Kategori: Internasional

Efek Parah Kerusakan Covid-19, Perusahaan Zombi AS Membengkak


Solopos.com/Hadijah Alaydrus

Solopos.com, JAKARTA — Efek kerusakan pandemi virus corona jenis baru pemicu Covid-19 makin nyata. Jumlah zombie company atau perusahaan zombi di Amerika Serikat membengkak. Perusahaan zombi yang disadur dari istilah dalam bahasa Inggris "zombie company" adalah perusahaan yang membutuhkan dana talangan untuk beroperasi atau perusahaan yang berutang yang mampu membayar bunga atas utangnya tetapi tidak mencicil atau melunasinya.

Perusahaan-perusahaan yang terkualifikasi sebagai perusahaan zombie itu pernah menjadi raksasa korporasi di Amerika Serikat. Sayangnya, perusahaan-perusahaan ini semakin mirip seperti zombie alias mayat hidup dan terancam mati.

Di Amerika Serikat (AS), jumlah perusahaan zombi menurut catatan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) semakin membengkak. Dari Boeing Co., Carnival Corp., Delta Air Lines Inc. hingga Exxon Mobil Corp. dan Macy's Inc., perusahaan paling ikonik di negara ini ternyata tidak memperoleh penghasilan yang cukup untuk menutupi biaya bunga utang mereka.

Peluang Bisnis: Ternak Ayam Bisa Dibantu Teknologi

Hampir 200 perusahaan, menurut analisis Bloomberg, telah dikategorikan sebagai perusahaan zombi sejak awal pandemi Covid-19. Hal ini ditemukan Bloomberg setelah melakukan analisis terhadap data keuangan dari 3.000 perusahaan publik terbesar di AS.

Faktanya, perusahaan zombi sekarang menyumbang hampir 20% dari jumlah perusahaan di atas. Bahkan lebih jelas lagi, perusahaan-perusahaan tersebut telah menambahkan hampir US$1 triliun utang ke neraca keuangan mereka selama pandemi, sehingga total kewajiban menjadi US$1,36 triliun. Angka itu lebih dari dua kali lipat dari kira-kira US$500 miliar, utang perusahaan zombi pada puncak krisis keuangan lalu.

Upaya Federal Reserve

Konsekuensi bagi pemulihan ekonomi Amerika sangat besar. Upaya Federal Reserve untuk mencegah terjadinya banyak kebangkrutan dengan membeli obligasi perusahaan mungkin telah mencegah depresi. Tetapi dalam membantu ratusan perusahaan yang sakit mendapatkan akses yang hampir tidak terkekang ke pasar kredit, pembuat kebijakan mungkin secara tidak sengaja mengarahkan aliran modal ke perusahaan yang tidak produktif, sehingga dapat menekan lapangan kerja dan pertumbuhan untuk tahun-tahun mendatang.

"Kami telah sampai pada titik di mana kami harus bertanya, 'apa konsekuensi yang tidak diinginkan?'" kata Kepala Ekonom di Apollo Global Management Inc. Torsten Slok, "The Fed, untuk alasan stabilitas, memutuskan untuk turun tangan. Mereka tahu bahwa mereka akan membuat [perusahaan] zombie. Sekarang pertanyaannya menjadi, bagaimana dengan perusahaan yang tetap hidup padahal seharusnya mereka sudah gulung tikar?"

Peluang Bisnis Air Minum Isi Ulang Menyegarkan

Perusahaan zombi mendapatkan julukan itu karena kecenderungan mereka untuk berjalan lambat, tidak dapat menghasilkan cukup uang untuk memenuhi kewajiban mereka, tetapi masih memiliki akses yang cukup ke kredit untuk membayar hutang mereka. Perusahaan mayat hidup ini menjadi penghambat ekonomi karena mereka membuat aset tetap terikat pada perusahaan yang tidak mampu berinvestasi dan membangun bisnis mereka.

Di antara pendatang baru, ada empat maskapai besar AS dengan total utang US$128 miliar. Mereka telah menjadi zombie pada tahun 2020. Pendatang baru lainnya adalah pengelola bioskop serta perusahaan hiburan yang jumlahnya menjadi 10 perusahaan dengan tambahan utang US$28 miliar. “Kami membedakan antara yang berjalan terluka dan yang berjalan mati,” kata Manajer Portofolio Amundi Pioneer Ken Monaghan.

Diramalkan sebagian perusahaan pada sebagian sektor bakal mati. "Beberapa sektor kemungkinan besar akan mati, tetapi beberapa mungkin memerlukan transformasi radikal untuk bertahan hidup dan menarik modal," tambahnya.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

 

Share
Dipublikasikan oleh
Rahmat Wibisono