Banyak Difabel di Klaten Masih Berpendidikan Rendah, Stigma Masih Jadi Masalah

Stigma yang kuat masih menjadi salah satu kendala bagi difabel di Klaten mengenyam pendidikan tinggi.

Taufiq Sidik Prakoso - Solopos.com
Jumat, 23 Oktober 2020 - 09:09 WIB

SOLOPOS.COM - Para penyandang tuna daksa mengikuti kegiatan jambore Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana se-Jateng dan DIY di selter pengungsian Desa Kebondalemlor, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jateng, Kamis (13/2/2020). (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Kebanyakan penyandang disabilitas di Klaten memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Masih ada stigma dan difabel minder menjadi beberapa faktor penyebab difabel tak sekolah.

Sekretaris Persatuan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK), Setyo Widodo, mengatakan kebanyakan difabel tak memiliki ijazah. Sebagian lainnya pendidikan terakhir hanya lulusan SD.

“Banyak faktor yang memengaruhi. Masih ada yang berpendapat difabel itu sekolah untuk apa. Kedua ada stigma di masyarakat juga memengaruhi. Faktor dari teman-teman difabel juga masih ada yang merasa malu, minder, dan menarik diri dari pergaulan hingga menghambat mereka untuk sekolah,” kata pria yang akrab disapa Dodo itu saat dihubungi Espos, Kamis (22/10/2020).

Hak-Hak Kaum Difabel Semakin Terpinggirkan dengan Adanya UU Cipta Kerja

Permasalahan lain yakni terbatasnya akses para difabel mengenyam pendidikan. Dodo menjelaskan tak semua anak difabel harus bersekolah di SLB. Sebagian penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk mengikuti jenjang pendidikan formal seperti penyandang disabilitas daksa.

Sekolah Inklusi Sulit Dijangkau

Dodo mengakui sudah ada sekolah berlabel inklusi di Klaten. Jumlahnya ada sekitar 95 sekolah dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP sederajat. Jumlah sekolah inklusi itu dinilai belum bisa terjangkau oleh difabel lantaran di Klaten ada 401 desa/kelurahan.

Belum lagi masih ada stigma yang dialami para difabel ketika bersekolah di sekolah berlabel inklusi. “Ketika ada sekolah yang banyak menerima anak-anak difabel, kadang banyak orang tua [siswa dengan kondisi normal] yang justru menarik diri. Merasa anaknya tidak selevel ketika bersekolah bersama anak-anak difabel,” kata Dodo.

Jelan, Potret Kaum Difabel Klaten yang Sukses Bangkit dari Keterpurukan

Terkait permasalahan tersebut, Dodo mengatakan perlu ada penyadaran kepada semua pihak terkait posisi anak-anak difabel. Meski fisik terbatas, anak difabel memiliki hak yang sama dengan anak-anak dengan kondisi fisik normal termasuk untuk mengenyam pendidikan.

“Difabel memiliki hak yang sama dengan yang lain untuk berekspresi, bergaul dengan masyarakat lain tanpa stigma. Kemudian kami berharap bisa dijalankannya pendidikan inklusi di mana sekolah benar-benar ramah dengan anak-anak penyandang disabilitas,” ungkap dia.

Pemberdayaan Difabel

Di sisi lain, Dodo menyebut dengan banyaknya difabel yang berpendidikan rendah, salah satu cara yang memungkinkan untuk mendorong kemandirian difabel adalah melalui pendidikan informal. “Ketika seorang difabel memiliki tingkat pendidikan rendah, kalau mau bersaing di dunia kerja tentu sudah kalah duluan. Makanya kebanyakan memang tidak bekerja di sektor formal. Tetapi, lebih ke sektor informal mengandalkan keterampilan yang dimiliki dan berwirausaha. Ini yang harus dilakukan dengan memberikan pelatihan-pelatihan keterampilan agar difabel berdaya,” kata dia.

Alhamdulillah! 3 Anak Difabel di Wonogiri Dapat Alat Bantu Mobilitas

Sementara itu, Kabid Sosial Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dissos P3AKB) Klaten, Hari Suroso, mengatakan ada beberapa bantuan yang diberikan kepada difabel agar mereka bisa mandiri. Bantuan itu termasuk program pelatihan yang kerap dibuka di Balai Besar Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik Prof Dr. Soeharso Solo. “Saat ini kami masih dalam tahap mengusulkan 43 penyandang disabilitas fisik untuk mendapatkan pelatihan, modal, hingga peralatan,” kata Hari.

Hari mengatakan di Klaten sudah banyak difabel yang mampu mandiri bermodal keterampilan yang mereka miliki. Namun, dia mengakui masih ada difabel Klaten yang masih tertutup dan mengurung diri di rumah. “Kami berharap dari keluarga difabel yang saat ini masih tertutup bisa terbuka wawasannya bahwa difabel itu tidak lantas dianggap sebagai beban keluarga. Mereka memiliki potensi-potensi yang semestinya dikembangkan,” kata Hari.

Kisah Arrohma, Difabel Pendaki Gunung Taklukkan Prau hingga Lawu

Menurut data Dinsos P3AKB Klaten, tercatat ada 6.629 difabel di Kota Bersinar itu. Dari jumlah tersebut, hanya 10 difabel yang berpendidikan sarjana (S1/D4), tanpa ada S2. Difabel yang berpendidikan SD 2.527 orang, SMP 1.102 orang, dan SMA sederajat 1.022 orang.

 

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif