Kondisi Sendang Mbah Meyek di Bibis Kulon, Gilingan, Banjarsari, Solo, Senin (7/10/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Sendang Mbah Meyek yang terletak di RT 005/RW 017, Bibis Kulon, Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo, sudah menjadi identitas kelurahan tersebut.

Sendang itu dulunya merupakan mata air berupa sumur. Hingga kini sebagian warga setempat masih percaya nilai keramat sendang tersebut.

Warga secara rutin menggelar bersih desa di kawasan Sendang Mbah Meyek. Kepercayaan yang berkembang, apabila bersih desa tidak digelar setiap Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon bulan Sura dalam penanggalan Jawa, sesuatu hal kurang baik akan menimpa warga sekitar.

Saat Solopos.com menyambangi Sendang Mbah Meyek pada Senin (7/10/2019), tak tampak sedikit pun kesan kumuh. Pagar berwarna hitam berukuran 4 meter x 4 meter mengelilingi sumur yang warnanya selaras dengan pagar itu.

Tepat di samping sumur, pohon besar berdiri tegak membuat sinar matahari tak terlalu menyengat di kawasan itu. Tepat di sekeliling Sendang Mbah Meyek, lapangan bulu tangkis dan bangunan untuk Posyandu rutin digunakan warga.

Bangunan itu tampak terawat, tak tampak sampah berserakan pertanda Sumur Mbah Meyek benar-benar terawat. Beberapa tempat sampah juga tersedia di kawasan itu.

Ketua RW 017, Kelurahan Gilingan, Agustinus Sigit Suseno, yang rumahnya hanya beberapa meter dari Sendang Mbah Meyek, saat dijumpai Solopos.com, mengatakan telah ada literasi mengenai Sendang Mbah Meyek.

Informasi-informasi hasil penelitian menjadi suatu hal yang selalu diperbincangkan masyarakat setempat. Namun, masih ada beberapa versi sejarah yang menyebutkan mengenai kisah Sendang Mbah Meyek.

“Sebelum zaman penjajahan Jepang sendang itu sudah ada, namun saat penjajahan Jepang ada seorang demang atau pejabat zaman dahulu bermimpi ada orang yang sudah tua atau orang Jawa yang sudah meyek-meyek berada di mata air itu," jelas dia.

Masih dari cerita versi itu, di daerah Bibis kala itu ada suatu hal yang kurang baik sehingga perlu diruwat. Lantas, melalui mimpi itu bersih desa pun dimulai kembali bahkan hingga saat ini.

Asal-Usul Sendang

Ia juga menceritakan asal mula versi lain Sendang Mbah Meyek berasal pelarian kerabat Keraton Pajang melalui Kalianyar menuju wilayah Bibis. Namun ia gugur dalam pelariannya dan meninggalkan seorang anak yang menunggu Sumur Mbah Meyek hingga meninggal dunia.

Ia menambahkan hingga saat ini warga masih banyak yang percaya mengenai bersih desa yang biasanya mementaskan wayang kulit hingga dua kali. Ia mengaku beberapa tahun lalu, bersih desa sempat terlambat lalu terjadi kebakaran besar di wilayah Bibis.

Memang sejarahnya simpang siur, namun yang paling positif dari adanya Sendang Mbah Meyek itu adalah kekeluargaan warga Bibis, Kelurahan Gilingan. Bahkan, saat bersih desa warga perantauan asal Bibis berbondong-bondong pulang untuk dapat berkontribusi dalam bersih desa itu.

Menurutnya, bersih desa merupakan warisan generasi awal kepada generasi milenial saat ini. Meskipun perkembangan zaman kian masif, kearifan lokal budaya Jawa harus tetap terjaga. Apalagi, kini pemerintah juga berkontribusi untuk ikut merawat Sendang Mbah Meyek.

Gilingan tidak hanya punya Sendang Mbah Meyek. Ada pula Sendang Sidomulya, Sodronoyo, dan Sumur Mbandung yang masih digunakan warga untuk beraktivitas. Hanya saja, air Sendang Mbah Meyek sudah tidak digunakan warga, namun segala aktivitas warga dipusatkan di Sendang Mbah Meyek.

“Bersih desa selain menggunakan dana dari pemerintah, warga berswadaya Rp10.000 setiap rumah. Bahkan, ada pengemudi becak yang ikut menyumbang karena sejak merantau di Kota Solo menyaksikan bersih desa Sendang Mbah Meyek,” ujarnya.

Lurah Gilingan, Joko Partono, mengaku sangat mengapresiasi warga yang selalu berinisiatif menjaga kearifan lokal Gilingan. Tak hanya Sendang Mbah Meyek, Gilingan masih memiliki situs-situs budaya yang selalu dirawat sebagai ikon Kelurahan Gilingan.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten