Tutup Iklan
Demi Kasih Jajan Cucu, Nenek 80 Tahun di Sragen Rela Jualan Sapu Keliling Jalan Kaki
Paiyem, 80, menjajakkan sapu lidi, gayung dan tumbu di depan SPBU Sine, Sragen, Jumat (10/7/2020). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Paiyem, nenek berusia lebih dari 80, tahun rela berjalan kaki untuk menjajakkan sapu lidi, gayung dan tumbu di kawasan Kota Sragen.

Meski tenaganya tak lagi kuat, Paiyem menjadikan aktivitasnya sehari-hari itu sebagai hiburan di usia senja. Warga Dukuh Mungkung, Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, itu biasa berangkat dari rumah pada pagi hari selepas Subuh.

Janda dengan lima anak, 10 cucu dan 6 buyut itu biasa berbelanja perkakas itu di Pasar Bunder Sragen. Selanjutnya, ia berkeliling kampung untuk menjajakkan sapu lidi, gayung dan tumbu tersebut. Ketiga barang itu diletakkan dalam karung plastis yang sudah usang.

Dengan jalan kaki, dia menggendong karung plastik itu. Sepasang sandal jepit selen berbeda warna menemani langkah pelan Paiyem dalam menjajakan dagangan.

Booming Sepedaan di Soloraya, Pegiat Ini Ajak Warga Bike to Work

Selama berjualan, Paiyem biasa mangkal di dua lokasi. Pada pagi hari, nenek itu mangkal di pintu masuk warung Soto Cimplis, Talangrejo, Sragen, yang berjarak 1,5 km dari rumahnya. Beranjak siang, dia mangkal di trotoar SPBU Sine, Sragen.

Saat ditemui Solopos.com di depan SPBU Sine, Jumat (10/7/2020) lalu, Paiyem masih menggelar lapaknya di trotoar. Di bawah pohon akasia, dia berlindung dari panasnya mentari. Kerudung warga hijau menutupi rambutnya yang sebagian besar sudah memutih.

Seorang pria keluar dari mobil. Dia lari tegopoh-gopoh sambil menyodorkan selembar uang Rp20.000. Pada awalnya, Paiyem mengira pria itu bermaksud membeli dagangannya. Namun, setelah menyodorkan uang ia langsung buru-buru pergi. “Saya jualan ini saya jadikan hiburan saja daripada di rumah tidak ada kerjaan,” kata Paiyem pelan.

Harga Dagangan

Diperlukan suara yang lebih keras untuk berbicara dengan Paiyem. Selain karena berlokasi di tepi jalan raya yang bising oleh suara kendaraan, kemampuan pendengaran Paiyem juga sudah berkurang. Kepada Solopos.com, Paiyem mengatakan sapu lidi dan gayung dijual masing-masing Rp11.000/buah dan tumbu dijual Rp14.000/buah.

Keuntungan hasil dari penjualan sapu lidi, gayung dan tumbu itu kemudian digunakan untuk keperluan belanja dapur. Sisanya dibelikan jajan untuk cucu dan buyut atau disimpan untuk angpao lebaran.

“Cucu saya itu ada banyak, kalau dikasih jajan, mereka senang. Biasanya uangnya saya simpan, kalau Lebaran tiba, saya bagikan kepada mereka juga,” ujar Paiyem.

2 Calon Bupati Klaten Berebut Simpati ke Partai Golkar, Ada Apa?

Paiyem mengakui sebagian dari pembeli merasa iba sehingga memilih tidak meminta uang kembalian kepadanya. Ada pula warga yang hanya datang untuk memberi uang, tanpa membeli dagangan. Kepada orang-orang yang berbuat baik kepadanya itu, Paiyem selalu menyempatkan diri membaca doa.

“Terima kasih, semoga dilapangkan rezekinya dan dimudahkan segara urusannya,” papar Paiyem.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho