Pengunjung mengantre di wahana gajah tunggang di TSTJ atau Solo Zoo, Kamis (6/6/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Wisatawan yang berkunjung ke Kota Solo menembus angka 5 juta orang atau tepatnya 5.330.085 orang sepanjang 2019. Angka wisatawan ini naik 13,5% dari tahun sebelumnya sekaligus menjadi jumlah lawatan terbanyak dalam empat tahun terakhir.

Kepala Seksi Pengembangan Daya Tarik Wisata Disparta Solo, Weni Andriyanto, mengatakan ada kenaikan jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Solo, baik ke objek daya tarik wisata (ODTW) maupun sarana pendukung wisata lainnya seperti akomodasi perhotelan.

Menurutnya, kunjungan ini masih didominasi wisatawan domestik yang mencapai 5,2 juta selama 2019.

“Tahun ini jumlah kunjungan baik ke ODTW, hotel, atau pun destinasi lainnya mencapai 5,3 juta. Sementara 3,2 juta di antaranya ke ODTW. Sedangkan wisatawan mancanegara sekitar 13.000-an orang dari total 32.000 turis asing yang masuk. Seperti tahun-tahun sebelumnya, turis asal Malaysia yang paling banyak. Tahun depan kami target wisatawan 5,3 juta – 5,5 juta,” ujarnya, saat ditemui solopos.com, Selasa (14/1/2020).

Weni memaparkan naiknya wisatawan domestik karena semakin berkembangnya daya tarik baru di Kota Solo. Meskipun dalam hal ini, destinasi yang berbasis cagar budaya atau bernilai sejarah dan budaya masih menjadi magnet.

Menurutnya, kunjungan turis melebar ke objek wisata lain di luar ODTW. Misalnya, Museum Tumuran milik anak dari pendiri perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman (Sritex), Iwan Kurniawan Lukminto, dan Lokananta.

Sebelumnya, Disparta mencatat ada sebanyak 16 ODTW di Solo yang dimaksud, tapi hanya tujuh objek yang rutin melaporkan jumlah kunjungan, yakni Taman Balekambang, Museum Keris, Museum Radya Pustaka, Museum Batik Danar Hadi, Istana Mangkunegaran, Taman Satwa Taru Jurug, dan Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari.

Sebelumnya, Keraton Kasunanan Surakarta masuk perhitungan ini. Akan tetapi, sejak 2018 tak pernah lagi melaporkan jumlah wisatawan yang berkunjung.

“ODTW dengan jumlah kunjungan paling banyak adalah Taman Balekambang, disusul TSTJ. Di Taman Balekambang, event yang semakin disenangi adalah adanya Sendratari Ramayana. Jumlahnya bisa menjadi 2,5 juta pengunjung per tahun. Kami perluas open stage sehingga bisa menampung banyak pengunjung. Sementara TSTJ juga terus berbenah,” imbuhnya.

Di sisi lain, Disparta juga tengah fokus menggarap destinasi wisata malam. Hal ini dilatarbelakangi banyaknya wisatawan yang kebingungan mencari jujukan tempat menarik di Solo saat malam hari. Dalam hal ini wisata kuliner masih menjadi daya tarik utama.

Ia mencontohkan Solo punya sejumlah titik area kuliner, antara lain New Gladag Langen Boga (Galabo), Galabo Pucangsawit, dan Kottabarat. Namun demikian, pihaknya menyiapkan atraksi baru, seperti pertunjukan musik di jalan di kawasan tertentu.

“Kami lebih mengonsep kawasan Benteng Vastenburg. Sebelumnya sudah ada Galabo, lalu disusung daya tarik baru, ada Gedung Djoeang. Tempat ini disulap menjadi kawasan yang menarik dengan banyak spot berfoto hingga kafe untuk nongkrong. Kami akan padukan dengan atraksi lain di sekitarnya,” katanya.

Krezzz! Renyahnya Mata Maling Jajanan Jadul Solo dari Kulit Melinjo

Sementara itu, jumlah pengunjung TSTJ pada liburan Tahun Baru 2020 melebihi target. Direktur TSTJ Solo, Bimo Wahyu Widodo, mengungkapkan dari target 20.000 orang, pengunjung yang datang pada 1 Januari 2020 mencapai 22.300 orang. Menurutnya, ada kenaikan 7% daripada tahun lalu.

“Sepanjang 2019 jumlah total kunjungan wisatawan mencapai 564.928 orang. Manajemen telah melakukan promosi baik melalui online maupun offline. Selain itu, kami melakukan perbaikan di internal di area Jurug Solo Zoo, seperti infrastruktur dan komponen 3A [atraksi, amenitas, dan aksesibilitas],” paparnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten