Dokumentasi Pandemi dari Sineas Dokumenter Soloraya
Potongan adegan salah satu film yang diproduksi oleh Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN) Korda Soloraya. (Istimewa/Dok.AdnKordaSoloRaya)

Solopos.com, SOLO -- Para pegiat film dokumenter Soloraya yang tergabung dalam Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN) Korda Solo Raya mempersembahkan karya omnibus tentang pandemi. Mengusung judul Program Rekam Pandemi, kompilasi film yang diproduksi 2020 tersebut dirilis di kanal YouTube mereka ADN Korda Soloraya, Selasa (26/1/2021) malam. Perilisan tersebut bersamaan dengan agenda diskusi virtual dengan tajuk Berkarya di Masa Pandemi.

Ada belasan judul yang sudah diunggah dari total 30an. Masing-masing memiliki tema berbeda dengan durasi maksimal tiga menit. Ketua ADN Korda Soloraya, Jamal Muhammad Amin, saat diwawancara Solopos.com, Kamis (28/1/2021), menjelaskan semua judul bakal diunggah di kanal YouTube. Namun dilakukan secara bertahap.

Kolaborasi film dokumenter pendek dalam Program Rekam Pandemi ini secara keseluruhan menyoal tentang perubahan ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya di masa pandemi. Amin dan rekan-rekannya mencoba mendokumentasikan perubahan tersebut. Banyak yang berasumsi pandemi membuat kegiatan mandeg. Namun kenyataannya mereka justru melihat semua orang berusaha survive dengan melakukan berbagai upaya.

Baca juga: Saking Seramnya, 7 Film Horor Ini Dilarang Tayang

Melalui film ini penonton diajak melihat bagaimana masyarakat bertahan di tengah pandemi. Para sineas menangkap perubahan hidup masing-masing obyek mereka. Ada yang mendokumentasikan keputusan seniman yang beralih lahan pentas. Pekerja formal beralih profesi dengan jualan, tentang mitos pandemi, hingga gotong royong warga menolong tetangga yang terkena Covid-19.

“Kami menggambarkan soal perubahan perilaku di masa pandemi ini. Soal kemandirian, gotong royong masyarakat, dari sudut pandang kesenian, dan masih banyak lagi. Dari film ini kita bisa melihat asa di tengah pandemi,” terangnya.

Sekitar delapan judul terpilih sebelumnya ditayangkan di TVRI lewat program khusus bersama Kemendikbud. Bersamaan dengan pemutaran karya dokumenter lainnya dari ADN di 32 Korda se-Indonesia.

Baca juga: Rhoma Irama Gugat Sandi Record Rp1 M, Hak Cipta Pangkal Masalahnya...

Cukup Efektif

Amin menambahkan ADN Korda Soloraya berdiri sejak Maret 2020. Anggotanya adalah para pegiat seni dokumenter yang terdiri dari praktisi, akademisi, hingga penikmat film. Tujuan komunitas yang dikomandoi sutradara dokumenter Klaten Tonny Trimarsanto ini adalah mewadahi para sineas dokumenter se-Indonesia. Agar mereka saling bersua dan menjalin silaturahmi lewat karya di masing-masing daerah.

Direktur Solo Documentary (Sodoc) Film Festival Dimas Erdhinta adalah salah satu anggotanya. Dimas saat diwawancara, Kamis, mengatakan di masa pandemi ini promosi dan kolaborasi festival via daring dinilai cukup efektif. Sisi positif kondisi ini adalah membuat semuanya terasa lebih fleksibel. Sodoc Film Festival 2020 lalu misalnya berjalan lancar dengan jumlah penonton cukup banyak ketika digelar online. Meskipun apresiasi di program diskusi terbilang masih minim.

Baca juga: Fakta Menarik Arya Saloka, Pemain Aldebaran di Ikatan Cinta yang Juga Pengusaha

Perubahan pola hidup dari luring menjadi daring menuntu pegiat seni turut berubah. Dimas merasa ruang kerjanya sekarang justru lebih luas. Sampai-sampai mereka berencana mengeser agenda dua tahunan Sodoc Festival menjadi setahun sekali karena dianggap sangat memungkinkan.

“Pandemi ini menawarkan hal baru, soal efektivitas. Semua kegiatan berpusat di rumah, semua menggunakan internat. Pegiat seni harus menangkap momen itu. Bahkan kami mewacanakan gelar festival Sodoc setahun sekali, karena ini sangat memungkinkan,”terangnya.

 



Berita Terkini Lainnya








Kolom