Tutup Iklan

AKTIVIS IMM TERSANDUNG FACEBOOK : Warga Muhammadiyah Klaten Kecam Langkah Dosen STIKES

AKTIVIS IMM TERSANDUNG FACEBOOK : Warga Muhammadiyah Klaten Kecam Langkah Dosen STIKES

SOLOPOS.COM - Terdakwa pencemaran nama baik Dimas Yulian Saputra (duduk di kursi pesakitan sebelah kanan), 21 dan Fajar Purnomo (duduk di kursi pesakitan sebelah kiri), 24, mendengarkan keterangan Ketua Majelis Hakim PN Klaten, Sagung Bunga Maya Saputri Antara (kanan) saat menjalani sidang perdana, Kamis (7/5). Kedua terdakwa didakwa melanggar Pasal 27 ayat 3 jo Pasal 45 UU No. 11/2008 tentang Undang-Undang Informasi Teknologi dan Elektronik (UU ITE) dan Pasal 310 Kita Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pencemaran Nama Baik. (JIBI/Solopos/Ponco Suseno)

Aktifis IMM tersandung Facebook di STIKES disesalkan warga Muhammadiyah Klaten.

Solopos.com, KLATEN — Sejumlah warga Muhammadiyah di Klaten mengecam tindakan salah seorang dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah, H. Mawardi, yang nekat menyeret mahasiswanya ke kursi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Klaten, Kamis (7/5/2015).

Kecaman tersebut dilancarkan sejumlah warga Muhammadiyah saat digelar sidang perdana pencemaran nama baik yang dilakukan mahasiswa dan alumni STIKES Muhammadiyah Klaten masing-masing Muh. Dimas Yulian Saputra, 21, dan Fajar Purnomo, 24.

Aksi demonstrasi dilakukan puluhan warga Muhammadiyah dari unsur mahasiswa STIKES, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Klaten, dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten. Dalam aksinya, mereka mendesak PN Klaten agar menjunjung tinggi keadilan.

Mereka menilai kasus pencemaran nama baik yang bermula dari diskusi internal di Facebook (FB) berakun STIKES Muhammadiyah Klaten tahun 2013 itu tak layak masuk meja hijau. Terlebih, kasus tersebut sudah diselesaikan di internal Muhammadiyah.

Pada kesempatan itu, mahasiswa juga menyuarakan aspirasi yang intinya mempertanyakan apakah kritik terhadap civitas akademika termasuk pencemaran nama baik? Apakah penyebutan status pernyataan juga termasuk pencemaran nama baik?

"Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Antara dosen dan mahasiswa itu tak ubahnya hubungan murid dan guru. Semuanya masih dalam satu keluarga. Jangan seorang guru justru memusuhi muridnya. Itu salah. Kasus ini sebenarnya sudah selesai di internal Muhammadiyah. Mereka yang bertikai sudah islah," kata Wakil Sekretaris PDM Klaten, Jalil, saat ditemui Solopos.com, di sela-sela aksi demonstrasi di depan PN Klaten.

Hal senada dijelaskan mantan Wakil Ketua Bidang Hikmah Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Klaten, Gunawan Wakhid Hasyim. Ia menilai Muhammadiyah sudah bijaksana mengatasi perseteruan antara mahasiswa dengan dosennya tersebut.

"Kami menilai, kasus ini tidak layak masuk ranah pidana. Soalnya, semuanya sudah selesai karena sudah dimediasi berulang kali," katanya.

Salah satu orator yang juga mahasiswa STIKES Muhammadiyah Klaten, Agus, mengatakan kasus ini membuktikan bahwa mentalitas pendidik telah hancur. "Mestinya, seorang pendidik mendidik anaknya. Bukan justru menganiaya anak didiknya," katanya.

Sementara, salah satu terdakwa, Fajar, mengaku juga terheran-heran dengan langkah yang diambil mantan dosennya itu. Terlebih, dirinya mengaku persoalan itu sudah selesai. Dirinya juga mengaku sudah minta maaf. "Diskusi itu awalnya guyon. Saya dengan Pak Mawardi juga tidak ada persoalan pribadi. Saya sudah minta maaf juga terkait masalah ini," katanya.

Dosen STIKES yang juga sebagai pelapor dalam kasus pencemaran nama baik ini, Mawardi, mengaku langkahnya melaporkan Dimas dan Fajar lantaran didasari ingin memperjuangkan asas kebenaran. Dirinya terpaksa membawa kasus ini ke meja hijau karena sudah dua tahun tidak ada penyelesaian meskipun sudah dimediasi PDM Klaten.

"Keduanya memang belum pernah meminta maaf kepada saya. Mereka justru mengaku benar terus terhadap masalah ini. Saya meyakini ada aktor lain di balik Dimas dan Fajar. Tapi, keduanya memilih bungkam. Makanya, ini harus diperjuangkan. Yang benar harus dikatakan benar, yang salah dikatakan salah di depan hukum. Saya ini bekerja di STIKES sejak 1993, tapi kok dianggap bukan orang Muhammadiyah," kata Mawardi.

 

Berita Terkait

Berita Terkini

Setahun Lebih Pandemi Covid-19, Ini Hambatan Terberat Bagi Nakes Solo

Para tenaga kesehatan atau nakes di Kota Solo menghadapi banyak tantangan dan hambatan dalam menangani kasus Covid-19 selama pandemi.

Warga Solo Positif Covid-19 Dilarang Karantina Mandiri di Rumah, SE Terbit Hari Ini

Warga Solo yang terkonfirmasi positif Covid-19 meski tanpa gejala tidak boleh lagi menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

Latihan Lagi, Persis Ingin Lapangan di Solo

Persis perlu berkoordinasi dengan Bhayangkara Solo Football Club (BSFC) yang juga memakai Stadion UNS sebagai tempat latihan.

Temui Dubes Palestina, Ketum PBNU: Menurut Al-Qur'an, Israel akan Kalah

Said Aqil mengatakan NU telah menyatakan dukungan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina sejak 1938.

Ini 5 Ekses Setuju Kebijakan Baru Privasi Whatsapp

Whatsapp seperti dibahas SAFE net secara resmi menerapkan kebijakan privasi baru mulai Sabtu (15/5/2021) lalu.

Balon Udara Meledak di Delanggu Klaten, Polisi Periksa 6 Orang Saksi

Polisi sudah meminta keterangan dari enam warga Dukuh Krapyak, Desa Sabrang, Delanggu, Klaten, terkait ledakan balon udara dengan petasan,

Pemudik Motor Wajib Rapid Test Antigen Acak saat Balik

Kemenhub bakal mengecek Covid-19 dengan rapid test antigen secara acak terhadap pemudik pengendara sepeda motor yang balik ke Jabodetabek.

Awas Licin! Belasan Sepeda Motor Berjatuhan Di Jalan Seputar Alut Keraton Solo

Belasan sepeda motor mengalami kecelakaan saat melewati jalan yang licin di seputar Alun-Alun Utara Keraton Solo pada Minggu dan Senin.

Gubernur Jateng Minta Seluruh RS Antisipasi Lonjakan Covid-19

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta semua rumah sakit di Jateng siaga potensi lonjakan kasus Covid-19 pasca Lebaran 2021.

Tahukah Anda? Tiap Zodiak Punya Bakat Terpendam!

Tahukah Anda, setiap pemilik tanda zodiak memiliki bakat terpendam yang mungkin bermanfaat untuk mengarungi kehidupan manusia.

Viral Pemotor Nyemplung Pantai Jepara, Ternyata Begini Ceritanya

Dalam video berdurasi 16 detik itu memperlihatkan seorang pemotor yang tengah terjebak di pantai.

Polrestabes Semarang Gelar Tes Antigen Acak Pemudik di Simpang Lima

Total ada sekitar 100 kendaraan dari luar daerah yang terjaring operasi Satlantas Polrestabes Semarang di Simpang Lima.