Apa Itu Sultan Ground di Yogyakarta? Ini Penjelasannya

Salah satu keistimewaan DI Yogyakarta adalah memiliki Sultan Ground, apa itu?

 Harian Jogja/ Gigih M. Hanafi

Ribuan warga menyaksikan abdi dalem mengarak gunungan hasil bumi saat prosesi adat Grebeg Besar di Keraton Yogyakarta, Jogja, Selasa (13/9). Kegiatan yang dihadiri ribuan warga itu guna memperingati Iduladha 1437 H serta menjadi simbol sedekah raja Keraton Yogyakarta kepada rakyatnya dan wujud rasa syukur raja kepada Tuhan.

SOLOPOS.COM - Harian Jogja/ Gigih M. Hanafi Ribuan warga menyaksikan abdi dalem mengarak gunungan hasil bumi saat prosesi adat Grebeg Besar di Keraton Yogyakarta, Jogja, Selasa (13/9). Kegiatan yang dihadiri ribuan warga itu guna memperingati Iduladha 1437 H serta menjadi simbol sedekah raja Keraton Yogyakarta kepada rakyatnya dan wujud rasa syukur raja kepada Tuhan.

Solopos.com, JOGJA — Salah satu keunikan Daerah Istimewa Yogyakarta yakni diberi kewenangan oleh negara dalam hal pertanahan. Tanah yang dikuasi Kasultanan Yogyakarta disebut Sultan Ground atau SG.

Dikutip dari jurnal berjudul Pemetaan Potensi Penggunaan Tanah Sultan Ground di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Ground merupakan tanah adat di mana tanah tersebut peninggalan yang dimiliki lembaga Keraton Jogja.

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Negara telah memberikan kewenangan khusus kepada DI Yogyakarata melalui Undang-Undang No. 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam Pasal 32, Kasultanan dan Kadipaten sebagai badan hukum merupakan subjek hak yang mempunyai hak milik atas tanah Kasultanan dan Kadipaten.

Tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten meliputi tanah keprabon dan tanah bukan keprabon yang terdapat di seluruh kabupaten/kota dalam wilayah DIY. Kasultanan maupun Kadipaten memiliki wewenang dlaam mengelola dan memanfaatkan tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten yang ditujukan untuk pengembangan kebudayaan, kepentingan sosial, dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Kenapa di Jogja Tidak Ada Angkot? Ini Alasannya

Dalam Pasal 33 disebutkan bahwa hak milik atas tanah Kasultanan dan Kadipaten didaftarkan pada lembaga pertanahan. Pendaftaran atas tanah Kasultanan dan Kadipaten yang dilakukan oleh pihak lain wajib mendapatkan persetujuan tertulis dari Kasultanan untuk tanah Kasultanan dan persetujuan tertulis dari Kadipaten untuk tanah Kadipaten.

Mengenai pengelolaan dan pemanfaatan tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten oleh pihak lain harus mendapatkan isin persetujuan.

Sejarah Tanah Kasultanan

Dalam jurnal karya Umar Kusumoharyono berjudul Eksistensi Tanah Kasultanan (Sultan Ground) Yogyakarta Setelah Berlakunya UU No. 5/1960, penguasaan tanah oleh Sultan Yogyakarta didapat sebagai pelaksanaan kesepakatan dari perjanjian yang diadakan di Giyanti atau Perjanjian Giyanti pada 1755. Setelah perjanjian Giyanti, Sultan Hamengku Buwono mempunyai hak milik (domein) atas tanah di wilayah barat Kerajaan Mataram dan hal ini tetap harus hidul dalam kesadaran hukum masyarakat.

Baca Juga: Gadaikan Mobil Sewaan Rp22,5 Juta, Pria Jogja Dibekuk di Bandungan

Konsekuensi dari diberlakukannya asas domein tersebut maka rakyat tidak mempunyai hak eigendom, penguasaan tanahnya adalah dengan hak anggaduh dengan kewajiban menyerahkan separo atau sepertiganya hasil tanahnya jika merupakan tanah pertanian dan apabila berupa tanah pekarangan, maka mereka dibebani kerja tanpa upah untuk kepentingan raja.

Berdasarkan kewenangannya sebagai pemilik dan penguasa tanah mutlak atau pemegang domein, Sultan setelah melakukan reorganisasi kemudian menentukan hak-hak atas tanah yang dimiliki oleh para warganya, yaitu meliputi hak anggaduh, hak angganggo turun temurun, hak andarbeni, hak pungut hasil, hak didahulukan, dan hak blengket.

Setelah Republik Indonesia merdeka kemudian membawa perubahan bagi eksistensi bagi Kasultanan Yogyakarta yang semua merupakan bagian dari wilayah pemerintah Hindia Belanda, kemudian Sultan menyatakan bahwa KAsulatanan Yogyakarta merupakan bagian dari Republik Indonesia. Berdasarkan UU No. 3 tahun 1950 junto UU No. 19 tahun 1950 ditetapkan sebagai Daerah Istimewa yang setara dengan daerah tingkat I atau provinsi.

Baca Juga: 1 Pelajar Jogja Meninggal karena Dianiaya, Polisi Periksa Belasan Saksi

Berdasarkan pada PAsal 4 ayat (1) UU No. 3 tahun 1950, DIY mendapat kewenangan untuk mengurus beberapa hal dalam rumah tangganya sendiri, salah satunya urusan bidang pertanahan yang menjadi kewenangan DIY.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Siapkan Payung! Prakiraan Cuaca Jogja Kamis Ini: Hujan Tipis Siang-Sore

      Berikut ini prakiraan cuaca di Kota Jogja pada Kamis 11 Agustus 2022.

      SDN 1 Delegan Sleman Terbakar, KBM Bakal Dilakukan Sistem Shift

      Kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN 1 Delegan, Sumberharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, dilakukan dengan sistem shift pasca kebakaran terjadi.

      SDN 1 Delegan Sleman Alami Kebakaran Hebat, Kerugian Capai Rp500 Juta

      Kerugian yang ditimbulkan dalam kebakaran di SDN 1 Delegan, Sumberharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, mencapai setengah miliar rupiah.

      Menarik! Tim SAR Bakal Gelar Upacara Kemerdekaan di Laut Gunungkidul

      Peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun ini, SAR Satlinmas Wilayah 2 DIY di Pantai Baron akan menggelar upacara peringatan detik-detik proklamasi di laut.

      Ngawur! Penjaga Kos di Bantul Gelapkan & Jual Tiga Motor Milik Bosnya

      Seorang penjaga indekos di Dusun Ngebel, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, gelapkan tiga unit sepeda motor milik majikannya.

      Pemaksaan Berjilbab, Guru SMAN 1 Banguntapan Minta Maaf ke Ortu Siswi

      Pihak guru SMAN 1 Banguntapan meminta maaf kepada orang tua siswi yang dipaksa memakai jilbab.

      SDN di Sleman Kebakaran, 6 Ruang & Puluhan Komputer Ludes Terbakar

      SDN 1 Delegan, Sumberharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, mengalami kebakaran pada Selasa (9/8/2022) malam.

      Ada Pemeliharaan, Cek Pemadaman Listrik di Jogja Hari Ini (10/8/2022)

      Berikut ini jadwal pemeliharaan dan pemadaman listrik yang terjadi di Kota Jogja dan Sleman, DI Yogyakarta, pada hari ini, Rabu, 10 Agustus 2022.

      Berawan Sepanjang Hari, Simak Prakiraan Cuaca di Jogja Rabu Ini

      Berikut ini prakiraan cuaca di Kota Jogja pada Rabu 10 Agustus 2022.

      Kasus Pemaksaan Jilbab, Pemda DIY Bakal Temukan Guru & Ortu Siswi

      Pemda DI Yogyakarta bakal temukan orang tua siswi dengan pihak sekolah terkait kasus pemaksaan berjilbab di SMAN 1 Banguntapan.

      Langgar Izin, Satpol PP Tutup Penginapan di Catur Tunggal Sleman

      Satpol PP DI Yogyakarta menutup satu penginapan di Nologaten, Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

      Sultan HB X Kembali Ditetapkan sebagai Gubernur Yogyakarta 2022-2027

      DPRD DI Yogyakarta menetapkan Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB X dan Adipati Kadipaten Pakualaman Paku Alam X secara resmi ditetapkan kembali menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DI Yogyakarta periode 2022-2027.

      Aksi Pesilat PSHT Keroyok Warga di Jogja Berujung Damai!

      Aksi pengeroyokan yang melibatkan antara kelompok PSHT dengan warga di Kota Jogja berujung damai.

      Jumlah Petani Tembakau di DIY Turun Terus Setiap Tahun, Kenapa?

      Jumlah petani tembakau di DI Yogyakarta setiap tahun drastis karena berbagai faktor.

      Ada Pemeliharaan, Cek Pemadaman Listrik di Jogja Hari Ini (9/8/2022)

      Berikut ini jadwal pemeliharaan dan pemadaman listrik yang terjadi di Kota Jogja, DI Yogyakarta, pada hari ini, Selasa, 9 Agustus 2022.

      Simak Prakiraan Cuaca di Jogja Selasa Ini

      Berikut ini prakiraan cuaca di Kota Jogja pada Selasa 8 Agustus 2022.