Jajanan moto maling dari kulit melinjo (palingd epan) dijual di salah satu lapak jajanan tradisional di Pasar Gede Solo, Senin (30/10/2017). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO -- Mata maling, camilan khas Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng) merupakan jajanan yang sudah ada sejak tempo dulu. Sayangnya, kini tak banyak orang yang tahu dengan jajanan legendaris ini.

Dalam bahasa Jawa, mata maling berarti mata pencuri. Tidak seburuk namanya, mata maling memiliki cita rasa yang lezat.

Moto maling terbuat dari kulit melinjo berwarna merah dan tersedia dalam dua rasa, yakni pedas manis dan gurih. Dikutip dari situs resmi Pemerintah Kota Surakarta surakarta.go.id, Selasa (14/1/2020) bagi pecinta kuliner bisa mendapatkan jajanan ini di Pasar Gede Solo. Satu bungkus mata maling dihargai mulai Rp10.000.

Salah satu produsen sekaligus pedagang mata maling di Pasar Gede Solo, Susana, mengatakan jajanan ini berbeda dengan emping yang terbuat dari melinjo.

Baca Juga: Wedangan Pikul Legend Pak Senen di Solo, Masih Kuat di Usia 68 Tahun

"Mata maling memiliki rasa yang tidak pahit, tidak seperti emping," ujar Susana kepada Solopos.com, Senin (30/10/2017).

Camilan ini bertekstur renyah karena proses penggorengan kulit melinjo. "Kulit melinjo itu kan bahan basah. Kalau digoreng dengan api besar, akan gosong sebelum kering. Jadi harus dengan api kecil dan dilakukan cukup lama," sambungnya.

Baca Juga: Jelang Imlek, Permintaan Buah Impor di Solo Melejit

Sebelum bisa dinikmati oleh konsumen, mata maling harus melalui proses memasak dua kali. Setelah digoreng garing, kulit melinjo kemudian ditiriskan selama sehari.

Hal tersebut dilakukan agar minyak di kulit melinjo benar-benar hilang. Setelah kering, kulit melinjo dimasak lagi dengan bumbu khusus untuk mendapatkan rasa yang diinginkan.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba?


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten