Erupsi Merapi, Pengungsi Balerante Klaten Tunggu Instruksi Pemerintah
Pengungsi mencuci piring dan bersantai di teras gedung serbaguna Desa Balerante, Kecamatan Kemalang yang dijadikan tempat evakuasi sementara (TES) bagi warga yang tinggal di daerah rawan bahaya erupsi Merapi, Minggu (17/1/2021). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Warga terutama kelompok rentan yang tinggal di kawasan rawan bencana III Desa Balerante, Kecamatan kemalang hingga Minggu (17/1/2021) masih bertahan di tempat evakuasi sementara (TES). Sebagian dari mereka menyatakan menunggu aba-aba pemerintah untuk pulang ke rumah masing-masing.

Di Klaten, KRB III erupsi Merapi tersebar di tiga desa Kecamatan Kemalang yakni Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo. Warga terutama kelompok rentan yang tinggal di KRB III sudah mengungsi ke TES di desa masing-masing sejak status Merapi ditingkatkan ke level siaga pada November 2020.

Dari tiga desa yang terdapat KRB, warga di dua desa yakni Tegalmulyo dan Balerante, Kecamatan Kemalang sudah mengungsi ke TES. Sementara, warga di KRB III Sidorejo masih bertahan di rumah masing-masing.

Menjelajahi Janjang Saribu, The Great Wall of Koto Gadang

Salah satu warga Dukuh Sambungrejo, Jemingan, 29, menunggu apapun instruksi dari pemerintah. "Kalau diminta pulang, saya pulang. Kalau keputusannya tetap mengungsi, kami ikut," jelas Jemingan saat ditemui di TES Balerante, Minggu (17/1/2021).

Jemingan mengakui sudah mendengar kabar perubahan rekomendasi daerah rawan bahaya dari BPPTKG. Meski arah potensi bahaya dinyatakan tak menuju ke wilayah Klaten, Jemingan mengakatan sementara waktu masih bertahan di TES sembari menunggu perkembangan informasi dari pemerintah desa.

Jemingan mengatakan total ada lima keluarganya yang mengungsi si TES termasuk ibunya yang sudah berusia 50 tahun. "Kalau saya setiap hari bolak-balik ke rumah. Kalau anak, istri, dan ibu di sini. Sudah mengungsi lebih dari dua bulan ini," kata Jemingan.

Waswas

Jika diminta pulang ke rumah, Jemingan mengaku masih waswas selama status Merapi masih berada pada level siaga. Kekhawatiran itu berkaca pada erupsi yang terjadi 2006 silam. Jemingan menjelaskan 2006 lalu keluarga Jemingan menjadi salah satu keluarga yang mrngungsi menyusul status Merapi masih berada pada level siaga.

Selang tiga bulan mengungsi, pemerintah memperbolehkan warga pulang ke rumah masing-masing. Namun, belum genap sehari di rumah mereka kembali mengungsi seiring peningkatan aktivitas vulkanik Merapi.

"Dulu itu di rumah baru lima jam. Walah, itu baru bersih-bersih rumah sudah disuruh turun lagi. Belum lama turun kemudian ada erupsi. Saya pribadi selaku pengungsi dan sukarelawan sebenarnya juga takut ketika kondisi masih seperti ini tetapi diminta pulang. Khawatirnya seperti 2006. Kalau saya sendiri selama status belum diturunkan, lebih baik di pengungsian dulu. Namun, saya tetap mengikuti perintah dari pemerintah," jelas dia.

Jemingan mengakui dua bulan berada di TES membikin jenuh. Hal itu dirasakan terutama para lansia. Namun, selama ini warga memilih menyimpan rasa jenuh mereka dan memilih bertahan di pengungsian. "Seperti ibu saya. Kalau sepertinya ingin pulang, saya antar tengok rumah setelah itu balik lagi ke pengungsian," kata Jemingan.

PJJ Tak Kunjung Rampung, Gazebo Taman Baca Dibangun di Salatiga

Pengungsi lainnya, Tuginem, 56, mengaku sudah sekitar 70 hari terakhir tinggal di TES. Termasuk tiga sapi miliknya yang sudah diungsikan ke kandang komunal. Namun, Ginem sesekali pulang ke rumahnya untuk mencari rumput bersama suaminya.

Kegiatan itu sekaligus untuk menghilangkan rasa jenuh selama di pengungsian. "Kalau dibilang kangen ya kangen rumah. Tetapi sementara ini saya tetap berada di pengungsian," ungkap warga Dukuh Sambungrejo.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom