Mantan Kades Ngarum, M. Karno K.D., menunjukkan makam Ki Gede Arum di Hastanalaya Sentana Desa Ngarum, Ngrampal, Sragen, Rabu (20/11/2019). (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Ngarum merupakan nama sebuah desa di wilayah Kecamatan Ngrampal, Sragen, yang berbatasan dengan Kecamatan Gondang, dan Karangmalang.

Nama tersebut memiliki kisah sejarah yang cukup panjang dan masih berkaitan dengan kisah Pangeran Samudro yang dimakamkan di Gunung Kemukus, tepatnya di wilayah Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen.

Mantan penilik kebudayaan Kabupaten Sragen, M. Karno K.D., saat berbincang dengan solopos.com di kediamannya, Rabu (20/11/2019), berkisah tentang sejarah atau asal usul nama Ngarum.

Karno yang juga Kepala Desa Ngarum periode 1996-2001 sempat menemukan sebuah majalah bertuliskan berhuruf Jawa asal Yogyakarta terbitan 1933. Tulisan Jawa itu berisi kisah perjalanan Pangeran Samudro dari Demak ke Gunung Lawu hingga meninggal di Gunung Kemukus. Karno mengalihaksarakan tulisan Jawa ke tulisan latin atas perintah Bupati Sragen R. Bawono saat itu.

Dalam sejarah tersebut disebutkan asal usul nama sejumlah desa, salah satunya Desa Ngarum yang ia tinggali. Berdasarkan sumber itulah, Karno yang kini berusia 79 tahun berkisah.

Dia bertutur, Pangeran Samudro bersama ibunya, Dewi Ontrowulan yang juga garwa ampil atau selir Brawiajaya V, diboyong dari Keputren Majapahit ke Keraton Demak oleh Sunan Kalijaga saat terjadi geger di Majapahit. Geger tersebut terjadi karena serangan Girindrawardhana.

Di Demak, Pangeran Samudro belajar agama Islam dengan para wali. Karno melanjutkan hingga akhirnya Sunan Kalijaga meminta Pangeran Samudra untuk menjemput anak keturunan Brawijaya V atau saudaranya yang tinggal di Gunung Lawu. Di Gunung Laru, Pangeran Samudro menjadi santri di sebuah pondok yang konon dipimpin seorang guru berjuluk Sunan Lawu.

“Sunan Lawu saat itu tidak lain Pangeran Surya, yakni salah satu putra Brawijaya V. [Dari sumber lain, Sunan Lawu itu nama lain dari Raden Gugur yang juga putra Brawijaya V]. Saat nyantri itu Pangeran Samudro dikenal cerdas dan langsung bisa menjawab segala pertanyaan sang Sunan hingga akhirnya Sunan curiga,” ujar Karno.

Pada suatu malam, Sunan Lawu memanggil Pangeran Samudro supaya menceritakan asal usulnya. Karno meneruskan kisahnya, Pengeran Samudro mengisahkan bahwa sejatinya dirinya putra Brawijaya V dari selir Dewi Ontrowulan. Awalnya Sunan Lawu tidak percaya dengan cerita itu. Untuk mengetesnya, Sunan Lawu meminta Pangeran Samudro menyebut nama-nama putra Brawijaya yang jumlahnya 122 orang.

“Saat itu, Sunan Lawu bertanya tentang salah satu putra Brawijaya V, Pangeran Surya. Pangeran Samudro menjawab wajahnya mirip dengan Sunan. Saat itulah, Sunan Lawu merangkul Pangeran Samudro karena percaya bahwa ia adalah adiknya satu bapak,” kisah Karno sambil matanya berkaca-kaca. Saat menceritakan pertemuan dua pangeran itu, Karno selalu menangis.

Kemudian Pangeran Samudro menyampaikan tujuannya ke Gunung Lawu yang tidak lain menjemput saudaranya untuk kembali berkumpul di Demak. Sunan Lawu menyanggupi tetapi menempuh jalan berbeda.

“Sunan Lawu lewat timur tetapi tidak dikisahkan dan Pangeran Samudro bersama pengikutnya lewat barat ke utara lewat hutan. Di tengah perjalanan tiba-tiba ada kabut hitam sehingga tidak bisa melihat. Rombongan Samudro istirahat dan menamai daerah itu dengan sebutan Gumeng yang artinya peteng dhedet [gelap gulita]. Kemudian berjalan lagi pada keesokan harinya dan melewati hutan yang banyak ditumbuhi pohon sambi. Saat itu terjadi hujan deras disertai petir. Sebuah pohon besar tumbang terkena petir. Petir itu seperti api dan oleh orang Jawa disebut guntur geni. Tempat itu diberi nama Sambirejo dan terdapat petilasan Guntur Geni,” ujar Karno.

 

Lingga dan yoni ada di sebuah bukit yang dikenal dengan nama Maja Candi di wilayah Desa Srimulyo, Gondang, Sragen. (Solopos-Tri Rahayu)

Lingga dan yoni ada di sebuah bukit yang dikenal dengan nama Maja Candi di wilayah Desa Srimulyo, Gondang, Sragen. (Solopos-Tri Rahayu)Rombongan Samudro melanjutkan perjalanan ke Demak dan menyeberangi sungai. Saat tiba di sebuah hutan di pinggir sungai, salah satu sentana Pangeran Samudra yang bernama Ki Gede Arum mengaku tidak kuat melanjutkan perjalanan.

“Ki Gede Arum meminta izin Pangeran Samudra agar tinggal di hutan yang dekat dengan permukiman untuk menyebarkan agama Islam. Permintaan Ki Gede Arum dikabulkan Pangeran Samudro. Di daerah itu, Ki Gede Arum tinggal. Daerah menjadi ramai penduduk. Orang kalau hendak datang ke pesanggrahan Ki Gede Arum selalu mengatakan mau ke Ki Arum lama-lama menjadi sebuat Ngarum. Daerah itu kini menjadi Desa Ngarum,” katanya.

Karno kemudian menunjukkan makam Ki Gede Arum yang terletak di Hastanalaya Sentana yang terletak 100 meter dari Balai Desa Ngarum, Ngrampal. Nama Ki Gede Arum, ujar Karno, kemudian ada yang menyebut dengan nama Ki Ageng Arum atau Kiai Tuguarum yang tertulis dalam makamnya.

Ki Gede Arum memiliki keturunan yang menjadi Sinder dan cukup kaya yang dikenal dengan nama Mbah Sinder yang juga dimakamkan di situ. Di antara makam Ki Gede Arum dan Nyi Gede Arum ada sela-sela yang kosong.

“Sela-sela itu oleh trah Ki Gede Arum diberikan untuk lurah Ngarum, yakni Lurah Budi dan Lurah Karno. Lurah Karno itu ya saya ini. Orang masih hidup kok sudah disiapkan tempat kuburnya,” ujarnya sambil tertawa.

Karno menyampaikan saat terjadi geger di Majapahit, banyak orang-orang Majapahit yang lari ke barat. Dia menyebut ada yang lari ke wilayah Sambungmacan yang sekarang bisa diketahui ada Dukuh Majapahit, ada yang ke Candi Guwa di Plumbungan itu tempat bertapa para sentana Majapahit, ada yang ke Maja Candi di Bontit, ada yang ke Dukuh Candi di daerah Gondang (Plosorejo), ada yang di Sumber Jaya, dan seterusnya.

“Biasanya ditandai ada batu bata berukuran besar dan lingga-yoni dari batu,” ujarnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten