Tambang ilegal Bantul di kawasan Pesisir Selatan meluas (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja) Tambang ilegal Bantul di kawasan Pesisir Selatan meluas (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 28 Desember 2016 00:20 WIB Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

TAMBANG ILEGAL BANTUL
Titik Meluas, Lahan Semakin Kritis

Tambang ilegal Bantul di Pesisir Selatan semakin bertumbuh

Harian Jogja, BANTUL — Titik penambangan pasir pantai di kawasan pesisir selatan, tepatnya di dua dusun, yakni Dusun Wonoroto Desa Gadingsari dan Dusun Karanganyar Desa Gadingharjo terus meluas. Praktik penambangan yang sejak dua 4 tahun silam berjalan itu kini sudah meluas hingga belasan hektar.

Baca Juga : TAMBANG ILEGAL BANTUL : BLH Imbau Penambang Perhatikan Suara Warga

Dari pantauan Harianjogja.com di lapangan, Senin (26/12/2016) setidaknya ada 3-4 titik dengan luasan berkisar 4-5 hektar di masing-masing titik. Dalam sehari, setidaknya lebih dari 10 truk pengangkut pasir yang keluar masuk lokasi tambang. Memang, dari penuturan salah satu pemilik truk, harga pasir per rit di lokasi itu relatif lebih murah ketimbang pasir sungai. Jika pasir sungai bisa mencapai Rp600.000-Rp650.000 per rit, pasir di lokasi tambang itu maksimal hanya dihargai Rp500.000 saja.

Penambangan itu sendiri dilakukan secara berpindah-pindah. Hal ini mengakibatkan munculnya sejumlah kubangan di bekas titik tambang.

“Ya pindah-pindah. Ini bekasnya. Muncul kolam-kolam seperti ini. Kalau hujan ya jadi kubangan,” kata salah satu warga yang enggan disebutkan namanya saat ditemui sekitar lokasi penambangan.

Ia menambahkan, sebelum ditambang, lahan itu sebelumnya merupakan lahan tegal dan persawahan. Namun, setelah dikeruk, lahan itu kini tak lagi ditanami.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…