Pengendara melintas di depan Balai Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Sabtu (29/6/2019). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Singopadu merupakan salah satu desa di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Ditinjau dari etimologi bahasa, Singopadu berasal dari kata singo yang berarti singa dan padu yang berarti bertarung.

Namun, benarkan nama desa ini diilhami dari cerita tentang pertarungan antara dua hewan buas yang dikenal sebagai raja hutan?

Pawiro Sumarto, 67, salah satu warga yang dituakan Desa Singopadu bercerita asal muasal penamaan desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani tersebut.

“Saya dengar cerita ini dari Mbah Karto yang sudah meninggal dunia pada usia 115 tahun sekitar 15 tahun lalu [sekitar 2004],” jelas Pawiro saat berbincang dengan solopos.com di lokasi, Sabtu (29/6/2019).

Dari kisah yang diceritakan Pawiro, diketahui penamaan nama Singopadu ternyata tidak berkaitan dengan cerita pertarungan dua raja rimba seperti yang diperkirakan banyak orang selama ini.

Menurut Pawiro, saat Desa Singopadu masih berupa hutan belantara, terdapat sepasang suami istri bernama Pak Singo dan Bu Singo. Pada suatu hari, Pak Singo dan Bu Singo berangkat ke hutan untuk memanen air nira hasil deres atau sadapan bunga kelapa yang dikenal dengan sebutan manggar. Air nira ini biasa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan gula merah.

Sebagai seorang pria, Pak Singo memanjat pohon untuk mengambil air nira. Sementara Bu Singo menunggu di bawah. Oleh Pak Singo, air nira itu kemudian diturunkan dari pohon dan ditaruh di permukaan tanah.

Dia kemudian memanjat pohon kelapa lain untuk memanen air nira. Mereka pun berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya. Sementara hasil panen air nira itu diletakkan di sebuah tempat yang cukup jauh dari jangkauan mereka. Tanpa sepengetahuan mereka, datanglah seekor singa mengambil dan meminum air nira yang dipanen Pak Singo dan Bu Singo tersebut.

“Setelah mendapati hasil panen air nira habis diminum oleh seekor singa, Pak Singo marah kepada Bu Singo. Mereka berantem karena saling menyalahkan. Pak Singo dan Bu Singo itu padu. Oleh sebab itulah, kawasan ini kemudian dinamakan Desa Singopadu,” jelas Pawiro.

Di Desa Singopadu terdapat sebuah bukit yang oleh warga sekitar disebut Gunung Rangging di Dusun Karangtalun. Sebagian warga mengenalnya dengan sebutan Gunung Gugur. Di Gunung Rangging terdapat sebuah tempat yang banyak ditemukan bebatuan.

Warga sekitar percaya tempat itu merupakan petilasan Pangeran Sukowati. Di Dusun Karangtalun ini terdapat ratusan perumahan bersubsidi yang mangkrak selama bertahun-tahun.

Menurut Pawiro, mangkraknya ratusan perumahan bersubsidi tersebut dikarenakan ada kesalahan dalam pemberian nama. “Perumahan itu diberi nama Griya Sidoharjo Sragen, itu kan tidak pas. Seharunya Griya Karangtalun, Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Sragen,” paparnya.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten