Berbagai temuan purbakala yang dikumpulkan Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Gua Lawa Sampung, Ponorogo. (Istimewa-Gayuh)

Solopos.com, PONOROGO -- Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) mengungkap fakta baru terkait kehidupan prasejarah di Gua Lawa di Desa Sampung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo. Gua Lawa pada 7000 tahun lalu telah menjadi tempat bermukim manusia purba.

Tim Puslit Arkenas melakukan penelitian dan ekskavasi di Gua Lawa Sampung pada Sabtu (28/9/2019) hingga Minggu (13/10/2019). Ada 13 personel yang diturunkan dalam ekskavasi dan penelitian purbakala itu.

Koordinator peneliti dari Tim Puslit Arkenas, Djatmiko, mengatakan ada ribuan benda purbakala yang ditemukan dalam proses ekskavasi di Gua Lawa. Hasil penelitian ini melengkapi hasil penelitian yang sebelumnya dilakukan.

"Sebenarnya dahulu tahun 1926 dan 1928-1931 peneliti Belanda telah melakukan penelitian di lokasi ini. Tetapi benda-benda yang ditemukan dibawa ke Belanda," kata dia saat dihubungi Madiunpos.com, Kamis (17/10/2019).

Setelah belasan hari melakukan ekskavasi, tim menemukan ribuan benda-benda purba yang sebagian besar terbuat dari tulang binatang. Tulang-tulang binatang itu dijadikan sendok, spatula, lancipan, sudip, dan lainnya.

Dari hasil bukti-bukti purbakala yang ditemukan itu, maka peneliti membuat istilah untuk menggambarkan kondisi Gua Lawa Sampung dengan Sampung Bone Culture atau Sampung Bone Industry. Dengan beragam penemuan tulang belulang yang ada di gua ini, peneliti juga membuat Gua Lawa menjadi situs eponim Sampungian untuk merujuk budaya alat tulang sejenis di Nusantara.

Budaya Sampungian ini memiliki ciri penggunaan tulang, rangga, maupun tanduk binatang sebagai bahan baku pembuatan alat. Tulang yang digunakan biasanya bagian tulang panjang yang menyerupai pipa.

Tulang ini kemudian dipangkas sehingga membentuk berbagai tipe alat seperti sudip, spatula, dan jarum penusuk. Tulang juga dipanaskan atau dibakar sampai berwarna kecokelatan atau kehitaman untuk memperkeras bagian yang tajam.

Selain alat tulang, manusia purbakala di Gua Lawa juga menggunakan peralatan yang terbuat dari batu seperti mata panah, alat serpih, serta kerakal sungai sebagai kapak penetak atau batu giling.

Djatmiko menuturkan benda-benda yang dikumpulkan di Gua Lawa itu telah dibawa dan dikonservasi. Saat benda-benda itu dititipkan di Balai Arkeologi Jogjakarta. Nantinya, benda-benda itu akan dianalisis.

"Ini prosesnya masih panjang. Tidak bisa cepat. Mungkin lima tahun pun belum tentu selesai karena ini masih kompleks dan rumit sekali. Terutama masalah penanggalannya. Belum jelas itu," ujar dia.

Gua Lawa Sampung ini, kata Djatmiko, pernah menjadi hunian manusia purba pada 7.000 tahun sebelum masehi. Hal ini berdasarkan kerangka manusia yang ditemukan peneliti Belanda van Stein Callentels di Gua Lawa. Kerangka manusia yang ditemukan ciri fisik ras Australomelanesid. Ini ditunjukkan oleh gigi-geligi yang sedikit lebih besar, bentuk tulang wajah terkesan kekar, serta tonjolan alis yang nyata.

Mereka berasal dari periode budaya Preneolitik (Mesolitik) yang mengenal tradisi penguburan dengan posisi terlipat. Sedangkan lapisan budaya Neolitik di Gua Lawa merupakan jejak populasi Mongoloid yang juga pernah menghuni Gua Lawa pada periode lebih muda.

"Di Gua Lawa Sampung ini sudah ada 10 kerangka manusia yang ditemukan. Delapan kerangka ditemukan oleh peneliti Belanda dan dua kerangka ditemukan peniliti Arkenas," katanya.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten