Akun Ini Sebut Ryan D'Masiv Tak Akui Pak Tarno Sebagai Ayahnya
Meme Ryan D'Masiv menolak disebut anak Pak Tarno. (Istimewa/Instagram/Kopetnews)

Solopos.com, SOLO -- Kopetnews kembali berulah. Akun parodi berita ini mengajukan pernyataan yang membuat netizen emosi. Akun ini menyebut Rian Ekky Pradipta alias Ryan D'Masiv enggan mengakui Pak Tarno sebagai ayahnya.

Dalam caption gambar yang diunggah Kopetnews menulis meski keduanya terlihat mirip. Akun ini menyandingkan foto Pak Tarno dan Ryan dengan gaya rambut yang sama. Bedanya, Pak Tarno memakai rambut pasangan atau wig.

"Hal serupa juga terjadi dengan Kekeyi yang tidak mau mengakui Elly Sugigi sebagi ibunya," tulis Kopetnews di caption yang diberi hashtag #faktasikopet, 7 Agustus 2020.

Kopetnews memang kerap mengunggah berita atau artikel yang bersifat jenaka. Akun ini sempat melejit lantaran postingannya beberapa kali dibacakan di acara channel Youtube Majelis Lucu, Pengen Siaran.

Salah satu host Pengen Siaran, Tretan Muslim sambil marah-marah membacakan postingan Kopetnews. Setelah diulas di Pengen Siaran, akun ini makin sering mem-posting tulisan dengan mentautkan gambar ke akun Instagram Majelis Lucu.

Viral, Driver Ojol Kehilangan Motor Usai Ngemut Payudara Penumpang? Cek Faktanya

Disinformasi?

Meski kebanyakan followers-nya mengerti postingan Kopetnews bernuansa jenaka, pada level tertentu parodi seperti ini membuka peluang untuk disalahartikan.

Seperti konten soal Ryan D'Masiv dan Pak Tarno. Pertama, Ryan D'Masiv tak pernah mengeluarkan pernyataan soal hubungannya dengan Pak Tarno.

Tuduhan Pak Tarno sebagai ayah Ryan D'Masiv adalah wacana tunggal yang digulirkan sendiri oleh Kopetnews. Maka jika ditanya demikian, memang besar kemungkinan Ryan bakal tak mengakui Pak Tarno sebagai ayahnya.

Relasi yang tidak singkron ini kerap dikategorikan sebagai salah satu jenis informasi disinformasi. Meskipun nuansanya lebih cocok disebut sebagai parodi atau satire.

Selanjutnya, soal penempatan label "Tahukah Anda?" dan #faktasikopet secara sekilas akan membuat orang berpikir keras. Di akhir, memang sebaiknya konten ini hanya cukup disebut sebagai lelucon.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom