Belum Berakhir, Hujan Lebat Merata di Jateng Pertengahan Februari
Ilustrasi hujan. (Reuters)

Solopos.com, WONOGIRI — Cuaca di Jawa Tengah khususnya di wilayah pantai selatan Jawa termasuk Wonogiri diprediksi bakal diwarnai hujan deras pada pertengahan Februari mendatang. Artinya, musim hujan awal tahun ini belum berakhir.

Cuaca Februari bahkan lebih basah dibandingkan dengan dasarian III Januari hingga awal Februari di mana curah hujan berada pada kategori menengah.  Pada dasarian III Januari, Wonogiri termasuk secara umum di Jawa Tengah terjadi jarang hujan meski masih musim hujan.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hal itu dipengaruhi oleh kondisi pergerakan Madden Julian Oscillation (MJO) atau peristiwa perubahan atmosfer dan laut secara berkala ke arah timur di wilayah tropis dekat ekuator. Hal itu berakibat pada penambahan curah hujan di Indonesia pada awal-pertengahan Januari 2020.

Tak Punya Pendeteksi Khusus, Virus Corona Sudah Masuk Indonesia Tanpa Diketahui?

Namun, pada pertengahan Januari 2020, pergerakan MJO berubah haluan menuju wilayah Pasifik Barat. Dampaknya ke Indonesia adalah penurunan curah hujan sehingga menimbulkan salah satu efek Monsun Asia-Australia yakni siklus musiman aktif-pasif.

“Siklus pada fase aktif akan terjadi hujan yang berlimpah. Sebaliknya, pada fase pasif tidak akan terjadi hujan. Prediksi terhadap variasi musiman siklus aktif-pasif ini penting karena mempengaruhi curah hujan musiman,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Semarang, Tuban Wiyoso, sebagaimana rilis kepada Solopos.com, Kamis (30/1/2020).

Tak hanya itu, jika dilihat dari prediksi citra Outgoing Longwave Radiation (OLR) atau radiasi matahari ke bumi yang dipantulkan kembali berupa gelombang panjang yang dipancarkan ke atmosfer, wilayah Indonesia menunjukkan nilai anomali positif atau cuaca lebih kering. Hal ini menandakan pergerakan awan berkurang di wilayah Indonesia.

Kemenkes Bantah Tak Mampu Deteksi Virus Corona: Kami Terakreditasi WHO!

“Jika dilihat komponen angin yang bergerak utara-selatan pada ketinggian 1.000 meter di Jawa Tengah, angin utara cenderung melemah. Hal ini mengindikasikan gerakan massa udara dari Asia melemah,” terang dia.

Selain itu, lanjut Tuban, kondisi atmosfer tingkat permukaan sampai tingkat atas juga tidak begitu signifikan untuk membentuk awan hujan merata di Jawa Tengah. Kecenderungan yang terjadi justru lebih banyak terbentuk awan konvektif atau awan yang terjadi karena gerakan udara dan uap air dengan arah vertikal yang bersifat lokal.

Sedangkan kondisi suhu air laut sekitar Jawa Tengah sebagai sumber uap air untuk pembentukan awan hujan berada dalam batas normal saja. Suhu yang lebih hangat justru terjadi di wilayah bagian barat Sumatra dan Afrika bagian timur serta di wilayah Pasifik Barat.

Alasan Politikus PKS Usul Legalkan Ekspor: Tumbuhan Ganja Tidak Haram

Akibatnya, sampai dasarian III Januari 2020, curah hujan masih minim. Pola hujan lokal lebih dominan terjadi di Jawa Tengah bagian tengah, wilayah pantai selatan Jawa, dan wilayah pegunungan.

“Pada awal Februari 2020 diprediksi kondisi atmosfer hampir sama dengan akhir Januari 2020, namun sedikit lebih basah. Pada pertengahan Februari 2020 kondisi atmosfer diprediksi akan lebih basah sehingga potensi hujan lebat dan merata di Jawa Tengah lebih besar.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

SOLOPOS TV



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho