Cerita Kakak-Adik Asal Sragen Sukses Bikin Rumah Makan Padang, Awalnya Cuma Jadi Tukang Cuci Piring
Seorang pelayan menyiapkan masakan di RM Padang Putra Bungsu yang dikelola pasangan kakak-adik, Sukar dan Sunarto di rumahnya di Dukuh Marditani, Desa Celep, Kedawung, Sragen, Kamis (8/4/2021). (Solopos.com/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Setelah tujuh tahun bekerja sebagai koki andal di sebuah rumah makan Padang berkelas bintang lima di Malaysia, pasangan kakak-adik asal Sragen, Sukar, 39, dan Sunarto, 30, sukses membuka warung makan Padang yang ramai di kampung halaman.

Rumah Makan Padang Putra Bungsu itu berada di tengah kampung, tepatnya di Dukuh Marditani, Desa Celep, Kedawung, Sragen. Meski berada di lokasi yang relatif tersembunyi, warung makan ini cukup ramai dikunjungi warga. Pengunjung biasa membeludak terutama saat jam makan siang tiba.

Baca Juga: 11 Keluarga di Sekitar Waduk Pidekso Wonogiri Ajukan Relokasi Rumah

Di sela-sela kesibukannya melayani pembeli, Sukar dan Sunarto bersedia berbagi pengalamannya merintis usaha warung makan Padang itu. Meski keduanya tidak punya garis keturunan dari Padang, keduanya membuktikan bahwa kerja keras tidak akan pernah menghianati hasil.

Sukar sebetulnya hanya lulusan SD. Adiknya, Sunarto, sedikit lebih beruntung lantaran bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang SMP. Keterbatasan biaya membuat mereka tak bisa mengeyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kesuksesan biasa tidak datang dengan cara instan. Begitu juga bagi Sukar dan Sunarto. Sebelum menjadi pengusaha di bidang warung makan, Sukar dan Sunarto sama-sama pernah merasakan kegagalan. Sukar lebih dulu terjun ke dunia kuliner sejak 1999. Pada saat itu, Sukar yang masih berusia sekitar 17 tahun merantau ke Jakarta.

Ia bekerja sebagai pembantu koki rumah makan. Tugasnya antara lain membersihkan ikan sebelum dimasak, mencuci piring, memotong sayur, menumbuk cabai dan lain sebagainya.

“Kena marah sama pimpinan sudah biasa. Tapi, saya bersyukur ada koki yang mengajari saya memasak. Saya lalu mencuri-curi ilmu masak sedikit-demi sedikit. Butuh waktu lama untuk menemukan cita rasa masakan Padang yang pas. Saya sendiri butuh waktu 6 tahun untuk belajar masak mulai 1999-2005,” terang Sukar kala berbincang dengan Solopos.com di rumah makan miliknya, Kamis (8/4/2021).

Jadi Buruh

Sebelum bergabung dengan sang kakak, Sunarto sempat bekerja sebagai buruh linting rokok, pedagang roti bakar, bertani dan lain-lain. Kali pertama bekerja di sebuah warung makan padang di Bogor, tugas pertama Sunarto adalah mencuci piring. Sama seperti kakaknya, lambat laun, Sunarto juga mahir memasak.

Kolaborasi pasangan kakak-adik itu bahkan sukses membuat warung makan itu membuka beberapa cabang di Kota Jakarta dan Bogor. Warung makan itu dimiliki seorang pengusaha asal Padang. Warung makan ini mengedepankan citarasa masakan khas Padang.

Hal itu membuat warung makan itu berkembang pesat hingga menjadi jujukan para pejabat negara. Hingga akhirnya, warung makan itu bisa membuka cabang di Malaysia. Sukar dan Sunarto dipercaya untuk mengelola warung makan Padang di Malaysia itu dari 2009-2016.

“Pada 2016, saya lebih dulu memutuskan keluar dari pekerjaan itu. Saya tidak mau terus menerus menjadi karyawan. Saya ingin membuka warung makan lesehan di kampung halaman,” ujar Sunarto.

Modal besar sudah digelontorkan Sunarto untuk membuka warung makan lesehan di tepi jalan Jambangan-Grompol. Namun, baru berusia 4 bulan, warung makan itu kolaps. Sunarto sempat terpukul karena sudah menghabiskan modal yang ia sisihkan selama bertahun-tahun bekerja sebagai juru masak di Malaysia.

“Saat itu saya merasa mental berwirusaha saya belum terbangun. Sempat down karena modal sudah habis. Saya sempat merantau ke Kalimantan, tapi akhirnya pulang lagi,” ucap Sunarto.

Baca Juga: Hore! Google Kembali Hidupkan Kompas pada Google Maps Android

Setelah Sunarto, giliran Sukar yang memutuskan keluar dari zona nyaman sebagai koki hebat di rumah makan Padang di Malaysia. Hadirnya Sukar menambah motivasi Sunarto untuk membuka usaha warung makan. Karena tak punya cukup modal untuk menyewa tempat, keduanya akhirnya mendirikan rumah makan Padang di rumahnya sendiri pada Agustus 2017.

Untuk merintis usaha itu, Sukar dan Sunarto harus memulai dari nol. Mereka belanja sendiri semua kebutuhan dapur lalu memasaknya menjadi aneka masakan khas Padang. “Awalnya hanya dibantu saudara. Tahun berikutnya mulai merekrut karyawan. Awalnya ada satu karyawan, dua, lalu tiga. Alhamdulillah, sekarang ada 12 karyawan,” papar Sunarto.



Berita Terkini Lainnya








Kolom