Asale Bekas Rumah Dinas Pengawas Perkebunan, Saksi Bisu Era Kejayaan Industri di Gatak Sukoharjo

Pada zaman dahulu, pemerintah Kolonial Belanda membangun pabrik gula dan tembakau di wilayah Gawok, Gatak, Sukoharjo.

 Sumur rumah dinas pengawas perkebunan peninggalan pemerintah Kolonial Belanda di sebelah timur Mapolsek Gatak, Sabtu (31/7/2021).(Bony Eko Wicaksono/Solopos)

SOLOPOS.COM - Sumur rumah dinas pengawas perkebunan peninggalan pemerintah Kolonial Belanda di sebelah timur Mapolsek Gatak, Sabtu (31/7/2021).(Bony Eko Wicaksono/Solopos)

Solopos.com, SUKOHARJO–Wilayah Kecamatan Gatak terletak di ujung barat wilayah Kabupaten Sukoharjo yang berbatasan dengan Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten.

Wilayah Gatak terdiri dari 14 desa seluas 1.947 hektare. Mata pencaharian masyarakat bermacam-macam seperti petani, pedagang, karyawan swasta hingga aparatur sipil negara (ASN).

Wilayah Gatak juga menyimpan histori yang erat hubungannya dengan masa penjajahan Kolonial Belanda. Tak sedikit infrastruktur atau rumah tua peninggalan zaman Belanda yang memiliki nilai histori yang kuat. Pada zaman dahulu, pemerintah Kolonial Belanda membangun pabrik gula dan tembakau di wilayah Gawok.

Baca Juga: Alhamdulillah, Kasus Harian Covid-19 Sukoharjo Turun Di Bawah 100 Orang 

Pabrik Gawok bagian dari empat pabrik besar di wilayah Sukoharjo yang dibangun pemerintah Kolonial Belanda. Sebagian besar pekerja merupakan pribumi yang berdomisili di sekitar wilayah Gatak dan sekitarnya.

“Selain pabrik, pemerintah Kolonial Belanda juga membangun opzichter woning atau rumah dinas pengawas perkebunan. Kontruksi bangunan rumah mirip dengan bangunan loji,” kata seorang pegiat sejarah dari komunitas Mbako Baki, Surya Harjono, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (31/7/2021).

Pria yang akrab disapa Harjono itu menyampaikan ada tiga rumah dinas pengawas perkebunan di wilayah Gatak yakni sekitar Dusun Bedodo, Desa Blimbing dan sebelah timur Mapolsek Gatak tepatnya di Desa Trosemi. Satu lokasi rumah dinas pengawas perkebunan lain nya terletak di sekitar Tugu Lilin Gawok.

Ketiga rumah dinas pengawas perkebunan itu mengelilingi pabrik. “Para pengawas perkebunan mengawasi proses produksi mulai dari menanam benih tembakau dan tebu hingga memanen. Mereka sehari-hari tinggal di rumah dinas tersebut,” ujar dia.

Baca Juga: Salut! Polres Sukoharjo Rekrut Penyandang Disabilitas Jadi Operator Call Center

Tinggal Sumur Tua

Para pengawas perkebunan juga bertanggungjawab terhadap proses distribusi hasil panen yang dikirim ke sejumlah daerah di Jawa. Mereka berangkat ke pabrik pada pagi hari dan pulang ke rumah dinas pada malam hari. Kadang kala, mereka juga mengecek kondisi pabrik pada malam hari.

Kini, lanjut Harjono, bangunan rumah dinas pengawas perkebunan peninggalan jajahan Belanda hanya menyisakan sumur tua di sebelah timur Mapolsek Gatak. Dahulu, sumur itu menjadi sumber air untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari seperti mandi dan mencuci pakaian.

“Bangunan rumah pengawas perkebunan dirobohkan oleh pibumi setelah pemerintah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1945. Sekarang berubah menjadi lahan kosong yang ditumbuhi rumput liar dan ilalang,” papar dia.

Menurut Harjono, masih banyak peninggalan Belanda terutama infrastruktur perkebunan dan pertanian di wilayah Gatak. Kala itu, wilayah Gatak, Baki, dan Kartasura menjadi sentra industri tembakau dan gula yang hasil panennya menjadi salah satu pemasukan terbesar pemerintah Kolonial Belanda.

Berita Terkait

Espos Premium

Pebisnis Besar Berebut Kue Lezat Bisnis Pusat Data

Pebisnis Besar Berebut Kue Lezat Bisnis Pusat Data

Ekosistem digital tengah merebak di Indonesia seiring penetrasi Internet yang semakin meluas sehingga kebutuhan penyimpanan data semakin tinggi. Selama ini data penduduk Indonesia berada di luar negeri sehingga penarikan informasi memakan waktu dan jarak yang jauh.

Berita Terkini

Harus Teliti! Ini Beda Upal Buatan Warga Boyolali dengan Uang Asli dari BI

Kualitas uang palsu yang dibuat warga Boyolali jauh di bawah uang asli dan bisa dikenali dengan cara dilihat, diraba, dan diterawang.

Penerapan Aplikasi PeduliLindungi di Toko Swalayan Sukoharjo Belum Optimal, Ini Penyebabnya

Penerapan aplikasi PeduliLindungi di tempat publik Kabupaten Sukoharjo masih terkendala, termasuk untuk skrining pengunjung swalayan.

Solopos Saluran 100 Paket Bantuan bagi Anak Yatim Piatu Akibat Covid-19

Solopos dalam rangka HUT ke-24 menyalurkan bantuan paket sembako kepada anak-anak yatim, piatu, dan yatim piatu akibat Covid-19.

Pengungkapan Kasus Upal Rp49 Juta di Boyolali Bermula dari Laporan Warga, Begini Kronologinya

Pengungkapan kasus tindak pidana pembuatan dan pengedaran uang palsu atau upal di Mojosongo, Boyolali, bermula dari laporan warga,

100 Ojol Dikerahkan Antar 1.000 Paket Apam Yaa Qowiyyu di Jatinom Klaten

Sebaran apam pada puncak perayaan Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten, pada Jumat (24/9/2021), digantikan dengan pengantaran oleh ojol.

Kupas Tuntas Tema Populer Kesehatan dari Studio RS JIH Solo

RS JIH Solo membangun studio khusus untuk talkshow edukasi membahas tema-tema kesehatan dengan dokter-dokter ahli.

Laju Positif Sektor Pertanian Saat Pandemi, Ada Peran Pemerintah dan Generasi Milenial

Pertanian menjadi sektor yang memiliki laju positif karena peran pemerintah dan adanya keterlibatan generasi muda atau milenial dalam dunia pertanian.

Hujan Angin Terjang Girimarto Wonogiri, 1 Rumah Warga Rusak Parah

Satu rumah warga di Desa Jendi, Girimarto, Wonogiri, rusak parah akibat diterjang hujan deras disertai angin kencang pada Jumat siang.

Keren! 9 Siswa SMP Wakili Sragen di Kompetisi Sains Nasional Tingkat Jateng

Sembilan orang siswa SMP bakal mewakili Kabupaten Sragen dalam ajang Kompetisi Sains nasional (KSN) untuk pada Oktober 2021 mendatang.

Pengumuman Hasil Seleksi PPPK Guru Ditunda, GTT Wonogiri Malah Senang

Kalangan GTT senior di Kabupaten Wonogiri berharap penundaan pengumuman hasil seleksi PPPK merupakan sinyal baik.

Perjuangan Atlet Difabel Panahan Wonogiri Menuju Peparnas Papua, Pernah Latihan Pakai Alat dari Bambu

Salah satu atlet Wonogiri, Arif Wirawan, 39, akan berlaga di Pekan Paralimpik Nasional (Paperanas) XVI Papua 2021. Ia akan bertanding di sektor Panahan kelas W2 (beregu open).

Ditunjuk Terapkan PeduliLindungi, 600-An Pekerja Pasar Klewer Solo Malah Belum Divaksin Covid-19

Ratusan pekerja dan pelaku kegiatan di Pasar Klewer Solo ternyata belum divaksin Covid-19 padahal ditunjuk Kemendag untuk menerapkan PeduliLindungi.

Perjuangkan Nasib Petani, Mahasiswa Soloraya Unjuk Rasa di Ngarsopuro Solo

Puluhan mahasiswa anggota BEM Soloraya menggelar aksi unjuk rasa menuntut pemerintah menyesaikan persoalan pertanian.

Ditanya Soal Duet dengan Ganjar di Pilpres 2024, Menko Airlangga: Masih Jauh Itu

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di acara haul Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten, Jumat (24/9/2021)

Psywar ke AHHA PS Pati Berlanjut, Gibran: Sponsor Persis Solo Lebih Banyak sampai Jersey-ne Kebak

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka melanjutkan psywar kepada AHHA PS Pati dengan menyebut sponsor Persis Solo lebih banyak.