6 Anak Meninggal Dunia Akibat DBD di Klaten
Ilustrasi DBD (JIBI/Solopos/Antara/Syaiful Arif)

Solopos.com, KLATEN -- Penyakit Demam berdarah dengue atau DBD di Klaten menyebabkan enam anak meninggal dunia sepanjang lima bulan, Januari hingga Mei 2020.

Dua anak di antaranya meninggal dunia pada Mei 2020. Enam anak yang meninggal dunia di Klaten itu berusia tiga tahun hingga 16 tahun.

Sementara itu, dua kasus baru pada Mei 2020 berasal dari Kecamatan Ngawen dan Kalikotes, Klaten. Satu orang anak berumur tiga tahun dan satu orang anak lainnya berumur 10 tahun.

Tambah 2 Lagi, Positif Virus Corona Boyolali Jadi 25 Kasus

Sebelumnya, ada empat anak meninggal dunia gara-gara DBD di Klaten hingga pertengahan Maret 2020. Mereka berusia empat tahun hingga 16 tahun. Tempat tinggal keempat anak itu tersebar di Kecamatan Jatinom, Ngawen, Trucuk, serta Klaten Tengah.

Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Wahyuning Nugraheni, mengatakan hingga pertengahan Mei 2020 ada 249 kasus DBD di Klaten. Jumlah kasus itu lebih banyak ketimbang periode yang sama pada 2020.

"Pada 2019 sampai pekan ke-21 [pertengahan Mei] ada 170 kasus. Sehingga pada pekan yang sama dibandingkan tahun sebelumnya ada peningkatan kasus," kata Wahyuning, Jumat (29/5/2020).

Dirawat 10 Hari, Fisioterapis Asal Klaten Tengah Sembuh dari Covid-19

Dia menambahkan setiap ada kasus DBD di Klaten petugas puskesmas selalu melakukan pelacakan. Selain itu, sosialisasi digencarkan terutama di daerah yang ditemukan kasus DBD. Apalagi di daerah yang ada korban DBD meninggal dunia.

Namun, selama pandemi Covid-19 petugas tak bisa melakukan sosialisasi secara massal dengan mengumpulkan masyarakat. Hal itu terkait protokol kesehatan pencegahan Covid-19 seperti menerapkan physical distancing serta menghindari kerumunan.

"Penyuluhan saat ini tidak bisa secara massal. Namun, kami tetap menggencarkan penyuluhan melalui media sosial atau grup WA,” kata Wahyuning.

Update Covid-19 Indonesia 29 Mei: Kasus Positif Tambah 678 Jadi 25.216, Sembuh 6.492

Pemberantasan Sarang Nyamuk

Dia menyebut pemberantasan sarang nyamuk (PSN) masih menjadi kegiatan paling efektif untuk mencegah serangan DBD yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti.

Skenario Pendidikan Saat New Normal, Bupati Wonogiri Tunggu Arahan Kemendikbud

Meski tak bisa dilakukan secara serentak di tengah pandemi Covid-19, Wahyuning menjelaskan PSN tetap wajib dilakukan meski dalam skala rumah tangga. “PSN tetap wajib namun dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing,” kata dia.

Kepala Dinkes Klaten, Cahyono Widodo, membenarkan enam anak meninggal dunia akibat DBD di Klaten sejak Januari 2020. Dia menjelaskan ketika ada kasus DBD, petugas kesehatan melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengetahui sumber penularan DBD.

“Apakah dapatnya dari rumah atau di tempat lain itu nanti dikaji dan disimpulkan untuk penindakan selanjutnya,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho