Aset BRI Tembus Rp1.500 Triliun, Kredit Mikro Tumbuh Dua Digit
Ilustrasi uang. (Reuters)

Solopos.com, SOLO—BRI sukses menutup 2020 dengan capaian positif yang membuat fundamental perseroan semakin sehat dan kuat di tengah pandemi Covid-19. Dalam hal ini, aset BRI tembus Rp1.500 triliiun, kredit mikro tumbuh double digit, dan non performing loan terjaga di bawah 3%.

Direktur Utama BRI, Sunarso, dalam keterangan persnya mengatakan krisis yang dialami saat ini adalah krisis yang terberat apabila dibandingkan dengan krisis sebelumnya.

Namun BRI Group telah melewati tahun terberat dengan pertumbuhan positif berkat strategi yang fokus pada penyelamatan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta menjadi mitra utama pemerintah dalam mendukung keberhasilan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Baca Juga: Bayern Rebut Gelar Piala Dunia Klub Seusai Tundukkan Tigres

BRI berkontribusi lebih dari 60% dalam setiap program PEN yang memberi dampak positif tidak hanya bagi nasabah namun juga bagi perekonomian Indonesia.

“Peran BRI menjalankan counter cyclical melalui fungsi agent of development terlihat dari penyaluran kredit yang tetap tumbuh positif meskipun ekonomi nasional terkontraksi. Hingga akhir Desember 2020, secara konsolidasian BRI berhasil menyalurkan kredit senilai Rp 938,37 triliun atau tumbuh 3,89% year on year. Angka ini jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan pertumbuhan kredit nasional pada 2020 yang diperkirakan Otoritas Jasa Keuangan [OJK] berada dikisaran -1 hingga 2%,” kata dia, Kamis (11/2/2021).

Lebih lanjut Sunarno memaparkan kredit mikro BRI tumbuh double digit sebesar 14,18%, kredit kecil dan menengah tumbuh 3,88%, dan kredit konsumer tumbuh 2,26%. Kinerja positif tersebut berdampak pada peningkatan porsi atau portofolio kredit UMKM BRI yang menyentuh angka 82,13%dari total seluruh kredit BRI.

Baca Juga: Tegaskan Virus Corona Bukan Dari Laboratorium, WHO Telusuri Kemungkinan Lain

Mencari Pertumbuhan Baru

Menurutnya, tantangannya sekarang adalah mencari sumber pertumbuhan baru. Strateginya yakni BRI akan fokus di dua area, pertama, yang existing dinaikkan kelasnya, kedua, cari sumber pertumbuhan baru, mencari yang lebih kecil daripada mikro.

Pertumbuhan kredit BRI Group mampu diiringi dengan perbaikan kualitas kredit yang sehat dan terjaga, Hal ini ditunjukkan dengan rasio NPL BRI Group yang tercatat 2,99% dengan NPL Coverage mencapai 237,73%.

Besarnya pencadangan ini merupakan bentuk strategi perseroan untuk menjaga kinerjanya agar terus tumbuh secara sustainable melalui penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang baik.

Baca Juga: Kenaikan Tarif Rumah Sakit Dan Dokter Picu Inflasi Di Solo

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tercatat tumbuh sebesar 9,78% menjadi sebesar Rp.1.121,10 triliun, dengan komposisi dana murah (CASA) mencapai 59,67%.

Kuatnya fundamental membuat perseroan mencatatkan laba sebesar Rp18,66 triliun atau meningkat sebesar 14,02% (QoQ) jika dibandingkan dengan kuartal III 2020 dan aset mencapai Rp.1.511,81 triliun pada akhir Desember 2020. Kondisi permodalan BRI Group pun semakin kuat dengan CAR berada di level 21,17%.

“Tahun ini BRI optimistis kredit mampu tumbuh lebih baik diatas rata-rata industri nasional, dengan faktor pendukungnya yakni LDR yang masih terjaga di level 83,70%. Hal ini sejalan dengan perbaikan daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga yang menjadi faktor utama pendorong permintaan kredit,” imbuh dia.

Baca Juga: Arus Kas Dana Jaminan Sosial Kesehatan Surplus Rp18,7 Triliun

Strategi yang diambil BRI Group dalam kaitannya menjaga agar kinerjanya tetap sustain nyatanya diapresiasi oleh para investor. Hal tersebut tercermin dari peningkatan harga saham BBRI yang telah melewati harga sebelum pandemi bahkan menembus harga tertingginya (all time high).

Kenaikan harga saham BBRI tersebut menjadikan BRI sebagai emiten BUMN pertama yang kapitalisasi pasarnya menembus angka Rp 600 triliun, atau lebih tepatnya Rp603,06 triliun pada 20 Januari 2021 yang lalu.

 



Berita Terkini Lainnya








Kolom