Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo (dua dari kanan), saat menghadiri Jambore Pentahelik Gotong Royong Sekolah Sungai Klaten dan Jateng dan Peresmian Rumah Komunitas Rawa Jombor di Klaten, Senin (18/11/2019). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menghadiri Jambore Pentahelik Gotong Royong Sekolah Sungai Klaten dan Jateng serta Peresmian Rumah Komunitas Rawa Jombor di Klaten, Senin (18/11/2019).

Dalam sambutannya pada acara itu, Ganjar berbicara mengenai pencemaran Sungai Bengawan Solo yang sudah sampai tahap memprihatinkan. Dia pun menyatakan siap membereskan perusahaan yang masih mencemari Sungai Bengawan Solo dalam waktu dekat.

Ganjar Pranowo mengaku sudah menurunkan tim khusus guna mengkaji seberapa jauh pencemaran lingkungan di Sungai Bengawan Solo dalam beberapa waktu terakhir.

Dikenal Ramah, Tetangga di Polokarto Sukoharjo Kaget Imam Ditangkap Densus 88

Tim yang sudah diterjunkan guna mengkaji pencemaran Sungai Bengawan Solo berasal dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Jateng. Ganjar Pranowo juga sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Povinsi (Pemprov) Jatim guna menangani pencemaran di Sungai Bengawan Solo.

Komunikasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) juga terus dijalin. “Pencemaran di Sungai Bengawan Solo sudah cukup tinggi. Protes masyarakat banyak. Ikan banyak yang mati. Bau dan warna juga seperti itu. Kami minta ke perusahaan jangan membuat pipa-pipa siluman [untuk membuang limbah ke Sungai Bengawan Solo],” kata dia.

Ganjar menegaskan tak ingin mematikan industri begitu saja. Tapi dia mengajak para pengelola perusahaan itu untuk bersama-sama menaati peraturan. "Kami siap berdialog dan membantu," jelas dia.

Paundra Minta Restu Keluarga Maju Pilkada Solo 2020

Ganjar Pranowo berharap pengusaha tak lagi membuang limbah ke Sungai Bengawan Solo. Sebaliknya, perusahaan didorong membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara komunal agar tak mencemari Sungai Bengawan Solo.

“Pekan ini, tim [dari LHK] ke BBWSBS guna menganalisis [hasil pengkajian pencemaran]. Nantinya, kami juga akan undang para pengusaha. Anak cucu kita butuh air, butuh minum. Mari peduli dengan hal paling kecil, mari baik-baik dengan alam. Prinsipnya pencemar akan kami eksekusi. Mengingatkan itu hanya satu kali hingga dua kali. Setelah itu, bereskan,” katanya.

Di kesempatan itu, Ganjar Pranowo juga berbicara pentingnya menyadarkan masyarakat soal perilaku hidup bersih. Ganjar mencontohkan Jepang butuh 50 tahun untuk mengajak warganya berperilaku hidup bersih.

Geledah Rumah Ustaz dan 2 Pendatang di Solo, Ini Temuan Densus 88

“Mengubah perilaku itu memang sangat sulit. Sekolah sungai di Klaten sudah bagus. Di sini, Rawa Jombor sangat artistik. Warung apung banyak, tapi ruwet. Dibutuhkan ahli ilmu rawa atau ilmu danau [guna menata Rawa Jombor],” katanya.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan butuh sentuhan kebijakan Gubernur dalam menata Rawa Jombor. Hal itu tak terlepas dari aset Rawa Jombor yang masih dimiliki Pemprov Jateng.

“Kami sudah membangun Bukit Turis, Bukit Sidogura [guna meramaikan Rawa Jombor]. Luas Rawa Jombor ini sekitar 190 hektare. Di sini ada 44 warung apung dan 600-an petani karamba,” katanya.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten