19 Tahun Lalu, Pesawat Garuda Tembus Badai Es & Mendarat di Bengawan Solo Serenan Klaten
Pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia GA41 melakukan pendaratan darurat di Sungai Bengawan Solo. (Wikimedia.org)

Solopos.com, KLATEN – Sekitar 19 tahun lalu, tepatnya Rabu, 16 Januari 2002, warga Desa Serenan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten dikejutkan dengan pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia GA421 yang mendarat di Sungai Bengawan Solo.

Lokasi pendaratan pesawat tersebut berada di sisi timur desa yang terkenal sebagai penghasil ukiran di Klaten. Kala itu, pesawat terbang dari Ampenan (Mataram) dengan tujuan Jogja.

Penerbangan pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia GA421 yang dipimpim pilot Abdul Rozaq dan kopilot Haryadi menjadi sangat dramatis. Dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (16/1/2021), pesawat tersebut tiba-tiba kehilangan daya dorong akibat kedua mesin jetnya mati lantaran terkena badai es saat menembus awan kumulonimbus.

Anti-Mainstream! Sejoli Di Solo Ini Menikah Diiringi Pagar Bagus Pria-Pria Kekar Berotot

Pesawat Garuda itu kemudian meluncur tanpa mesin dari ketinggian sekitar 23.000 kaki dan akhirnya mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo. Dalam insiden itu seorang pramugari, Santi Anggareni, meninggal dunia. Sementara 54 penumpang dan empat awak lainnya selamat, meski mengalami luka-luka.

Kecelakaan tersebut mendapat sorotan dunia internasional terutama Amerika Serikat selaku produsen Boeing yang juga menurunkan tim investigasi National Transportasi Sefety Board (NTSB), membantu penyelidikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Batu Bata Merah Kuno Kembali Ditemukan di Gempol Klaten, Bagian Pagar Candi?

Kronologi

GA421 dijadwalkan terbang dari Selaparang, Mataram, pada pukul 15.00 WITA. Pesawat B737-300 registrasi PK-GWA itu kemudian menuju ketinggian jelajah 31.000 kaki. Pesawat dijadwalkan tiba di Yogyakarta sekitar pukul 17.30 WIB.

Namun saat meninggalkan ketinggian jelajah untuk turun ke bandara Adisutjipto, di atas wilayah Rembang, kapten penerbangan memutuskan sedikit menyimpang dari rute seharusnya atas izin ATC.

Hal itu dilakukan karena di depan terdapat awan yang mengandung hujan dan petir. Kru pesawat mencoba untuk terbang di antara dua sel awan badai.

Duh, Wonogiri Masuk Zona Merah Lagi

Sekitar 90 detik setelah memasuki awan berisi hujan, pesawat turun ke ketinggian 18.000 kaki dengan kondisi mesin dalam posisi idle. Kedua mesin pesawat mati mendadak sehingga kehilangan dayaa dorong (thrust).

Pilot dan kopilot mencoba menghidupkan unit daya cadangan (APU) untuk membantu menyalakan medin utama, namun gagal.

Berdasarkan hasil penyelidiikan, kru kokpit mencoba menyalakan mesin setiap satu menit. Pesawat terus meluncur ke bawah dalam kondisi mati mesin.

Karangan Bunga Sadis Gegerkan Pesta Nikah Warga Masaran Sragen, Begini Ceritanya

Saat sampai di ketinggian 8.000 kaki, pilot Garuda melihat alur anak Sungai Bengawan Solo dan memutuskan mendarat di sana. Pesawat melakukan dditching tanpa mengeluarkan roda pendaratan maupun flaps (menjulurkan sayap).

Dari rekaman suara di kokpit dan melihat kerusakan pada hidung dan mesin, disimpulkan GA 421 menembus awan badai yang berisi butiran-butiran es. Hasil laporan itu menyebut air dan es memiliki kepadatan yang tidak bisa ditoleransi saat mesin dalam kondisi idle.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom