Apes! Janda Sragen Diteriaki Maling dan Ditangkap Saat Ambil Kursi di Rumah Eks Suami
Suwarti (kedua dari kanan) mengadu ke Forum Masyarakat Sragen (Formas) karena merasa diperlakukan tidak adil oleh mantan suami dan polisi, Selasa (11/2/2020). (Istimewa/Formas)

Solopos.com, SRAGEN — Nasib Suwarti, 36, janda asal Tanjungsari RT 25, Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Sragen, benar-benar apes. Saat hendak mengambil kursi miliknya di rumah mantan suami di Dukuh Gonggangan, Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Suwarti justru diteriaki maling oleh warga sekitar.

Kejadian itu bermula ketika Suwarti tengah memanen tanaman padi di sawah milik orang tuanya di Dukuh Gonggangan, Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Sragen, Minggu (9/2/2020). Saat itu, Suwarti didatangi mantan suaminya, Sumarlan, 40, yang sudah resmi bercerai sejak November 2019.

Kepada Suwarti, Sumarlan berpesan supaya mantan istrinya itu mengambil kursi di rumahnya yang berada tak jauh dari sawah. Selesai memanen padi, truk yang dipakai untuk mengangkut hasil panen itu akhirnya dibawa ke rumah Sumarlan.

Jatuh Saat Nyalip dari Sisi Kiri, Pembonceng Motor Terlindas Truk di Jatinom Klaten

Truk berpelat nomor G 1323 NC itu hendak dipakai untuk mengangkut kursi yang dulu dibeli memakai uang Suwarti. Sesampainya di sana, Suwarni mengucapkan salam layaknya tamu pada umumnya. Saat itu, Suwarti disambut mantan suami dan keluarganya.

Namun, saat hendak menaikkan kursi itu ke truk, tiba-tiba Suwarti diteriaki maling oleh warga sekitar. Warga menuduh Suwarti hendak membawa kabur kursi layaknya maling.

Anehnya, mantan suami Suwarti dan keluarganya tidak memberikan pembelaan kepada Suwarti. Bahkan, seorang perangkat Desa Juwok ikut menuduh Suwarti sebagai maling. Suwarti pun merasa dijebak.

Sebut Agama Ancaman Terbesar Pancasila, Ini Penjelasan Kepala BPIP

Dia merasa menjadi korban perundungan oleh warga sekitar. “Di sana, Suwarti dipukul dan diteriaki maling. Dia dicaci maki. Bahkan ada warga yang berteriak supaya maling yang tertangkap itu sebaiknya dibakar saja,” ujar Ketua Divisi Hukum dan HAM Forum Masyarakat Sragen (Formas), Sri Wahono, yang mendampingi Suwarti kepada Solopos.com, Rabu (12/2/2020).

Suasana makin panas saat warga menghubungi Polsek Sukodono. Lima anggota Polsek Sukodono yang tiba di lokasi langsung memborgol kedua tangan Suwarti. Suwarti kemudian dibawa ke Mapolsek Sukodono untuk diperiksa.

“Dia diborgol dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Polisi sudah berusaha membuka namun tidak ada kunci yang cocok. Akibatnya, Suwarti sampai meninggalkan Salat Zuhur, Asar, dan dan Magrib karena tangannya diborgol. Kunci borgol itu baru ketemu setelah pukul 18.00 WIB. Setelah itu, dia baru diperbolehkan pulang,” jelas Sri Wahono.

Bayi Dibuang di Saluran Irigasi Daleman Klaten Ternyata Dibunuh Ibunya

Merasa diperlakukan tidak adil, Suwarti mengadu ke Formas. Sri Wahono menilai seharusnya masalah Suwarti dengan mantan suaminya itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Dia menyayangkan aksi oknum perangkat desa yang tidak bisa menengahi persoalan namun justru membuat gaduh suasana.

“Masalah itu tidak layak naik ke ranah hukum. Apalagi sampai Suwarti diborgol. Suwarti hanya ingin mengambil barang miliknya sendiri. Saya menduga ada kesalahan SOP [standard operating procedure] oleh polisi hingga Suwarti sampai diborgol selama empat jam,” terang Sri Wahono.

Hebat! UMS Solo Peringkat 1 Universitas Swasta Terbaik Se-Indonesia

Sementara itu, Kapolsek Sukodono, AKP Bambang Irwandi, membantah ada pemborgolan terhadap kedua tangan Suwarti. Menurutnya, polisi datang ke lokasi untuk menjadi penengah masalah yang dihadapi Suwarti dengan mantan suaminya, Sumarlan.

“Dia [Suwarti] datang ke Mapolsek Sukodono dalam rangka membuat pengaduan. Tidak ada pemborgolan oleh petugas. Sekarang kami masih mendalami persoalan ini. Saya belum bisa bicara banyak soal ini. Rencana besok [Kamis] saya baru bertemu mantan suaminya. Saya kira ini hanya salah paham,” ucap Bambang.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho