciri khasnya, kalau dimakan dalamnya tidak kosong,” urai dia.

Margono juga menjelaskan rambak cawas sudah tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Warga cawas yang merantau ke berbagai daerah kerap membawa rambak tersebut sebagai oleh-oleh khas Klaten.

“Rambak cawas juga sudah tersebar ke berbagai pasar tradisional khususnya di Klaten,” kata Margono.

Lantaran sudah dikenal sebagai pusat perajin rambak kulit, warga Plosowangi mulai memopulerkan nama kampung mereka sebagai kampung rambak.

“Kami ingin semakin mengenalkan bahwa rambak dari Cawas itu berkualitas serta kami ingin semakin mengompakkan para perajin,” jelas dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten