BPPTKG Ungkap Dampak Aktivitas Guguran Lava Gunung Merapi
Penampakan Gunung Merapi dari wilayah Pelemsari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DIY, Minggu (22/11/2020).(Hafit Yudi Suprobo/Harianjogja.com)

Solopos.com, SLEMAN -- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG menyatakan berdasarkan analisis morfologi area puncak dari foto sektor tenggara tanggal 29 November terhadap Gunung Merapi tanggal 26 November 2020 tidak menunjukkan adanya perubahan morfologi area puncak.

Data tersebut menurut BPPTKG berdasarkan periode pengamatan Gunung Merapi pada 27 November hingga 3 Desember 2020.

"Dari sektor barat laut profil topografi puncak terutama pada sekitar Lava 1948 dan Lava 1888 sedikit berubah karena aktivitas guguran yang terjadi," ujar Kepala BPPTKG Hanik Humaida melalui keterangan tertulis yang dikutip harianjogja.com, Jumat (4/12/2020).

KPK Tangkap Pejabat Kemensos, Diduga terkait Bansos Penanganan Covid-19

Dia menambahkan cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi hari, sedangkan siang hingga malam hari berkabut. Asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal dengan tekanan lemah hingga sedang.

Sementara itu, tinggi asap maksimum 600 meter teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Selo, Boyolali, Jawa Tengah, pada tanggal 27 November 2020 jam 05.50 WIB.

"Terdengar beberapa kali guguran dengan jarak luncur yang tidak teramati karena visual dominan berkabut," sambung Hanik.

Oalah, 62 Kades di Jateng Langgar Netralitas Pilkada 2020

Sementara itu, terkait dengan kegempaan, dalam minggu ini kegempaan di Gunung Merapi tercatat sebanyak 236 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 2.128 kali gempa Fase Banyak (MP), 3 kali gempa Low Frekuensi (LF), 289 kali gempa Guguran (RF), 330 kali gempa Hembusan (DG) dan 11 kali gempa Tektonik (TT). Intensitas kegempaan pada pekan ini lebih rendah dibandingkan pekan lalu.

Lebih lanjut, terkait dengan deformasi, jarak tunjam EDM di sektor barat laut dari titik tetap BAB ke reflektor RB1 berkisar pada jarak 4.039,829 meter hingga 4.040,567 meter dan dari BAB ke reflektor RB2 pada kisaran 3.854,566 m hingga 3.855,308 meter. Baseline GPS Klatakan hingga Plawangan berkisar pada 6.164,05 meter hingga 6.164,08 meter.

"Deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM pada minggu ini menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 11 cm per hari," ungkap Hanik.

Curah Hujan Tertinggi

Dia menambahkan terkait dengan aktivitas hujan dan lahar di Gunung Merapi pada pekan ini terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 65 mm/jam selama 60 menit di Pos Kaliurang pada tanggal 3 Desember 2020.

"Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi," jelasnya.

Warga Sragen Diduga Terjun ke Bengawan Solo Ditemukan Tak Bernyawa

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka disimpulkan bahwa terdapat peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi, sehingga status aktivitas ditetapkan dalam tingkat aktivitas siaga.

"Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dan awan panas sejauh maksimal 5 km," pungkas Hanik.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom