Cerita Jamu Hingga Sego Berkat dalam Temu Daring Diaspora Jawa
Forum group discussion (FGD) Ngobrol Bareng Diaspora Pandemi dan Jawa, Kamis (3/12/2020).

Solopos.com, SOLO--Obrolan santai namun sarat pesan mengalir dalam perbincangan virtual Ngobrol Bareng Diaspora Jawa yang digelar Solopos bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Kamis (3/12/2020.

“Piye ya, aku yen ngomong isin. Dadi jamuku ya kunir tak campur tumbar, terakhir wingi nyoba godhong kelor [gimana ya, aku kalau mau ngomong malu. Jadi jamuku di masa Covid-19 ya kunir dicampur ketumbar, kadang nyoba daun kelor],” cerita pelatih Yoga Polandia berdarah Jawa, Tresya Yuliana, saat ditanya soal suplemen yang dikonsumsi untuk menjaga imunitas di masa pandemi Covid-19.

Pernyataan Tresya dalam acara ngobrol bareng diaspora Jawa yang diadakan via zoom meeting oleh Koran Solopos tersebut langsung direspon positif peserta diskusi sesama penyuka jamu.

Tresia nyengir sembari melanjutkan. Dia mengatakan betapa cintanya dengan rempah Indonesia. Sampai-sampai sering menyampur rempah-rempah dalam seduhan kopi. Misalnya dia menyampur jinten, cengkeh, hingga merica.

Selain menambah stamina, sebagai perempuan berdarah Jawa tepatnya dari Kabupaten Wonogiri, Tresya merasa hal tersebut sekaligus mengobati kerinduannya pada tanah asal. Maklum, dia sudah lama di Polandia bersama keluarga besarnya. Di masa pandemi ini dirinya aktif mengikuti temu daring diaspora Jawa. Banyak hal yang dibicarakan dalam temu kangen seperti itu, mulai keseharian hingga sejarah Jawa.

Tak hanya Tresya, forum diskusi tersebut juga menghadirkan diaspora asal Belanda - Jakiem Asmowidjojo, Diaspora Malaysia - Sukiman Sarmani, Diaspora Suriname - Moreno Sastromedjo, dan PUI Javanologi UNS - Sahid Teguh Widodo. Sukiman menimpali tentang minuman jamu yang juga populer di Malaysia saat pandemi.

Warga Yang Isolasi Jangan Takut Kehilangan Hak Suara, KPU Klaten Siapkan Kotak Suara Keliling

Reunian

Diaspora Jawa di Malaysia juga otomatis banyak yang konsumi jamu sejak Maret lalu. Mereka meyakini bahwa dengan minum jamu stamina jadi meningkat. “Malaysia [diaspora Jawa di Malaysia] semua jadi mau minum jamu. Bukan untuk obati Covid-19, tapi banyak yang jual untuk meningkatkan imunitas. Jamu beras kencur misalnya,” cerita Sukiman dengan Bahasa Jawa Ngoko.

Pertemuan daring dengan tema Pandemi dan Jawa tersebut cukup hangat. Nostalgia tentang Jawa dan budaya terus mereka kulik sepanjang acara. Jakiem mengatakan bahwa pertemuan daring tersebut cukup mengobati kerinduan akan tanah Jawa. Maklum para diaspora Jawa dipastikan batal menggelar agenda reunian di Yogyakarta pada 2021 mendatang karena masih dalam kondisi pandemi. Padahal orang-orang berdarah Jawa yang lahir dan menjalani kehidupan di luar negeri ini mengagendakan reunian setiap minimal dua tahun sekali.

Beberapa peserta menceritakan tentang kenaikan pasien Covid-19 di negaranya. Moreno misalnya menggambarkan kondisi Suriname yang banyak melakukan pembatasan. Salah satunya adalah adanya jam malam mulai pukul 23.00 WIB - pukul 05.00 WIB.

Mereka yang melanggar bakal diamankan dan mendapat sanksi dari tim Satgas Covid-19 setempat. Berkat kedisiplinan warganya, Moreno, mengatakan negara yang isinya mayoritas berdarah Jawa tersebut bisa menekan angka positif Covid-19. Sampai Desember hanya ada 5319 kasus dengan jumlah pasien sembuh 5197. Sementara pasien meninggal ada 117 orang.

Sego Berkat

Perbincangan di penghujung acara semakin menarik. Tradisi sego berkat yang ramai di Indonesia akhir-akhir ini juga jadi bahan saling guyonan. Nasi yang biasa dilengkap dengan beberapa olahan penganan kemudian dibungkus dengan daun jati tersebut ternyata juga populer di Suriname, Belanda, dan Malaysia.

Moreno mengatakan banyak warung makan di Suriname yang menyediakan nasi berkat. Nasi tersebut cukup diminati karena murah dan bisa dikonsumsi banyak orang. Satu paket nasi berkat berisi nasi kuning, bakmi, suwiran ayam, kacang, dan srundeng dihargai 90 dolar suriname atau sekitar Rp90.000. Bungkusan tersebut bisa dikonsumsi empat hingga lima orang. “Selain itu, nasi berkat bisa didapat di acara kenduri, selametan, dan lainnya. Orang Jawa suka makan nasi berkat karena dipercaya banyak berkat atau berkah,” terangnya.

Keturunan Jawa yang tinggal lama di Malaysia, Hermantoro, mengatakan warga Jawa di sana juga sangat menyukai nasi berkat. Salah satu homestay Selangor bahkan sering menggelar festival nasi berkat atau nasi ambeng. Tepatnya di Desa Pachitan, Selangor, yang semua warganya adalah keturunan Jawa-Pacitan. Festival biasanya digelar pada saat Ramadhan.

Hermantoro ingat betul beberapa tahun lalu warga Pachitan menggelar maraton festival Jawa saat menerima 700an tamu wisatawan Tiongkok. Mereka bahkan sampai menggelar acara temu manten versi Jawa secara singkat untuk memeriahkan acara. “Tapi Jawa di Malaysia itu ada yang kurang. Yaitu mereka tidak terlalu ngugemi gamelan Jawa. Kalau wayang kulit dan lain-lain, ada tapi jarang,” terangnya lagi.

AMSI Kembali Gelar IDC 2020, Transformasi & Inovasi Digital

Sejarah Jamu

PUI Javanologi UNS - Sahid Teguh Widodo mengatakan masyarakat berdarah Jawa tak bisa lepas dari akar budayanya. Misalnya banyak yang masih percaya bahwa jamu bisa jadi peningkatan imun di masa Covid-19.

Sejarah jamu-jamuan Jawa, menurut lekat dengan cerita soal pandemi zaman dulu yang dinamai pagebluk. Pagebluk sudah kerab diceritakan dalam pewayangan contohnya di lakon Semar Wuning, Sri Mulih, dan lain-lain. Salah satu naskah Jawa menceritakan pada tahun 1905 hingga 1921 pernah ada pagebluk pes dan kolera yang membuat semua orang bingung. Serat Centhini kemudian menulis adanya perintah keluar desa dan pembatasan aktivitas atau sekarang disebut lockdown.

Pandemi tersebut kemudian mendorong banyak sastrawan yang membuat kitab tentang jamu. Misal kitab Racikan jampi-jampi Jawi, serat Jampi-Jampi Jawi, dan lainnya dengan rema serupa. Selain itu zaman dulu juga ada rekayasa sosial untuk mengantisipasi pagebluk. Kalau sekarang kita mengenal dengan protokol kesehatan (prokes) 3M yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Tak heran rumah Jawa lama selalu ada tempat cuci tangan di depannya.

Upaya melawan pandemi lainnya adalah lewat kesenian misalnya adanya tradisi doa bersama dalam brokohan, bersih desa, dan grebeg. Lebih lanjut, di era global ini Sahid mengatakan budaya harus ikut perkembangan. Agar masyarakat yang membaca kajian budaya di media sosial jangan sampai salah sumber.

“Sekarang sudah ada teknologi maka di era post truth iki teknologi jadi sumber budaya yang populer dan juga jadi sumber kekuatan. Ini jadi tantangan kita untuk adaptasi sedikit sedikit berubah. Aku yakin budaya Jawa harus ada modernisasi. Iki malah peluang dan tanyangan agar kita semua bisa produksi produk budaya untuk keselamatan semua orang di manapun,” terangnya.



Berita Terkini Lainnya








Kolom