Kepala Desa Ngijo, Suwarso, menunjukan kain batik celup hasil karya masyarakat. (Solopos/Candra Mantovani)

Solopos.com, KARANGANYAR - Batik celup bukanlah hal baru dalam dunia kerajinan tekstil di Indonesia khususnya di Karanganyar. Namun, lini tersebut dipilih oleh Pemerintah Desa Ngijo, Tasikmadu, Karanganyar untuk dikembangkan sebagai salah satu potensi desa yang dapat mendongkrak ekonomi warga.

Pelatihan pun dilakukan secara bertahap untuk membentuk ekosistem yang bagus mulai dari metode level satu hingga kini menyentuh metode level empat. Corak yang tidak bisa diulangi menjadi nilai jual tersendiri.

Kepala Desa Ngijo, Suwarso, mengatakan program pemberdayaan masyarakat untuk membuat kerajinan batik celup dimulai sejak awal tahun 2019. Meskipun belum banyak yang berpartisipasi, saat ini sudah ada lebih dari 20 warga yang menekuni kerajinan batik celup.

“Saat ini sudah ada lebih dari 20 warga mulai dari ibu-ibu dan satu orang bapak. Kami ingin mengembangkan potensi ini menjadi suatu nilai jual yang juga bisa identik dengan Desa Ngijo. Maka dari itu, kami serius melatih warga yang berminat dan mendatangkan langsung pembimbingnya dari Universitas Sebelas Maret [UNS],” ucap dia ketika berbincang-bincang dengan Solopos.com, Selasa (10/12/2019).

Suwarso mengatakan setiap batik celup bisa dibanderol dengan harga ratusan ribu rupiah. Pasalnya, setiap corak yang dibuat tidak bisa serupa satu sama lainnya. Sehingga, nilai otentik suatu corak menjadi nilai jual yang potensial.

“Saat ini belum dijual. Karena masih pengembangan. Kami juga ingin dengan kualitas yang bagus jadi identitas kami. Jadi nanti ketika orang mau cari batik celup yang dipikirkan pertama kali ke Desa Ngijo. Pembimbing juga menyarankan agar halaman rumah menjadi tempat menjemur kainnya sehingga orang yang lewat bisa melihat tempat tersebut menjadi lokasi produksi batik celup,” imbuh dia.

Ke depannya, Suwarso ingin jumlah warga yang tertarik mengembangkan batik celup terus bertambah. Namun, dia mengaku tidak mematok target muluk-muluk karena dia memahami proses yang harus dikembangkan secara perlahan.

“Kami lihat dulu bagaimana perkembangannya. Karena ini kan prosesnya bertahap dan pelatihan jalan terus. Kemarin terakhir pelatihan dilakukan di Jogja. Jadi untuk menarget bertambahnya orang yang ikut masih belum,” ucap dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten