Kategori: Klaten

7 Warga Positif Covid-19, 1 RT di Sawahan Juwiring Klaten Lockdown


Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso

Solopos.com, KLATEN -- Pembatasan akses keluar-masuk kampung atau lockdown diterapkan di salah satu RT wilayah Desa Sawahan, Kecamatan Juwiring, Klaten, menyusul adanya tujuh warga positif Covid-19.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, pembatasan akses itu mulai diberlakukan pada Selasa (27/4/2021) dan direncanakan bergulir selama sepekan atau tujuh hari ke depan.

Tujuh warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 diketahui masih satu kerabat. Camat Juwiring, Herlambang Jaka Santosa, membenarkan ada pembatasan ketat yang diberlakukan di satu wilayah RT Desa Sawahan.

Baca Juga: Diduga Melamun, Pengendara Motor Tabrak Palang Perlintasan KA di Wonosari Klaten

“Mulai hari ini ada pengetatan lokal, istilahnya lockdown lokal. Karena ada yang positif di satu RT dengan jumlah total tujuh orang. Pembatasan kami lakukan sampai tujuh hari ke depan sesuai PPKM mikro,” kata Herlambang saat dihubungi Solopos.com, Selasa (27/4/2021).

Kasus Covid-19 di Sawahan, Juwiring, Klaten, itu bermula dari dari salah satu warga terkonfirmasi positif Covid-19. Kemudian dilakukan pelacakan kontak erat dan ditemukan total tujuh warga terkonfirmasi positif Covid-19.

Ketujuh orang itu saat ini menjalani isolasi mandiri. “Awalnya salah satu warga yang merupakan karyawan swasta itu sakit dan terkonfirmasi positif Covid-19. Kemudian dilakukan pelacakan kontak erat dan hasilnya ada tujuh yang positif. Mereka itu masih satu keluarga yang tinggal di sekitar empat rumah dalam satu kompleks,” jelas Herlambang.

Baca Juga: Saatnya Warga Klaten Mewaspadai Potensi Klaster Buka Bersama

Posko PPKM Mikro

Disinggung pembatasan akses wilayah yang diberlakukan, Herlambang mencontohkan akses keluar-masuk wilayah RT untuk sementara dibatasi hanya satu jalur utama yang dibuka. Ada posko PPKM mikro di wilayah RT tersebut untuk menjaga lalu lintas keluar-masuk wilayah RT.

Tempat ibadah dan tempat bermain di Sawahan, Juwiring, Klaten, sementara waktu juga ditutup akibat adanya warga yang positif Covid-19 itu. “Warga dari luar daerah untuk sementara belum bisa masuk ke wilayah RT tersebut. Namun, warga tinggal satu wilayah RT itu yang tidak terkonfirmasi positif dan tidak menjalani isolasi mandiri tetap bisa beraktivitas biasa. Seperti bekerja dan kegiatan lainnya dengan catatan protokol kesehatan tetap harus mereka patuhi,” katanya.

Herlambang menjelaskan pelacakan kontak erat masih terus dilakukan. Sementara itu, kebutuhan logistik warga yang menjalani isolasi mandiri disokong dari desa serta hasil gotong royong warga sekitar.

Baca Juga: 10 Kecamatan Penyumbang Kasus Covid-19  Tertinggi di Klaten

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Klaten, Ronny Roekmito, mengatakan tren klaster keluarga masih terus terjadi dan terus bertambah. Saat ini, klaster Covid-19 keluarga teridentifikasi menyebar ke beberapa kecamatan seperti Juwiring, Klaten Tengah, Trucuk, serta Wedi.

Di Trucuk, sebut Ronny, kontak erat sampai 23 orang. Sementara di Wedi total satu kecamatan ada 24 orang yang positif dari beberapa klaster keluarga. Dengan demikian, tidak hanya satu klaster keluarga tetapi ada beberapa klaster keluarga yang menyebar.

Zona Oranye

"Sementara di Juwiring ada klaster keluarga kemudian diputuskan satu RT diberlakukan pembatasan. Karena sudah memenuhi syarat untuk menerapkan zona oranye seperti kriteria PPKM mikro. Di Juwiring itu berawal dari satu orang yang merupakan karyawan perusahaan di Ceper tertular Covid-19,” kata Ronny.

Baca Juga: Sepekan, Kasus Covid-19 di Klaten Bertambah 287 Orang

Ronny mengatakan klaster keluarga cukup sulit dikendalikan jika dibandingkan dengan pengendalian dan pencegahan Covid-19 di area lain. “Kalau di wisata itu kan masing-masing objek sudah diminta membuat satgas sehingga untuk upaya pengendalian bisa dilakukan. Tetapi kalau di lingkup keluarga kami tidak bisa masuk sehingga sulit,” jelas Ronny.

Ronny kembali menegaskan cara paling agar tak lagi bermunculan klaster keluarga yakni masing-masing anggota keluarga disiplin menerapkan protokol kesehatan.

“Sekali lagi kami menekankan agar tetap waspada. Harus ada pola pikir orang-orang di sekitar kita ada yang positif termasuk dalam keluarga. Tujuannya agar selalu waspada dan tidak abai menerapkan protokol kesehatan dimanapun,” kata Ronny.

Share
Dipublikasikan oleh
Suharsih