Dokumentasi sebaran apam pada acara Ya Qawiyyu di Desa Jatinom, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jateng. (Solopos-Dok.)

Solopos.com, SOLO — Setiap tahun pada Bulan Safar sesuai sistem kalender Jawa dan Hijriah, tradisi Ya Qawiyyu selalu digelar di Desa Jatinom, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng). Festival rakyat yang menjadi salah satu potret wisata Jateng itu juga selalu diwarnai dengan penyebaran kue apem.

Tahun ini, ada tujuh ton kue apam yang bakal disebar di tanah lapang bernama Oro-oro Tarwiyah.

Sekretaris Pengelola dan Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG), Moh Daryanto mengatakan, apam yang disebar pada acara yang kerap disebut Saparan itu kali ini lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.

"Kurang-lebih ada tujuh ton, target kami kurang-lebih seperti itu. Kalau yang tahun kemarin ada sekitar 5-6 ton," katanya dalam konferensi pers di Jogja, Selasa (8/10/2019).

Dikutip dari Detik.com, Selasa (15/10/2019), upacara sebar apam Yaa Qowiyyu merupakan tradisi turun-temurun yang dilaksanakan warga Jatinom, Klaten. Tujuannya adalah untuk mendapatkan berkah melalui apem yang telah didoai itu.

Sejarah Saparan

Tradisi tersebut terinspirasi dari tokoh Kiai Ageng Gribig, yang diyakini sebagai keturunan Raja Bhrawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Kiai Ageng Gribig adalah seorang ulama yang hidup pada masa Kerajaan Mataram Islam, sekitar tahun 1600.

Dikisahkan, kala itu Kiai Ageng Gribig pulang dari Tanah Suci Mekah. Karena buah tangan yang dibawa tak cukup, keluarga Kiai Ageng Gribig berinisiatif membuatkan apam.

Kue tradisional yang berbahan dasar tepung beras itulah yang kemudian dibagikan kepada masyarakat dan para murid Kiai Ageng Gribig di Jatinom, Klaten. Apam itu lalu lebih dikenal dengan nama Yaa Qowiyyu karena saat dibagikan Kiai Ageng Gribig melafalkan doa Yaa Qowiyyu.

Antusiasme Warga

Daryanto mengungkapkan apam yang disebar dalam tradisi yang dilaksanakan pada bulan Safar atau bulan kedua di tahun Hijriyah itu selalu bertambah, antusiasme warga juga meningkat.

"Masyarakat lingkungan yang tadinya apatis sekarang menjadi aktif dan sadar diri, 'oh inilah yang namanya budaya untuk sedekahan'. Kemudian kaitannya dengan jumlah [apam], Insya Allah untuk tahun ini meningkat dari pada tahun yang lalu, warga bebas bersedekah [apam] berapa," tuturnya.

Untuk tahun ini, kata Daryanto, pihak panitia mengangkat tema Nguri-uri Dadi Mberkahi. Tujuan tema agar tradisi Saparan Yaa Qowiyyu bisa membawa keberkahan, terutama untuk masyarakat Jatinom, Klaten, sekaligus untuk melestarikan budaya warga setempat.

Ada beberapa rangkaian acara di Saparan Ya Qawiyyu yang dimulai pada 6 Oktober 2019 hingga 18 Oktober. Beberapa cara di salah satu festival rakyat di Jateng itu antara lain pentas seni warga, Gladen Ageng Jemparingan Sismadi Sup XIX, kasidah, sebaran apam, pameran foto dari Mia Sismadi, dan lainnya.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten