FKPT Jateng berfoto bersama seusai menggelar acara Desiminasi Hasil Survei Nasional dan Penelitian Eksplorasi Kearifan Lokal melalui FKPT Jawa Tengah di Hotel Horisson Nindya, Semarang, Rabu (9/10/2019). (Semarangpos.com-FKPT Jateng)

Solopos.com, SEMARANG — Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah (Jateng) melakukan penelitian terkait potensi tindak radikal di provinsi tersebut. Hasilnya potensi tindak yang menjurus ke arah radikal di Jateng tergolong rendah, yakni 2,63%.

Sementara itu, survei terkait pemahaman radikal yang mengarah ke radikalisme di Jateng angkanya lebih tinggi, yakni sekitar 40,45% dan 56,13%.

“Meski demikian, kita tidak boleh lenga membiarkan potensi yang masih kecil ini membesar tanpa usaha kontra radikal. Harapan kami, khususnya di Jateng radikalisme dan terorisme benar-benar hilang dan dijauhi karena merusak persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Ketua FKPT Jateng, Budiyanto, saat menggelar acara bertajuk Desiminasi Hasil Survei Nasional dan Penelitian Eksplorasi Kearifan Lokal melalui FKPT Jawa Tengah, Rabu (9/10/2019).

Baca juga: Terduga Teroris Di Semarang Tinggal Sekampung Dengan Wali Kota

Budiyanto menambahkan radikalisme dan terorisme bisa dihentikan dengan koordinasi dan kerja sama seluruh elemen masyarakat.

“Kita harus sadar bahwa tindakan jihad dan teror atas nama agama merupakan kejahatan luar biasa yang merusak sendi-sendi keutuhan dan persatuan bangsa. Kita harus cegah sejak dini. Jangan menunggu keluarga kita yang terpapar ideologi radikal ini,” imbuhnya.

Acara yang digelar di Hotel Horison Nindya, Semarang, itu menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai lembaga dan instansi pemerintah pusat maupun daerah.

Salah seorang narasumber, Ahmad Rouf yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Penelitian dan Pengkajian FKPT Jateng, mengatakan paham radikal bisa ditangkal. Salah satu upayanya yakni dengan melestarikan kearifan lokal.

“Masyarakat yang mempraktikan tradisi memiliki imun lebih kuat terhadap virus radikalisme,” ujar Ahmad.

Senada juga disampaikan perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Lilik Purwadi. Lilik menilai imun atau pemahanan tentang antiradikalisme harus ditanamkan kepada masyarakat sejak dini.

“Potensi radikal di masyarakat harus terus ditekan. Meski secara kuantitatif jumlahnya kecil, karena dari yang kecil itu 10-20 tahun mendatang bisa jadi besar jika dibiarkan,” ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten